Pemimpin adalah suatu aspek terpenting dalam struktur masyarakat. Ia memiliki otoritas dan pengaruh dalam menyelesaikan atau memberi perubahan zaman. Ia memiliki gaya atau kultur yang khas di setiap kelompok. Leadership merupakan proses pengarahan dan cara memengaruhi seseorang.
Al-Qur’an melukiskan kisah tentang kepemimpinan para nabi dan rasul. Mereka menyampaikan risalah Islam dengan sejuk dan harmonis. Dalam masyarakat beradab, Ibn khaldun pernah mengatakan. Bahwa seorang pemimpin lahir dari konsensus nilai-nilai kearifan lokal yang tidak bisa lepas dari budaya, tradisi di dalam masyarakat itu sendiri. Kezaliman yang terjadi dalam masyarakat adalah bukti ketidakmapanan seorang pemimpin. Pemimpin seperti kepala ular, tubuh dan ekornya akan ikut dengan kepalanya. Apabila tubuh dan ekor berpisah dengan tujuan egoistik, maka ular tidak akan pernah berjalan.
Ayat Kepemimpinan
Namun, kerapkali pemimpin menyalahgunakan otoritasnya untuk memperoleh harta pribadi. Padahal dalam Al-Qur’an sendiri telah tersirat secara eksplisit tentang gambaran wajib manusia sebagai pemimpin.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُون
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah: 30).
Khalifah yang dimaksud di sini adalah Adam. Ia disebut khalifah karena ia ialah pengganti yang sebelumnya datang. Adam disebut khalifah karena ia juga akan digantikan oleh orang lain. Adam merupakan khalifah Allah di bumi untuk menegakkan ketentuan-Nya. Maka dari itu perlunya kita mengetahui dan belajar elemen dasar seorang pemimpin yang pantas dengan nilai- nilai qurani.
1. Seorang Pemimpin adalah Inspirator dan Motivator
Seorang pemimpin sudah selayaknya sebagai wadah untuk aspirasi elemen di bawahnya. Sekaligus pemberi spirit untuk tetap memegang visi dan misi yang dijalankan. Selain itu, pemimpin harus memiliki spiritual yang kuat, untuk memengaruhi seseorang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Nasihat dan evaluasi adalah hal pokok, yang perlu digarisbawahi adalah kultur dalam penyampaian. Seorang pemimpin juga seorang adaptif, dan humble, comfortable (nyaman) untuk membuat anggotanya merefleksikan setiap kegiatan. Dan yang paling penting, seorang pemimpin harus memiliki kompeten dalam bidang khusus. Sebagai pemantik agar anggotanya tetap berkreativitas untuk menyamakan derajat pemimpin tersebut.
2. Seorang Pemimpin harus Moderator dan Fasilitator.
Menjadi pemimpin memiliki tugas berat, tetapi dari sudut pandang lain memang ia diwajibkan menjadi moderator. Maksudnya menjadi penengah ketika problematika melanda dalam kelompok sosialnya, selain itu ia harus bersikap tawasuth terhadap perubahan yang terjadi, ada mahfudhoh arab yang mengatakan
خير الأمور أوسطها
Artinya: “Sebaik baik perkara adalah tengah-tengah.”
Sikap menjadi penengah dan meminimalisir stereotip negatif adalah tugas wajib seorang pemimpin. Selain itu, juga ia juga harus berperan sebagai fasilitator. Seorang yang membantu memahami tujuan bersama dan menyediakan wahana untuk meraih cita-cita yang diinginkan secara kolektif.
3. Seorang Pemimpin harus Visioner dan Eksekutor.
Menjadi seorang pemimpin harus memiliki literature yang luas dalam memandang kacamata dunia, dengan literature tersebut ia akan menjadi seseorang yang visioner, maksudnya ia harus mampu memiliki pandangan ke depan apa yang ia bawa dengan seluruh anggotanya, produktivitasnya menentukan kemajuan ipa dalam menentukan tujuan. Seperti kisah Nabi Muhammad yang berkhalwat menunggu wahyu dari malaikat jibril. Kemudian seorang pemimpin juga harus mengeksekusi visi dan misi. Seperti Firman Allah tentang keangungan nabi dengan segala cerminan untuk contoh tindakan. Nabi Saw. adalah insan yang terbaik, memiliki budi pekerti yang paling luhur, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam/68:4).
Pemimpin juga harus menjadi cerminan untuk dirinya sendiri dan orang lain, apa yang ia visikan dapat berkorelasi dengan yang ia lakukan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menjadikan pandangan baru dalam dunia kepemimpinan.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.