Eling lan Waspada, itulah kata pepatah Jawa yang harus dipedomani umat manusia. Manusia acap kali lalai, mudah terperdaya dan terbuai oleh sesuatu yang bersifat fana’ (sementara). Mereka sering tidak menyadari bahwa hidup ini adalah persoalan menahan dan mengendalikan diri (mujahadatun nafs). Jika dirunut lebih jauh, keterperdayaan berbarengan dengan ketidaktahuan atau kelengkapan ilmu atas sesuatu tersebut.
Dalam konteks ini, eling lan waspada merupakan bentuk nyata dari manifestasi takwa itu sendiri. Format kewaspadaan ini, sebagaimana dikalamkan Emha Ainun Nadjib, harus terus kita kembangkan sesuai takaran internal dan usikan eksternal. Karena porsi yang tidak pas akan menyeret ke arah deformitas yang justru menyakitkan. Sebagai misal, betapa keterperdayaan memungkinkan seseorang menjadi phobia atau satu bentuk penyakit mental semacam ansietas atau kecemasan.
Karena itu, artikel ini hendak mengulas empat bentuk larangan seseorang untuk terpedaya dalam perspektif Al-Qur’an sebagai berikut.
4 Bentuk Larangan Terperdaya
Syekh Izzuddin bin Abdussalam dalam Maqashidu al-Ri’ayah dalam Bab Fashlu fin Nahyi ‘an al-Girrati menjelaskan makna keterperdayaan:
اَلْغِرَّةُ اعْتِمَادُ عَلَى مَا لاَيَنْبَغِيْ أَنْ يُعْتَمَدَ عَلَيْهِ كَاعْتِمَادِ الْعَالِمِ عَلَى عِلْمِهِ وَالْحَلِيْمِ عَلَى حِلْمِهِ وَالزَّاهِدِ عَلَى زَهَادَتِهِ وَالْعَابِدِ عَلَى عِبَادَتِهِ وَالْعَارِفِ عَلَى مَعْرِفَتِهِ وَهَذَا شِرْكٌ فَإِنَّ الْإِعْتِمَادِ لَيْسَ إِلَّا عَلَى رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذْ لاَ يُنْجِيْ أَحَدًا عَمَلُهُ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَهُ اللهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَقَدْ يَلْتَبِسُ عَلَى الْعَامَّةِ الرَّجَاءُ بِالْغِرَّةِ فَيَجْتَرِئُ عَلَى الْمَعَاصِى اغْتِرَارًا بِسَعَةِ الرَّحْمَةِ وَكَثْرَةِ النِّعْمَةِ وَجَهْلًا بِالْفَرْقِ بَيْنَ الْغُرُوْرِ
Terpedaya/ lalai adalah saat hati bersandar pada sesuatu yang tak layak dijadikan sandaran, seperti ulama yang bersandar pada keilmuannya, orang yang sangat sabar bersandar pada kesabarannya, seorang zahid bersandar pada ibadahnya, seorang arif bersandar pada makrifatnya, dan para pelaku maksiat bersandar pada penangguhan siksa Allah kepada-Nya, serta orang-orang kaya bersandar pada kekayaan mereka.
Semua itu adalah syirik. Bersandar hanyalah pada rahmat Allah, sebab amalan tidak menyelematkan seseorang, kecuali orang yang dilimpahi rahmat dan karunia Allah. Terkadang, bagi masyarakat awam, harapan (al-raja’) menjadi samar oleh lalai/ terpedaya (al-girah). Karenanya, seseorang berani melakukan kemaksiatan karena terperdaya oleh luasnya rahmat Allah, juga tidak tahu perbedaan antara tipuan dan harapan.
Terpedaya Materi
Sudah banyak kejadian (dan mungkin kita sendiri) telah mengalami keterperdayaan secara materi. Tidak banyak orang sukses diamanahi secara materi dan finansial sehingga pada akhirnya harus berakhir tragis dan beberapa sebagian dari mereka harus mendekam dalam penjara dan mengalami kenyataan buruk (su’ul khatimah). Karenanya, dalam hal ini, Alquran mengingatkan kepada kita melalui Surat Al-Munaqifun ayat 9,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (Q.S. al-Munafiqun [63]: 9)
Menafsiri ayat tersebut, Quraish Shihab berpandangan bahwa mereka yang mencintai harta, yaitu istri, anak-anak, keluarga, secara berlebihan tergolong orang munafik. Didahulukannya penyebutan harta, menurut Shihab, karena inilah salah satu yang sangat besar peranannya dalam melengahkan seseorang, dimulai dari berpikir bagaimana memperolehnya, sampai kepada kesibukan memperolehnya lalu berbangga-bangga dengan perolehannya, disertai dengan kesibukan menikmatinya. Anak-anak pun melengahkan jika mencintai mereka melebihi batas kewajaran. Kecintaan kepada anak mendorong seseorang untuk bekerja lebih giat memperoleh harta guna memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka bahkan bercengkerama secara berlebihan dengan anak dapat melengahkan dari tugas-tugas pokok.
Terpedaya Ilmu
Islam memang memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu dan terus belajar sepanjang masa (long life learner). Akan tetapi, Islam tidak pernah menganjurkan agar umatnya bersandar kepada ilmu karena ilmu yang dipunyai sangatlah terbatas. Bahkan, orang yang paling ‘alim pun dilarang bersandar sepenuhnya pada ilmu. Allah swt menyindir mereka yang selalu mengunggulkan dan menyombongkan ilmunya melalui Surat Al-Kahfi ayat 109,
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 109)
***
Para ulama, sebagaimana penafsiran Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, berpendapat bahwa ayat ini turun sebagai komentar atas ucapan sementara orang Yahudi yang menanggapi firman Allah “Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit” (QS. al-fsra’ [17]: 85) dengan menyatakan, “Kami telah diberi Taurat, dan siapa yang diberi Taurat maka dia telah dianugerahi kebajikan yang banyak.”
Dalam riwayat at-Tirmidzi melalui Ibn Abbas ra. dinyatakan bahwa tokoh Yahudi Huyai Ibn Akhthab berkata, “Dalam kitab kamu (al-Qur’an) dikatakan bahwa ‘Siapa yang dianugerahi hikmah maka dia telah dianugerahi kebajikan yang banyak” (QS. al-Baqarah [2]: 269). Kemudian di kali lain dikatakan Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit’. (Sungguh ini sesuatu yang bertentangan).” Maka turunlah ayat ini.
Menurut al-Razi, sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah laut itu sebelum rampung menuliskan kalimat atau ilmu-ilmu Allah. Artinya, seluas-luasnya lautan itu tetap terbatas, sementara ilmu-ilmu Allah adalah lautan tak bertepi dan tak berujung. Ibn ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, habisnya air laut mungkin dapat dinalar, sementara habisnya kalimat Allah itu mustahil. Kalaulah kita menyandarkan diri pada ilmu dan menyangka bahwa ilmu yang diperoleh sudah benar 100%, sungguh salah total. Sandaran terbaik hanya pada Allah. Ilmu adalah wasilah (perantara) untuk memahami qada dan qadar-Nya yang dianugerahkan kepada kita.
Terperdaya reputasi/ popularitas
Malik bin Diyar pernah berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah gila akan popularitas” (Imam al-Sya’rani dalam Tanbih al-Mughtarin). Di era medsos, tidak peduli anak kecil, remaja, dewasa sampai orang tua sebagian dari mereka ingin terkenal, populer dan dikenal oleh banyak orang. Itu tidak salah dalam pandangan awam. Justru yang kurang tepat, jika kepopuleran tersebut mendatangkan bencana bagi dirinya, apalagi tidak dibarengi dengan ilmu.
Maka sungguh beruntung bagi mereka yang tidak terpedaya oleh reputasi, popularitas, dan semacamnya sebagaimana ditegaskan-Nya dalam Q.S. Q.S. Al-Mu’minun [23]: 1-3,
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ
Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 1-3)
Mereka yang tidak tergila-gila akan popularitas itulah orang yang beruntung (muflihun) sebagaimana tersebut dalam ayat di atas. Mereka adalah orang yang meninggalkan sesuatu hal yang tidak berguna. Mendewakan dan memburu popularitas bukanlah akhlak seorang muslim. Bukankah Nabi saw pernah menuturkan, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”.
Imam al-Auza’i pernah berkata,
وَكَانَ الْاَوْزَاعِىْ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ عَلاَمَةُ الْمُنَافِقِ اَنْ يَكُوْنَ كَثِيْرُ الْكَلَامِ وَقَلِيْلُ الْعَمَلِ، وَفِي رِوَايَةٍ: عَلاَمَةُ الْمُنَافِقِ اَنْ يَحْسُدَ النَّاسُ وَيَكُوْنَ فِي قَلْبِهِ الْحِقْدَ
Salah satu tanda orang munafik adalah gemar mengomentari sesuatu/ banyak omong (gemar pencitraan), dan minim aksi nyata. Dalam riwayat yang lain dikatakan, mereka yang suka menghasud, memfitnah, menyebar berita hoax di medsos, serta menaruh dendam di dalam hatinya.
Terperdaya ibadah
Seribu orang yang ahli ibadah itu lebih ringan ketimbang satu orang yang faqih lagi wira’i. Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim, bersenandung dalam syairnya,
تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ، وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً، مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِي بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا، أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ
Belajarlah, karena sesungguhnya ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya. Ilmu itu juga menjadi keutamaan dan tanda bagi setiap yang terpuji. Belajarlah setiap hari, agar ilmu semakin bertambah, serta carilah faedah-faedahnya, kendati harus berenang di lautan keutamaan. Karena sesungguhnya satu orang yang faqih (mengerti, memahami ilmu lalu mengamalkannya), lagi wira’i (menjaga diri dari perkara yang syubhat), itu lebih berat godaannya ketimbang seribu orang yang ahli ibadah.
Nabi saw bersabda,
لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
Artinya: “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).
Terkadang kita menduga bahwasannya karena banyaknya amal kebaikan kita lantas merasa percaya diri akan masuk surga dibanding yang lain. Tentu tidak, semua berkat rahmat dan karunia Allah. Akan tetapi, bukan kemudian lantas kita menyepelekan amal baik, tidak. Justru, mengerjakan kebaikan sangat perlu, namun yang dilarang adalah menyandarkan kepada amal baik itu sendiri.
Dalam konteks ini, mereka yang terlalu ke-PD-an atas kuantitas ibadah, ilmu, materi dan popularitasnya itu sama halnya menyuguhkan keabnormalitasan kepada orang lain sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani,
إِذَا تَكَلَّمَ الْمَرْءُ فِي غَيْرِ فَنِّهِ أَتَى بِالْعَجَائِبِ
Siapa yang berbicara tidak pada bidangnya, maka ia akan menyuguhkan keabnormalitasan – di setiap perkataanya.
Kesimpulan
Syekh Izzuddin bin Abdussalam menuturkan bahwa inti dari semua tipuan adalah ketidaktahuan. Orang-orang kaya terperdaya oleh kekayaan mereka disebabkan ketidaktahuan bahwa kekayaan tersebut adalah ujian dan cobaan baginya. Seorang ahli ibadah atau zahid terpedaya oleh kezuhudannya. Bisa jadi, mereka telah melakukan kemaksiatan kepada Allah karena menyangka bahwa Allah tidak akan menghukum mereka sebab ibadah mereka kepada-Nya dan pemuliaan mereka kepada-Nya.
Terlepas dari semua itu, manusia harus tetap mengimani bahwa separah apapun dosa dan khilaf yang diperbuat, Allah tetaplah Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pengampun. Kata Alla, “Wahai hamba-Ku, janganlah kalian berputus asa dari rahmat-Ku, kan Ku selesaikan urusanmu, Aku ampuni dosa dan khilafmu”, begitulah senandung firmannya dalam Q.S. al-Zumar [39]: 53. Wallahu a’lam.





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.