Al-Qur’an selalu memberikan inspirasi umat Islam. Al-Qur’an selalu memberi cahaya terang bagi yang meyakininya. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menceritakan kepada kita kisah-kisah orang terdahulu dan mensifati kisah tersebut sebagai kisah-kisah terbaik (ahsanul qashash), sebagaimana yang tercantum dalam QS. Yusuf ayat 3.
Al-Qur’an memuat kisah-kisah yang kebenarannya tidak diragukan, yang Allah sampaikan agar manusia berpikir. Kita diperintahkan untuk menceritakan kembali kisah-kisah tersebut agar umat mengambil pelajaran. Kisah dalam Al-Qur’an berfungsi memberi hiburan, ketabahan, keteguhan hati, dan kesabaran dalam berjuang. Istilah “qashash” (kisah) merujuk pada bagian Al-Qur’an yang memuat peristiwa masa lampau, baik kisah baik maupun kisah buruk, disebutkan berulang atau hanya sekali. Secara umum, kisah-kisah ini bertujuan memberi informasi agar manusia menjadi lebih bijaksana dan dapat bercermin dalam meningkatkan keimanan.[1]
Pengertian Qashash Al-Qur’an
Secara bahasa, kata qashash adalah bentuk jamak dari qishshah yang berarti tatabbu’ al-atsar (mengikuti atau menelusuri jejak masa lalu). Secara etimologis, al-qashash bermakna urusan, berita, perbuatan, atau keadaan. Menurut Muhammad Ismail Ibrahim, qishshah berarti hikayat atau cerita. Kata al-qashash juga merupakan bentuk masdar, seperti dalam QS. Al-Kahfi: 64 yang menunjukkan makna menelusuri jejak. Hal serupa terlihat dalam QS. Yusuf: 111 yang menegaskan bahwa kisah-kisah itu mengandung pelajaran bagi orang yang berakal.[2]
Secara istilah, qashash Al-Qur’an ialah ilmu yang membahas kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menceritakan keadaan-keadaan umat dahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Adapun Manna Khalil al-Qaththan mendefinisikannya sebagai ‘pemberitaan Al-Qur’an tentang hal keadaan umat yang telah dilalui, nubuwat (kenabian) yang terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.’ Selain itu, Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri, dan peninggalan atau jejak setiap umat.[3]
Macam-Macam Qashash Al-Qur’an
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dapat dibagi dalam beberapa tinjauan, yaitu:[4]
a. Ditinjau dari Segi Waktu
Pertama, kisah al-ghuyub al-mādiyah adalah kisah ghaib masa lalu yang tidak dapat dijangkau panca indra. Misalnya, penciptaan alam semesta dalam QS. Al-Furqan: 59 dan penciptaan Nabi Adam. Begitu juga dengan perintah sujud para malaikat dalam QS. Al-A’raf: 11.
Kedua, kisah al-ghuyub al-hāḍirah adalah kisah gaib yang masih berlangsung hingga kini. Misalnya, turunnya malaikat pada malam lailatulqadar (QS. Al-Qadr: 1–5) dan kisah makhluk ghaib, seperti jin dan iblis, ketika diturunkan dari surga namun meminta penangguhan (QS. Al-A’raf: 13–14).
Kisah al-ghuyub al-mustaqbalah, yaitu kisah gaib tentang peristiwa masa depan yang belum terjadi saat Al-Qur’an diturunkan. Contohnya ialah kabar kemenangan Romawi atas Persia dalam QS. Ar-Rum: 1–4.
b. Ditinjau dari Segi Materi
Pertama, kisah yang memuat perjalanan dakwah para rasul, mukjizat mereka, serta respons para penentang dan pengikutnya. Contohnya kisah para nabi, seperti Nabi Ibrahim yang diselamatkan dari api dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 69.
Kedua, kisah yang berkaitan dengan peristiwa pada masa Rasulullah Saw., seperti kekalahan umat Islam di Perang Uhud dalam QS. Ali-Imran: 165 yang terjadi akibat kesalahan mereka sendiri.
c. Ditinjau dari Segi Pelaku
Pertama, kisah yang membahas manusia sebagai tokoh utama, seperti para nabi, keluarga Imran, dan Maryam. Contohnya terdapat dalam QS. Al-Qashash: 38 tentang Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan, memerintahkan pembangunan bangunan tinggi, dan menuduh Musa sebagai pendusta.
Kedua, kisah yang berkaitan dengan malaikat sebagai pelaku, seperti kedatangan mereka kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Luth dalam QS. Hud: 69–70 untuk membawa kabar gembira dan menjelaskan misi mereka kepada kaum Luth.
***
Ketiga, kisah yang berkaitan dengan jin sebagai pelaku, seperti pada masa Nabi Sulaiman dalam QS. Saba’ [34]: 12, ketika angin ditundukkan baginya dan para jin bekerja di bawah perintahnya dengan izin Allah.
Keempat, kisah yang berkaitan dengan binatang sebagai pelaku, seperti semut dan burung Hudhud pada masa Nabi Sulaiman dalam QS. An-Naml: 18–20, ketika semut memperingatkan kaumnya dan Sulaiman mencari Hudhud yang tidak hadir.
d. Ditinjau dari Jenisnya
Pertama, kisah sejarah (al-qishah at-tārīkhiyyah) adalah kisah yang memuat peristiwa-peristiwa bersejarah, termasuk sejarah para nabi dan rasul.
Kedua, kisah at-tamtsīliyyah, yaitu kisah perumpamaan dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan suatu makna, seperti perumpamaan iman dengan pohon yang baik dalam QS. Ibrahim: 24–25.
e. Ditinjau dari Segi Panjang Pendeknya
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dilihat dari Panjang pendeknya terbagi menjadi tiga, yaitu:
Pertama, kisah panjang. Contohnya adalah kisah Nabi Yusuf dalam QS. Yusuf yang menceritakan perjalanan hidupnya sejak kecil hingga dewasa dan berkuasa.
Kedua, kisah sedang, yaitu kisah-kisah yang tidak terlalu panjang maupun pendek. Contohnya adalah kisah Maryam dalam QS. Maryam, Ashabul Kahfi dalam QS. Al-Kahfi, dan kisah Nabi Adam dalam QS. Al-Baqarah serta QS. Thaha.
Ketiga, kisah pendek, yaitu kisah yang disampaikan dalam kurang dari sepuluh ayat, seperti kisah Nabi Hud dan Nabi Luth dalam QS. Al-A’raf.
Karakteristik Qashash Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak menyampaikan berbagai peristiwa secara runtut atau kronologis, kisah-kisahnya juga sering dipaparkan dengan panjang lebar. Sebagian kisah diulang di beberapa tempat, bahkan terkadang disajikan dengan bentuk berbeda, ada yang didahulukan pada satu surah namun diakhirkan pada surah lain. Ada pula kisah yang disampaikan secara singkat, sementara di bagian lain dijelaskan lebih detail. Pola penyajian seperti ini memunculkan perdebatan antara pihak yang meyakini dan meragukan Al-Qur’an. Mereka yang meragukannya kerap mempertanyakan alasan kisah-kisah tersebut tidak disusun secara kronologis dan sistematis agar lebih mudah dipahami, karena menurut mereka cara itu dianggap kurang efektif dan efisien.[5]
Faedah dan Hikmah Pengulangan Qashash Al-Qur’an
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an memiliki banyak faedah, di antaranya: 1) meluruskan pendapat ahli kitab yang menyembunyikan kebenaran, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali-Imran [3]: 93. 2) Meneguhkan hati Rasulullah dan kaum mukmin tentang kemenangan kebenaran. 3) Membuktikan kebenaran dakwah Nabi Muhammad melalui berita umat terdahulu. 4) Menanamkan akhlak mulia; serta 5) Membantu memahami metode dakwah para nabi, seperti dakwah Musa dan Harun kepada Fir’aun dalam QS. Thaha [20]: 42–44.[6]
Al-Qur’an juga mengandung pengulangan kisah yang disajikan dengan bentuk, urutan, dan panjang uraian yang berbeda-beda sesuai konteks. Pengulangan tersebut bukan tanpa hikmah, melainkan memiliki berbagai fungsi dan misi.[7] Beberapa hikmah pengulangan qashash Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
- Menguatkan kesadaran terhadap substansi kisah.
- Menunjukkan kemukjizatan dan keindahan balaghah Al-Qur’an.
- Memudahkan pemahaman umat Islam dengan latar belakang dan tingkat pemahaman yang beragam.
- Membantu para sahabat yang baru masuk Islam memahami ajaran.
- Memudahkan orang yang belum menghafal seluruh Al-Qur’an.
- Menyampaikan pesan dan pelajaran sesuai dengan berbagai problematika yang dihadapi umat.
Dengan demikian, meskipun kisah-kisah tersebut tampak berulang, setiap penyampaiannya mengandung tujuan, makna, dan hikmah yang berbeda.
Daftar Pustaka
[1] Shalah Alkhalidy, Kisah-kisah Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), 15.
[2] Ahmad Maimun, Ilmu Tafsir (Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, 2020), 57-58.
[3] H. Moch. Tolchah, Aneka Pengkajian Studi Al-Qur’an (Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2016), 210.
[4] Ahmad Maimun, Ilmu Tafsir, 58- 63.
[5] Muhammad Chırzın, al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa, 1989), 11.
[6] Ahmad Maimun, Ilmu Tafsir, 64-65.
[7] Nur Faizin, 10 Tema Kontroversial ‘Ulumul Qur’an, (JawaTimur : Azhar Risalah, 2011), 169-170.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.