Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an

MInang
Sumber: Unsplash.com

Abu al-Qasim al-Hasan ibn Habib al-Naisaburi, sebagaimana dikutip al-Suyuti, menegaskan bahwa seseorang tidak berhak berbicara tentang al-Qur’an tanpa bekal pengetahuan kronologi pewahyuan yang memadai.”

Dalam buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal

Wahyu dan Penurunan al-Qur’an pertama kali

Menjelang usianya yang ke 40 tahun, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke Gua Hira’, beberapa kilometer dari utara Makkah. Disana Muhammad, mula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari, bertafakkur.

Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul dihadapannya. Menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surah. Al-Alaq ayat 1-5. Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah terpilih Tuhan sebagai Nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru kepada manusia pada suatu agama.

Setelah wahyu pertama datang. Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad Saw menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira’.

Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya surah al-Muddatstsir ayat 1-7. Dengan turunnya perintah ini, mulailah Rasulullah berdakwah. Dengan sembunyi sembunyi dilingkungan sendiri dan kalangan keluarga serta rekan-rekannya.

Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Nabi

Diawal sejarahnya, al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad Saw dipelihara dengan 2 cara, yaitu; pertama, menyimpannya kedalam “dada manusia” atau menghafalkannya.

Kedua,merekamnya secara tertulis diatas berbagai jenis bahan untuk menulis. Jam’ul Qur’an pada masa nabi artinya pengumpulan wahyu-wahyu yang diterima Nabi melalui kedua cara tersebut.

Jadi setelah menerima wahyu, Nabi lalu menyampaikannya kepada para pengikutnya, yang kemudian menghafalkannya.  Menghafal Qur’an merupakan tujuan utama yang terpenting, sementara perekamannya dalam bentuk tulisan selalu dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada Nabi suatu wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda: “Letakkan ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini dan begitu”.

Setelah hijrah ke Madina, Nabi mempekerjakan sejumlah sekretaris untuk menuliskan wahyu. Ketika Nabi wafat, al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf tunggal.

Baca Juga  Benarkah Al-Qur'an Turun Pada 17 Ramadan ?

Pengumpulan Al-Qur’an Masa Abu Bakr

Pengumpulan pertama al-Qur’an secara tertulis secara resmi baru dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakr. Sebelumnya Al-Qur’an belum terhimpun dalam satu mushaf, sekalipun terdapat fragmen-fragmen wahyu ilahi yang berada dalam pemilikan sejumlah sahabat.

Akibat perang Yamamah, banyak penghafal al-Qur’an yang gugur, Umar bin Khaththab khawatir akan berguguran pula para penghafal yang lain dalam peperangan peperangan lainnya sehingga kemungkinan banyak bagian al-Qur’an yang akan hilang. Umar meminta agar al-Qur’an dikumpulkan, tetapi mendapat penolakan karena pada masa Rasullullah tidak pernah dilakukan.

Namun setelah diberikan alasan untuk menjaga al-Qur’an dan dinilai untuk kebaikan mendapat ijin dari Khalifah Abu Bakr. Dan Zaid ibn Tsabit terpilih untuk mengumpulkan al-Qur’an untuk pertama kalinya. Kemudian Zaid mengumpulkan al-Qur’an yang tertulis diatas pelepah-pelepah kurma, batu-batu tulis, dan yang tersimpan dalam hafalan sahabat sahabat kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf.

Mushaf itu disimpan oleh Abu Bakr sampai wafat, lalu dipegang Umar semasa hidupnya, kemudian disimpan oleh Hafshah  bint Umar.

Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Ustman

Hudzayfah ibn al-Yaman menghadap Ustman. Ia tengah memimpin penduduk Siria dan Irak dalam suatu ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Huzayfah merasa cemas oleh pertengkaran mereka (penduduk Siria dan Irak) tentang bacaan Al-Qur’an.

Maka berkatalah Huzayfah kepada Ustman:”Wahai Amir al-Mu’minin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertikai tentang kitab (Allah), sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nashrani pada masa lalu” kemudian Ustman mengirim utusan kepada Hafshah dengan pesan “Kirimkanlah kepada Kami Shuhuf yang ada ditanganmu, sehingga kami bisa memperbanyak serta disalin ke dalam mushaf-mushaf, dan setelah itu akan dikembalikan kepadamu.”

Hafshah mengirim shuhuf-nya kepada Ustman, yang kemudian memanggil Zaid ibn Tsabit, Abd Allah ibn al-Zubayr, Sa’id ibn Al-‘Ash, dan Abd Al-Rahman ibn Al Harits ibn Hisyam dan memerintahkan untuk menyalin menjadi beberapa mushaf. Mushaf ditulis dengan dialek Quraisy karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka.

Baca Juga  Pameran Perkakas Militer dan Kisah Nabi Daud

Setelah disalin mushaf dikembalikan ke Hafshah. Mushaf salinan dikirim ke setiap provinsi dan selain mushaf yang ditulis itu semua harus dibakar habis.

***

Begitu sekilas sejarah pengumpulan al-Qur’an dari mulai turunnya sampai masa Ustman. Masih ada sejarah panjang yang mengantarkan al-Qur’an sampai ke tangan kita, yang kita pegang dan kita baca setiap hari, untuk kita pelajari. Semakin banyak mempelajari al-Qur’an semakin kita mengerti betapa luar biasanya kitab suci yang menjadi mukjizat Nabi Saw. Wallahu ‘alam bisowab.