Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Tidak Percaya Allah?

Percaya
Gambar: republika.co.id

Tidak mempercayai atau mengingkari ternyata bukan masalah yang baru terjadi saat ini. Di zaman Imam Ghazali masih hidup, banyak juga yang tidak percaya itu sehingga di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin beliau mengatakan, “Ketahuilah olehmu bahwa wujud yang paling nyata dan yang paling jelas ialah Allah ta’ala. Ini menyebabkan bahwa mengetahui tentang Allah menjadi pokok pangkal segala pengetahuan dan yang paling dahulu masuk ke dalam pemahaman kita. Dialah yang paling mudah pada akal. Padahal engkau memandang sebaliknya”. Mengapa menjadi demikian?

Allah Itu Nyata dan Kita Harus Percaya

Kita katakan bahwasannya Allah-lah yang paling jelas dan nyata karena ada suatu pengertian yang tidak mudah dipahami apabila tidak dengan perumpamaan. Karena itu percaya terhadap-Nya adalah niscaya. Apabila kita melihat seorang yang berprofesi sebagai penjahit pakaian, kesan pertama yang paling nyaata adalah bahwa orang tersebut hidup. Maka hidupnya, ilmunya, kesanggupannya, iradat kemauannya menjahit, lebih jelas bagi kita daripada sifat yang lain, yang lahir atau yang batin.

Sebab sifatnya yang batin, seperti syahwat, marah atau murka, perangai, sehat dan sakit. Hal tersebut memang tidak dapat diketahui. Beberapa dari sifat lahirnya pun belum tentu kita ketahui dan setengahnya lagi kita ragukan, seperti berapa tinggi badannya, bagaimana sebenarnya warna kulitnya dan lain-lain. Adapun hidupnya, iradat kemauannya, ilmunya, dan keadaan bahwa dia termasuk hewan juga, hal tersebut tentulah jelas bagi kita. Meskipun kita tidak lihat bagaimana hidupnya, qudratnya dan iradatnya tersebut.

 Sifat-sifat itu cepat diketahui, padahal tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Kita tidak mengenal hidupnya, qudratnya, dan iradatnya. Melainkan karena dia menjahit dan bergerak. Apabila kita melihat semua yang ada di alam ini, kita tidak mengenal Allah terhadap sifatnya maka tidak ada selain satu dalil yaitu tentang perbuatan yang dilakukan dengan tangannya. Nyatalah wujud dan ada-nya.

Baca Juga  Mengapa Harus Puasa di Bulan Ramadhan? Renungan Ayat Berpuasa

 Wujud Allah ta’ala, qudrat dan ilmunya seluruh sifatnya dapat disaksikan dengan pasti oleh segala yang kita saksikan dan kita dapat dengan seluruh indra kita, lahir dan batin. Batu, pasir, kayu-kayuan, tumbuh-tumbuhan, gunung, lembah, langit, bumi dan bintang-bintang, lautan, dan daratan, semuanya menjadi saksi pasti wujud Allah ta’ala. Bahkan, saksi yang pertama atas wujud Allah ta’ala adalah diri dan tubuh kita dan sifat-sifat kita, perbolak-balikan hati kita, sekalian tingkah laku kita, gerak serta diam kita.

Alam Semesta Bukti Keberadaan Allah

Yang paling nyata adanya adalah dari diri kita itu ialah napas kita sendiri. Kemudian lima pancaindra yang kita miliki. Kemudian hasil pendapat kita dengan akal dan tinjauan. Tiap sebuah alat pencapai ini memiliki satu capaian, satu kesaksian dan satu dalil.

Semua yang ada di alam ini merupakan saksi-saksi yang berbicara serta dalil atas adanya yang menciptakan atau menjadikan, mengatur, menyusun, dan menggerakkan. Semua menjadi dalil bahwa Allah itu berilmu, berqudrat, bijaksana, dan berhikmah tinggi. Karena itu kita harus percaya. Demikian juga seluruh wujud yang masih dapat dicapai oleh tinjauan akal, semuanya saksi atas keberadaannya.

Oleh karena itu, apabila hidup seorang penulis atau seorang yang memiliki profesi penjahit itu nyata bagi kita, dan saksi atas kenyataan hanya satu saja, yaitu apa yang kita rasakan saat melihat gerak tangannya. Mengapa nyata dengan jelas pada kita sesuatu yang tidak serupa sesuatu yang ada di dalam wujud ini? Baik di dalam batin atau di luar diri kita? Melainkan menjadi saksi atas keberadaannya? Menjadi saksi atas kebesaran dan kemuliaannya.

Akan tetapi seluruh zarrah pada kita ini menyerukan bahwa zarrah terjadi bukan dengan sendirinya. Seluruh yang ada di alam bergerak bukan atas kehendaknya. Mereka bergerak pada yang menjadikan dan menggerakkannya.

Baca Juga  Kontribusi Santri Untuk Kemajuan Ekonomi Negeri

Menyaksikan semua itu, susunan tubuh kita sendiri, susunan tulang, daging, dan urat-urat kita serta tumbuhnya rambut kita, dan beraneka warna persendian kita. Seluruh bagian dari tubuh kita baik lahir maupun batin. Kita tahu bahwa semua itu tidak tersusun dengan kemauan kita sendiri.

Cobalah kita melihat kelelawar. Kelelawar itu hanya dapat melihat di waktu malam saja, sedangkan di siang hari matanya rabun. Dia rabun saat siang hari, bukan karena siang ia tersembunyi atau tertutup. Sangatlah jelas siang sehingga jelasnya tidak dapat ditantang oleh penglihatan kelelawar karena penglihatannya lemah. Kelelawar dapat melihat apabila cahaya itu telah muram dan telah bercampur di antara siang dengan gelap.

Mengapa Tidak Percaya Allah?

Seperti penglihatan kelelawar itulah akal kita sangat lemah atau dhaif. Padahal sinar keindahan ketuhanan sangat gemilang cahayanya. Segala sesuatu diliputi dan dikandung oleh cahaya tersebut tiada yang tersembunyi. Sesuatu yang lain pada umumnya dapat diketahui keberadaannya karena dibandingkan dengan lawannya. Yang umum meliputi wujudnya itu sulit mendapatkannya. Lantas mengapa kita masih sulit percaya?

Layaknya matahari yang sinarnya sampai ke bumi. Kita tahu bahwa matahari memancar ke bumi merupakan suatu sifat terang yang mendatang. Jika cahaya itu tenggelam maka hilanglah cahayanya. Maka seandainya matahari tidak pernah terbenam tentu kita akan menyangka bahwa barang yang kita lihat tidak ada tubuhnya, yang ada hanya warnanya saja seperti hitam, putih dan sebagainya.

Maka dari itu, kita tidak akan mengetahui cahaya jika tidak dapat membandingkan antara terang dan gelap. Kita baru mengenal cahaya setelah matahari terbenam dan semua menjadi gelap. Waktu itulah baru kita ketahui keadaan tubuh yang kita lihat tadi, bahwa sesungguhnya dia ditimpa sinar. Begitulah cahaya yang terang yang dapat dicapai oleh pancaindra kita, baru kita ketahui kenyataannya setelah terang itu tidak ada lagi. Dalam hal itu terdapat kenyataan sesuatu setelah kita dapat membandingkan dengan lawannya. Coba perhatikan, bagaimana kita dapat menggambarkan sesuatu yang belum jelas, meskipun sesuatu itu ada di dalam diri. Sementara kita tidak dapat membandingkan dengan lawannya.

Baca Juga  Tanah Arab Menghijau, Pertanda Apa?

Maka Allah ialah yang paling nyata. Mengetahui Tuhan tidaklah dengan hilangnya. Apabila dia tidak ada niscaya hancur lebur seluruh langit dan bumi. Dengan demikian dapat diketahui perbedaan antara kedua perkara, seperti kita sebutkan tadi. Jika suatu perkara terwujud dengan sendirinya dan suatu perkara terwujud karena yang lain, niscaya ketika mencari dalil, dapatlah dibedakan antara keduanya.

Penutup

Akan tetapi dalil tentang adanya Allah adalah umum pada setiap sesuatu dan berbentuk satu. “Wujud Allah tetap di dalam segala keadaan. Mustahil terdapat dalil adanya Allah karena Allah tidak ada lagi. Maka dari itu, tidaklah heran jika itu menyebabkan tersembunyinya pada penglihatan kita yang silau ini atau pemahaman kita yang terlalu pendek untuk menjangkaunya.” Ringkasan dari penjelasan al-Ghazali.

Penyunting: Bukhari