Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Allah Maha Besar, Bagaimana Memaknainya?

Allah Maha Besar
Sumhttps://www.msf-online.comber:

Selain kalimat tahlil, tahmid, dan tasbih, seorang hamba dianjurkan membaca takbir. Lafalnya adalah Allah (u) Akbar.  Terjemah lafal ini adalah Allah Maha Besar. Dalam salat, kata ini sering dilantunkan pada setiap pergantian gerak kecuali ketika iktidal. Kalimat ini juga menjadi pembuka salat yaitu takbiratulihram.

Allah (u) Akbar secara sederhana bermakna Allah Maha Besar. Makhluk ada yang besar ukurannya. Manusia lebih besar daripada semut. Semut lebih besar daripada sel. Begitupun selanjutnya, setiap makhluk punya ukuran yang berbeda. Mereka dapat dikelompokkan pada besar dan kecil sesuai dengan sudut pandang ukuran. Besarnya makhlukpun akan berbeda sesuai dengan ukuran yang diberlakukan. Namun, apakah besarnya Allah seperti halnya besar makhluk? Lalu, apa makna Allahu (u) Akbar?  Berikut uraiannya.

Makna Allah (u) Akbar

Kata akbar berasal dari bahasa Arab. Kata ini berbentuk tafdhil  atau superlatif, yang biasa diartikan lebih atau paling seperti diungkap pada al-Qawa’id al-Asasiyyah fi al-Lughah al-‘Arabiyyah (2019). Asal kata akbar adalah kabir dengan arti besar. Secara sederhana kata akbar dapat dimaknai lebih besar. Subyek yang akbar berarti memiliki karakteristik kebesaran yang lebih atau paling besar daripada subyek lain yang memiliki sifat besar.

Artikel akbar pada lafal Allah menyeguhkan makna bahwa hanya Allah Yang Maha Besar. Ketika Dia Maha Besar, berarti tidak ada yang lebih besar melebihi besarnya Allah. Bahkan alam semesta dengan segala isinya itu besar, masih dianggap kecil dibandingkan dengan Allah. Sebab, luas dan besarnya alam semesta adalah makhluk-Nya. Sementara makhluk adalah hasil ciptaan-Nya, bukan yang menciptakan. Allah yang menciptakan segala-Nya.

Dari sini dapat dipahami dua hal. Pertama, besar tidaknya makhluk sangat tergantung pada ukuran dan alat ukurnya. Bumi lebih besar daripada bulan karena ukurannya memang lebih besar ketika diukur oleh perhitungan matematika. Hal ini berlaku pula pada benda lain. Intinya, besar tidaknya makhluk, ukurannya adalah yang tampak. Sebab, tidak mungkin disebutkan besar tanpa ada yang tampak.

Baca Juga  Menguatkan Toleransi Melalui Purifikasi Muhammad Abduh

Kedua, lawan dari yang pertama, besarnya Allah tidak empiris. Merasakan besarnya Allah bukan pada ukurannya. Sebab tidak mungkin Allah punya ukuran. Ukuran hanya ada pada makhluk. Mustahil baginya punya ukuran layaknya makhluk.

***

Ketika seseorang membaca Allah (u) Akbar, makna akbar bukan ukuran empiris makhluk. Lafal ini berada dalam ruang kesadaran akan besarnya kekuasaan Allah. Ukurannya adalah rasa keyakinan kepada Allah akan kebesarannya.

Atau kalau dilihat runtut bacaan, kalimat takbir dibaca setelah tasbih dan tahmid. Tasbih menggiring pada penyucian kepada Allah.  Allah tersifati dengan kesempurnaan dan terbebas dari segala kekurangan. Tahmid menampikan diri untuk memuji Allah. Tiada yang paling layak dipuji kecuali diri-Nya. Allah telah memberikan semua kebaikan pada makhluk sehingga pantas untuk dipuji.

Takbir disebut setelah dua kalimat ini. Maknanya adalah pernyataan untuk membesarkan atau mengagungkan Allah setelah menyucikan dan memuji-Nya. Dalam makna membesarkan terdapat penyucian dan pujian. Pujian pun dilantunkan hamba dari menyadari kebesaran-Nya.

Seseorang yang membaca takbir setidaknya menautkan diri pada dua kesadaran. Pertama, tiada yang Maha Besar kecuali Allah. Jika ada makhluk yang besar dan agung pasti tidak dapat mengungguli besar dan agungnya Allah. Kedua, kesadaran bahwa diri manusia itu kecil.  Dirinya tidak ada apa-apanya. Dirinya tidak berarti apa-apa di dunia ini dibandingkan dengan keagungan Allah.

Kapan Takbir Diucapkan

Para ulama memberikan informasi mengenai waktu pengucapan takbir. Abdul Sami’ al-Anis dalam al-Takbir: Mawatinuhu wa Atsaruhu fi al-Tarbiyah al-Imaniyah (2002) menyebutkan beberapa waktu pengucapan takbir.

  1. Ketika melihat hilal. Nabi Saw pernah bertakbir ketika melihat hilal lalu berdoa.
  2. Tanggal 10 Dzulhijah. Nabi Saw mendorong orang berhaji untuk tahlil, takbir, dan tahmid pada tanggal tersebut. Hal itu karena kemuliaan hari tersebut yang penuh keberkahan.
  3. Ketika melaksanakan haji. Takbir disyariatkan dalam haji pada beberapa waktu seperti tawaf dan melempar jumrah.
  4. Ketika mengendarai kendaraan untuk melakukan perjalanan. Nabi Saw apabila naik pada kendaraan berdoa yang di dalamnya mengandung takbir.
  5. Ketika menaiki tempat yang tinggi. Nabi Saw apabila naik pada tempat tinggi, beliau bertakbir. Para sahabat pun disarankan olehnya untuk membaca takbir.
  6. Ketika menyembelih hewan. Nabi Saw mengucapkan takbir ketika menyembelih.
  7. Ketika mendengar berita yang menggembirakan. Seorang muslim disyariatkan untuk bertakbir ketika mendengar kabar baik. Hal ini pernah dijelaskan pada beberapa hadis.
  8. Ketika kebakaran. Nabi Saw bersabda:” Ketika kalian melihat kebakaran bertakbirlah karena takbir akan memadamkannya”
  9. Takbir pada telinga anak yang baru dilahirkan. Azan di telinga kanan dan ikomah di telinga kiri.
Baca Juga  Mengenal Sejarah Nabi melalui karya Al-Mubarakfuri

Takbir merupakan ibadah. Kalimat ini hendaknya diucapkan oleh setiap Muslim. Orang yang mengucapkan takbir akan tenang hati dan jiwanya. Manusia tersebut akan memiliki ketetapan iman selama ia mengagungkan Allah. Selain itu, takbir akan menguatkan hubungannya dengan Allah serta terbuka kasih sayang dari-Nya. Wallahu A’lam.