Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Keragaman Makna “An-Nur” dalam Al-Qur’an

Sumber: https://quranhq.net

Definisi Cahaya

Cahaya merupakan sebuah sumber kehidupan yang paling penting bagi makhluk hidup dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi sumber tenaga kepada seluruh alam semesta. Seperti halnya, apabila tidak ada sumber kehidupan berupa matahari, maka akan mustahil adanya sebuah kehidupan di alam semesta sampai saat ini. Sumber kehidupan yakni cahaya dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan, dalam prekpestif Al-Quran cahaya dijelaskan di dalamnya lebih bersifat abstrak; cahaya ketuhanan serta kenabian. Sedangkan dalam prespektif sains, cahaya adalah sebuah gelombang elektromagnetik yang bersifat seperti zarah dalam keadaan tertentu.Keragaman makna menjadi menarik untuk dikaji.

Cahaya dalam Al-Qur’an

Dalam prekpestif Al-Qur’an cahaya dijelaskan di dalamnya lebih bersifat abstrak yaitu cahaya ketuhanan serta kenabian. Cahaya ketuhanan atau kenabian di jelaskan dalam konsep cahaya di atas cahaya, dimana dalam pancaran cahaya dari ketuhanan atau kenabian sehingga terwujudnya alam semesta salah satunya yaitu cahaya sebagai penolong kesehatan. Selain itu, dalam al-Qur’an juga dijelaskan tentang benda-benda yang dapat mengeluarkan cahaya dengan sendiri, dalam Al-Qur’an menyebut dengan istilah dhiya’, seperti halnya matahari. Sedangkan kata An-Nuur (cahaya) dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa makna cahaya tersebut bukan mengeluarkan cahaya sendiri tetapi cahaya tersebut ditimbulkan akibat adanya sebuah pantulan benda yang terkena sinar, seperti bulan. Sebagaimana dalam Q.S Yunus [10]: 5 ,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercalmya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.

QS Nuh [71]: 16

Baca Juga  Menelaah Lafal Sami’a dalam Surah Al-Mujadalah ayat 1

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”

Q.S An-Naba [78]: 13,

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

“Dan kami jadikan Pelita yang amat terang (matahari).”

dimana dalam ayat-ayat di atas mendefisinikan bahwa kata Dhiya’ yaitu sinar dan An-Nuur yaitu cahaya.

Cahaya Sebagai Penolong Kesehatan dalam Al-Qur’an

Dalam hal ini terdapat keragaman makna dalam beberapa surat. Pertama, Surat Al-Baqarah [2]: 257.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.”

Surat yang kedua yakni Q.S Fathin ayat 30.

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Surat yang ketiga yakni Q.S Al-An’am ayat 1.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Penafsiran Ayat

Dalam potongan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, terdapat beberapa ayat yang selalu disandingkan dengan ad-dzulumat yang artinya kegelapan. Jika dilihat dari segi relasi makna, kata ad-dzulumat merupakan lawan dari kata An-Nuur. Adapun pendapat beberapa mufasir tentang keragaman makna kata An-Nur dengan konteks sebagai lawan dari kata ad-dzulumat.

  1. Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ad-dzulumat adalah jalan kekufuran dan kesubhatan yang bertentangan dengan agama.
  2. As-Shobuni menafsirkan bahwa An-Nuur merupakan cahaya iman dan petunjuk. Diambil dari konteks ketika Allah ingin menyelamatkan dan menolong orang-orang mukmin, serta menjaga dan mengurus urusan-urusan mereka. Kemudian Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan, kekafiran menuju cahaya iman melalui taufik dan kehendak-Nya.
  3. Az-Zamakhsari menafsirkan kata Adz-Dzulumat sebagai lambang dari kesesatan. An-Nuur sebagai lambang dari petunjuk yang dengan izin Allah; mereka (orang-orang) mukmin mendapat kemudahan untuk melepaskan diri dari belenggu dan penutup (ad-dzulumat).
Baca Juga  Transformasi Mazhab Tafsir di Era Modern

Jadi, Menurut beberapa penafsiran dari ulama-ulama di atas. Disimpulkan bahwa An-Nuur yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan redaksi sebagai lawan dari kata ad-dzulumat mempunyai arti iman, tauhid, ilmu, petunjuk, jalan lurus, atau ketaatan. Sedangkan makna ad-dzulumat adalah sebuah kebodohan, kekafiran, kesesatan, atau kedurhakaan. Pemaknaan kata An-Nur yang disertai dengan kata ad-dzulumat selalu ditandai dengan poses transformasi; cara Allah untuk mengeluarkan sesuatu dari buruk ke sesuatu yang baik.