Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ini Doa Mustajab Nabi Ayub untuk Segala Kesulitan!

Doa Ayub
Sumber: https://izdeen.com

Kesulitan adalah keniscayaan hidup. Tidak ada manusia yang tidak tertimpa kesulitan sekecil apapun, sekalipun seorang Nabi. Yang terpenting adalah bagaimana menghadapi kesulitan hidup. Tulisan ini mengulas doa dan cara Nabi Ayub as. menghadapi kesulitan.

Nabi Ayub as. merupakan satu di antara Nabi yang diuji dengan kesulitan yang beragam. Satu dari kesulitannya adalah penyakit kulit yang menahun. Namun, justru karena penyakit ini Nabi Ayub as. selalu memohon dan mendekati Tuhan (menuhan).

Doa Nabi Ayub as. dalam Al-Qur’an

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ ( الانبياۤء/21: 83)

Artinya: (Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Terjemahan Kemenag 2019)

Melalui ayat ini, Nabi Muhammad saw. diperintahkan agar mengingat dan mengingatkan pula atas kisah Nabi Ayub as. Bahwa dengan kesulitan hidup yang kompleks, Nabi Ayub mengadu dan berdoa kepada Allah. Beliau tidak menggerutu, hanya menyampaikan keadaannya.

Doa beliau tidak untuk menyingkirkan kesulitan karena beliau sadar hidup harus disertai ujian dan siap bersabar. Yang terucap adalah sanjungan kepada Allah, “Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.”

Dengan ketulusan doa dan keindahan sabar, Allah memperkenankan permohonannya. Menghilangkan kesulitan serta melimpahkan kepada beliau karunia yang besar.

Zikir Penghilang Segala Kesulitan

Sebagai bagian dari meneladani kisah dan akhlak Nabi Ayub as. Doa beliau dapat menjadi zikir pengingat dan penguat jiwa rohani. Saat sulit melanda, melantunkan doa beliau adalah obat bagi jiwa yang gelisah, sebesar apapun kesulitannya.

Baca Juga  Memaknai Kembali Ramadan: Dari Makna hingga Praktik

Merapalkan zikir Nabi Ayub as. bukan berarti tanpa amal. Doa tersebut dapat mewujud dengan catatan meneladani sikap Beliau. Membaca doa juga diiringi sikap sabar, tawakal dan hanya mengadu kepada Allah. Sikap kejiwaan seperti ini harus menjadi amalan pertama, setelah sudah mantap, maka doa ini menjadi mustajab.

Kenyataan ini menjadi penting, karena banyak yang berpikir bahwa segala doa, amalan dan keutamaan membaca surat hanya berhenti pada ucapan. Padahal, doa dalam ucapan harus sejalan dengan doa dalam tindakan. Dua model doa ini harus sejalan agar doa menjadi mustajab. Wallahu’alam.[]