Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Wasathiyah Al-Islam: Perspektif Al-Quran tentang Moderasi Beragama

Wasathiyah
Gambar: https://himayahfoundation.com/

Moderasi Islam dalam bahasa Arab disebut dengan wasathiyah al Islamiyyah. Wasathiyah adalah ajaran Islam yang membimbing manusia untuk bersikap adil, seimbang, bermanfaat dan proporsional. Sering disebut dengan kata “moderat” merupakan bagian dari dimensi kehidupan. Wasathiyah atau moderasi menjadi wacana saat ini dan wacana Islam. Sebab ia diyakini mampu menjadikan umat Islam unggul dan lebih adil serta signifikan dalam menghadapi peradaban modern di era globalisasi dan revolusi industri, informasi dan komunikasi.

Menurut Quraish Shihab melihat bahwa dalam moderasi (wasathiyah) terdapat pilar-pilar penting yakni; pilar keadilan, pilar keseimbangan dan pilar toleransi. Moderasi dikatakan tidak membenarkan adanya paham-paham radikal dalam agama. Serta tidak mengabaikan isi Al-Quran sebagai landasan hukum primer, sehingga wasathiyah cenderung lebih toleran dan tidak terlalu longgar dalam menafsirkan Islam ajaran. Jika membahas tentang moderasi, para ulama dan sarjana muslim selalu merujuk pada QS. Al-Baqarah: 143

Wasathiyah Islam dalam Al-Quran

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.

Baca Juga  Mengenal M. Quraish Shihab: Sang Maestro Tafsir Nusantara

Pada ayat tersebut ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah umat. Agama Islam sudah pasti moderat, namun umatnya belum tentu. Terkadang umat Islam tidak menerapkan keislamannya dengan benar bahkan bertentangan. Kedua, pada ayat ini Allah menyebutkan kata “menjadikan” yang berarti harus ada upaya dari diri kita agar teraktualisasi suatu kemoderatan. Ketiga pada kata “wasathan” yang berarti moderat/penengah.

Pribadi seseorang yang ingin menerapkan moderasi beragama harus moderat terlebih dahulu sebelum mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama pada orang lain. Cara menerapkan moderasi diantaranya adalah tidak ekstrim kiri atau kanan, menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Tidak menentang perbedaan pandangan, menghindari sikap menghakimi perbedaan dan memandang perbedaan sebagai hal yang positif.

Penerapan Moderasi pada Umat Islam

Penerapan moderasi beragama di kalangan umat Islam merupakan hal yang sangat penting, agar bebas dari segala bentuk ancaman. Implementasi moderasi beragama tertuang dalam lima butir, sebagai berikut:

Pertama, moderasi beragama adalah pemahaman dan pengamalan agama yang menghindari konflik serta mengedepankan semangat persaudaraan dan persatuan umat manusia. Kedua, moderasi beragama menjadi pedoman bagi seluruh elemen masyarakat pada umumnya, dan para pemimpin negara-negara di dunia pada khususnya untuk mempertahankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, persatuan, kesatuan, dan kemanusiaan dalam berbagai aktivitas politik, agama, ekonomi, sosial dan budaya.

Ketiga, ulama, mubaligh dan tokoh agama yang menjadi motor penggerak moderasi beragama harus senantiasa menyampaikan dan menyebarkan risalah Islam yang membawa rahmatan lil alamin dan menjunjung tinggi keragaman budaya, bahasa, dan agama. Kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan bernegara tidak bertentangan dengan hakikat ajaran agama yang bersifat universal.

Keempat adalah mendorong upaya dialog dan musyawarah. Utamanya dialog yang berdasarkan nilai-nilai keadilan, toleransi, kemanusiaan dan anti kekerasan dalam menyelesaikan segala konflik dan perselisihan. Baik yang bersifat sosial, agama, ekonomi maupun politik. Pelaksanaan moderasi yang terakhir merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat Islam sebagai inspirasi peradaban. Untuk membangun perdamaian, kemajuan, kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Baca Juga  Menelaah Lafal Sami’a dalam Surah Al-Mujadalah ayat 1

Cara menerapkan moderasi diantaranya adalah tidak ekstrim kiri atau kanan. Menjadikan agama sebagai pedoman hidup, tidak menentang perbedaan pandangan, menghindari sikap menghakimi perbedaan dan memandang perbedaan sebagai hal yang positif

Penyunting: Bukhari