“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, me’reka berkata: “Kami ini telah beriman”, dan apabila mereka telah bersendirian dengan syaitan-syaitan mereka, mereka katakan: “Sesungguhnya kami adalah (tetap) bersama kamu, kami ini hanyalah mengolok-olokkan mereka itu.” (ayat 14)
Inilah kelanjutan dari perangai munafik; bila berhadapan mulutnya manis, bila di belakang lain bicara. Apa sebab jadi begini? Tidak lain adalah karena kelemahan jiwa, sebab itu takut menghadapi kenyataan. Kepada orang-orang yang telah beriman mereka mengaku telah beriman, dan bila bertemu dengan teman-teman mereka yang sama-sama jadi syaitan, atau ketua-ketua yang telah berfikiran sebagai syaitan, mereka takut didakwa, mengapa telah berubah pendiriam.
Mengapa telah ikut-ikut pula seperjalanan dengan orang-orang yang telah sesat itu? Mudah saja mereka menjawab bahwa pendirian mereka tetap, tidak berubah. Mereka itu mencampuri orang-orang yang telah menjadi pengikut Muhammad itu hanya siasat saja, sebagai olok-olok. Namun pendirian yang asli, mempertahankan yang lama tidaklah mau mereka merubahnya. Karena kalau tidak pandai kita menyesuaikan diri tentu akhirnya kita tidak dapat mengetahui rahasia lawan kita.
Beginilah kira-kira susun kata mereka menjawab jika syaitan-syaitan mereka bertanya. Sedang di segala zaman jawaban yang seperti ini, dari orang yang iiwanya telah pecah, hampir sama saja, hanya susunannya berbeda sedikit-sedikit. Mereka merasa telah menang, sebab dapat memperolok-olokkan orang yang beriman. Padahal bagaimana yang sebenarnya?
“Allah lah yang akan memperolok-olok mereka dan akan memperpanjang mereka di dalam kesesatan, mereka resah gelisah.” (ayat 15).
Di ayat 9 tadi dikatakan bahwa mereka mencoba memperdayakan Allah dan orang yang beriman, padahal diri merekalah yang mereka perdayakan sedang mereka tidak merasa. Sekarang mereka mengaku pula bahwa orang-orang yang beriman itu mereka perolok-olokkan, padahal merekalah yang telah diperolok-olokkan Allah, dan mereka pun tidak sadar. Yang mereka perolok-olokkan itu siapa? Ialah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan mempunyai seorang pemimpin besar yang disokong oleh wahyu.
Sandaran mereka yang diperolok-olokkan itu ialah Allah. Orang mempunyai rencana besar, rencana langit. Itulah yang mereka permainkan. Hasilnya bagaimana? Merekalah jadinya yang diperolok-olok Tuhan, dan kesesatan itu diperpanjang, sehingga mereka tidak sadar sama sekali. Mereka menjadi tidak tentu rebah tegak, ke hilir ke mudik tidak menentu, resah gelisah, serba salah, sebab hanya mengambil muka ke sana, menarik hati ke mari.
Ketika engku-engku lebai belajar tafsir al-Quran karangan al-Baidhawi yang telah ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, kalimat “ya’mahun” diartikan hundang hundek mereka itu. Maka bertanyalah penulis “tafsir” ini kepada ayah penulis, Syaikh Doktor Abdul Karim Amrullah apa arti yang tepat dari hundang hundek itu. Beliau menjawab: “Sebagai ulat kena kencing!”. Melonjak ke sana, melonjak ke mari, telah banyak yang dikejarkan, tetapi hati tidak puas, sebab hati kecil yang di dalam itupun masih bersuara terus mengakui bahwa yang dikerjakan itu memang salah, tetapi tidak mempunyai upaya buat mele’ paskan diridari dalamnya. Itulah yang dimaksud dengan Allah memperpanjang mereka di dalam kesesatan.
“Mereka itulah orang’-orang yang telah membeli kesesatan dengan petunjuk.” (pangkal ayat 16).
Artinya, bahwa Nabi saw. telah datang membawakan hudan, petunjuk. Hati kecil mereka sebagai insan yang berakal mengakui bahwa petunjuk Tuhan yang dibawa Nabi itu adalah benar, tidak dapat dibantah. Tetapi karena rayuan hawa nafsu dan perdayaan syaitan-syaitan halus dan syaitan kasar, terjadilah perjuangan batin. Akan ikutilah kepada petunjuk itu atau akan tetap dalam kesesatan? Rupanya menanglah hawa nafsu dan syaitan, kalahlah jiwa murni karena kelemahan diri.
Lalu diadakanlah pertukaran (barter); hudan, petunjuk, diserahkannya kepada orang lain, dan dhalalah, kesesatan, diambilnya buat dirinya. “Sebab itu tidaklah berlaba perniagaan mereka.” Awak sudah payah, resah gelisah siang dan malam “berniaga” pendirian; disangka gelas berlaba, rupanya pokok tua yang termakan. Kalau sekiranya mereka lihatlah wajah mereka dalam kaca pada waktu itu, tentu akan nampaklah kening yang telah mulai berkerut dan muka yang selalu kusut, sebab hati yang selalu gelisah.
Kadang-kadang timbul pertanyaan dalam hati apa hasilnya yang telah aku kerjakan. Usiaku telah habis, tenagaku telah punah, aku halangi kebenaran dalam pertumbuhannya namun dia berkembang juga, dan aku sendiri tidak tentu rebah tegaknya. Orang aku olok-olokkan dan aku cemuhkan, namun dia langsung juga, sedang aku hanya berdiri di tepi jalan. Aku menggonggong laksana anjing menggonggong terhadap kafilah lalu tengah malam, namun gonggongku hilang dalam suasana malam dan kafilah itu jalan terus.
“Dan tidaklah mereka dapat pimpinan” (ujung ayat 16). Bagaimana mereka akan dapat pimpinan? Padahal pimpinan itulah yang mereka tentang selama ini? Padahal Muhammad saw. itulah yang pimpinan. Lain dari itu tidak ada pimpinan lagi. Dan kebenaran hanya satu, di luar kebenaran adalah batil. Kalau mengelak dari pimpinan wahyu, akan mengambil juga pimpinan yang lain, yaitu pimpinan untuk terus sesat. Itulah pimpinan syaitan.
Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura



























Leave a Reply