Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Dzulqarnain Sang Penguasa Barat dan Timur dalam QS. Al-Kahfi

dzulqarnain
Sumber: https://www.republika.co.id/

Al-Qur’an merupakan kalam Allah swt yang terdapat banyak petunjuk, informasi, ilmu pengetahuan, bahkan kisah-kisah yang terkandung pada ayat-ayat al-Qur’an. Salah satu kisah yang tertuang dalam al-Qur’an serta banyak memberikan pelajaran berharga bagi umat manusia adalah kisah Dzulqarnain. Ia adalah seorang tokoh yang bijak lagi beriman kepada Allah swt yang melakukan pengembaraan.

Kisah Dzulqarnain

Kisah Dzulqarnain dijelaskan dalam Q.S al-Kahfi ayat 83 sampai 98, yang menguraikan mengenai dirinya dan perjalanannya. Khususnya perjalanannya menuju barat dan timur yang disebutkan pada ayat 83-91. Terkait dengan siapakah sosoknya, banyak pandangan beragam yang mendefinisikan siapa itu Dzulqarnain karena tidak digambarkan secara langsung. Secara etimologi kata Dzulqarnain (ذو القرنين) terdiri dari dua suku kata yaitu ذو (Dzu) artinya (orang) yang mempunyai dan القرنين (al-Qarnain) yang merupakan bentuk dual (mutsanna) dari kata قرن (qarn) yang secara harfiah berarti: tanduk, kurun, abad, masa dan generasi. Sehingga secara terminologi artinya adalah pemilik dua tanduk yaitu dua kekuasaan yang meliputi timur dan barat. Gambaran akan sosok Dzulqarnain terdapat dalam surat al-Kahfi ayat 83-84 berikut.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا . إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Dalam tafsir al-Azhar, menyebutkan bahwa Allah telah memberikan kepada orang yang bergelar Dzulqarnain kekuasaan yang teguh di muka bumi; yang tidak dapat digoyangkan oleh musuh-musuhnya dan telah mempunyai pemerintahan yang stabil. Terang bahwa beliau adalah seorang kepala perang, penakluk, pahlawan gagah perkasa dan penuh kebijaksanaan. Sayyid Qutub dalam tafsirnya fii dhilal al-qur’an menjelaskan bahwa Allah telah memberi kekuasaannya kepada Dzulqarnain di muka bumi ini. Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan pemerintahan yang tiang-tiangnya sangat kokoh. Allah memudahkan baginya jalan-jalan meraih kekuasaan dan kemenangan serta jalan-jalan membangun dan meraih kenikmatan.  Baginya Allah telah membuka selalu baginya pintu-pintu kekayaan, kemana saja beliau melangkah kaki atau mengatur saat penaklukan semuanya terbuka jalan.

Baca Juga  Kisah Ashab Al-Jannah dalam Surah Al-Qalam Ayat 17-33

Perjalanan Pertama

Kemudian perjalanan pertama Dzulqarnain menuju tempat terbenamnya matahari disebutkan dalam Surat al-Kahfi ayat 85-88 yang berbunyi sebagai berikut.

فَأَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا. قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا. وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا.

Penafsiran Ayat

Dalam tafsir al-Azhar dijelaskan bahwa di dalam banyaknya jalan menuju kemenangan dan kejadian yang terbuka itu. Kemudian disusunnya satu siasat, satu rencana yang kemudian keluar dari kota pemerintahannya dengan tentara yang besar. Dalam perjalanannya Dzulqarnain mengarah ke tempat terbenamnya matahari yaitu disebelah barat. Di ujung perjalanannya di sebelah barat beliau melihat ke ufuk nampaklah matahari seolah terbenam di dalam mata air yang hitam atau ke dalam laut yang tidak diketahui lagi ujungnya. Karena sudah tidak ada lagi daratan, yang tampak hanyalah laut dan bertambah warna laur bercampur merah darah warna cahaya matahari. Diprediksi bahwa laut ini adalah lautan atlantik yang biasa disebut dengan Bahruzh-Zhulumat (laut gelap).

Ketika Dzulqarnain dan bala tentaranya yang besar memasuki negri tersebut tidak ada penduduk yang mengadakan perlawanan. Sehingga dengan ridho dari allah jatuhlah mereka ke dalam wilayah kekuasaannya. Tuhan menyerahkan sepenuhnya kepada Dzulqarnain atas pertimbangan hukum yang akan dilakukannya dalam negri yang telah dikuasainya. Dalam kisahnya Dzulqarnain menetapkan hukum yang sangat adil. Bahwa ketika beliau mendapati rakyatnya yang berbuat zalim yakni melakukan kesyirikan dan ingkar kepada Rabbnya. Maka beliau akan memberikan hukuman setelah menawarkan kepadanya Islam dan menyerahkan kepada allah akan hukuman akhirat yang allah berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim. Dan bagi rakyat yang beriman akan digalakkan lagi imannya dan balasan pahala baginya disisi allah. Dzulqarnain juga sangat menghargai dan tidak akan berbuat aniaya apabila rakyatnya berperilaku jujur, tunduk terhadap perintah juga berbuat amal shalih, berfaedah terhadap diri sendiri ataupun masayakatnya.

Baca Juga  Hikmah Indah Kisah Haji Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an

Penaklukan Negeri

Setelah Dzulqarnain menaklukan negri di sebelah barat maka beliaupun kembali ke pusat kerajaannya dan mengatur rencana yang baru juga menempuh jalan yang baru pula. Maka berangkatlah dengan bala tentaranya menuju jurusan lain yakni ke sebelah timur ke tempat matahari terbit sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Kahfi ayat 89-91 yang berbunyi:

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا. كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا.

Pada perjalannnya kedua menuju tempat matahari terbit disebelah timur sangat berbeda dengan tempat yang telah di dapati di barat yang berupa lautan terbentang luas. Di sebelah timur ini negeri yang berlatar belakang padang pasir yang amat luas dan kering yang sudah sukar untuk ditempuh oleh manusia menjadikan Dzulqarnain dan bala tentaranya terhenti di tempat ini. Sayyid Qutb menjelaskan bahwa tempat itu adalah tempat terbuka yang cahaya mataharinya tidak terhalang oleh dataran tinggi ataupun pepohonan. Dengan gambaran ini beliau lebih condong berpendapat dengan daratan yang berbentuk padang safana dan padang pasir yang luas yang terletak di sekitar pantai Timur Afrika. Di tempat itu dijelaskan bahwa hawa udaranya sangat panas dan dijadikan ketika matahari naik atau terbit tak ada sesuatu yang melindungi mereka.

Kesimpulan

Dapat dimungkinkan bahwa penduduk di sana juga belum mengenal pakaian sehingga tidak terlindung badan mereka dari cahaya matahari. Tidak ada gubuk maupun bangunan yang mampu bertahan menghadapi terik panasnya kobaran matahari. Para mufassir menjelaskan bahwa dengan kondisi yang seperti itu akhirnya penduduknya memilih hidup dalam terowongan, gua dan tempat-tempat tertutup lainnya. Ketika matahari terbit mereka tidak dapat mencari penghidupan dan memulai aktivitas mereka sehingga di waktu malam hari lah mereka baru keluar untuk bekerja mencari penghidupan dan bercocok tanam.

Baca Juga  Strategi Dakwah Qur'ani: Menggunakan Cara Yang Terbaik

Kemudian dengan ridha Allah Dzulqarnain berhasil menaklukan negri tersebut dan beliau bertindak dengan kebijaksanaannya memperlakukan penduduk negri tersebut dengan penuh keadlian. Dijalankanlah hukum yang adil bagi rakyatnya yang melanggar perintah raja atau mengacaukan keamanan masayarakat atau tidak tunduk kepada hukum yang berkuasa maka akan diberikan hukuman yang berat. Sedangkan rakyatnya yang beriman, berjasa juga beramal shaleh dan berbuat baik akan mendapatkan penghargaan yang setimpal. Semua pengaturan hukum yang diterapkan sama persis dengan yang telah diterapkan di negeri barat terbenamnya matahari.

Penyunting: Ahmed Zaranggi