Sejak era Yunani, para filsuf selalu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan agama menjadi sebuah kolaborasi yang utuh. Di sisi lain, Al-Qur’an merupakan pedoman yang menguatkan keimanan dan selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan, serta mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dan memperhatikan segala sesuatu di alam semesta beserta isinya.[1] Berbicara tentang alam semesta, seringkali kita membahas mengenai salah satu unsur di bumi yang “katanya” diturunkan dari langit, yaitu besi.
Besi adalah salah satu logam keras yang banyak manfaatnya bagi manusia. Logam ini digunakan dalam berbagai industri, mulai dari konstruksi bangunan, pembuatan alat-alat rumah tangga, hingga kendaraan. Kekuatan dan daya tahannya menjadikannya pilihan utama untuk struktur yang memerlukan ketahanan tinggi.[2] Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan berbagai kebermanfaatan besi, pembahasan mengenai integrasi antara ilmu pengetahuan (sains) dan Al-Qur’an terkait besi menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Pengertian Besi dalam Perspektif Sains
Besi merupakan salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hampir setiap tempat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, besi mempunyai pengertian logam yang keras dan kuat serta banyak manfaatnya.[3] Besi adalah logam mineral yang tidak tembus pandang serta bisa menjadi penghantar panas dan arus listrik.
Dalam ilmu Sains, besi merupakan unsur kimia dengan simbol “Fe” (ferrum) dan nomor atom 26 yang merupakan logam dalam deret transisi pertama. “Fe” adalah unsur paling umum di muka bumi berdasarkan massa yang membentuk sebagian besar bagian dari dalam dan luar bumi. Unsur terbesar keempat pada kerak bumi adalah besi setelah oksigen, silikon, dan alumunium. Kelimpahannya dalam planet berbatu, seperti bumi, disebabkan karena melimpahnya produksi akibat reaksi 56, yaitu reaksi fusi nuklir terakhir yang bersifat eksoternal.[4]
Besi merupakan salah satu bagian dari deret logam transisi tersebut, sekaligus logam struktural utama dan logam aloi penting di manufaktur baja (V, Cr, Mn, Co, Ni, Mo, W). Selanjutnya, besi juga merupakan logam yang mudah mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh proses elektrokimia. Kejadian ini biasa disebut dengan korosi. Korosi dapat ditemukan, misalnya, pada besi maupun noda pada perak yang mengakibatkan kerusakan parah pada suatu produk, seperti bangunan, jembatan, kapal, dan mobil. Dalam diskursus kimia, proses korosi dapat dirumuskan sebagai berikut: Fe (s) Fe2+ (aq) + 2e.[5]
Besi dalam Perspektif Al-Qur’an
Dalam bahasa Arab, besi disebut dengan ‘al-hadid’. Al-Hadid sendiri adalah nama surah ke 57 dalam Al-Qur’an yang tergolong surah madaniah dan terdiri atas 29 ayat. Ayat 25 surat tersebut adalah salah satu ayat yang secara eksplistit menyebutkan diksi ‘besi’.
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Mengutip Tafsir al-Mishbah karya Muhammad Quraish Shihab, ayat ini menggunakan redaksi أَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ yang mempunyai makna intrinsik: “Kami turunkan besi”. Kata أَنْزَلْنَا digunakan juga oleh Al-Qur’an dalam arti menciptakan atau menampakkan sesuatu yang baru atau tadinya tidak tampak.[6]
Berdasarkan suatu riset, ayat ini juga menjelaskan tentang besi mempunyai kekuatan yang dapat membahayakan ataupun menguntungkan bagi manusia. Bukti paling kuat tentang hal ini adalah bahwa lempengan besi mempunyai keistimewaan dalam bertahan menghadapi panas, tarikan, kerusakan, bahkan menampung daya magnet.[7] Oleh karena itu, besi adalah logam paling cocok untuk bahan senjata dan peralatan perang. Bahkan, besi merupakan bahan baku berbagai macam industri berat dan ringan yang dapat menunjang kemajuan peradaban.
Relevansi Penciptaan Besi dalam Al-Qur’an dan Kajian Sains
Merujuk pada pembahasan di sub-pembahasan kedua, penggunaan kata أَنْزَلْنَا dalam ayat tersebut secara harfiah bermakna “diturunkan”. Dengan demikian, secara tidak langsung, Al-Qur’an menjelaskan bahwa besi pada dasarnya diciptakan untuk memberikan manfaat bagi umat manusia. Dengan menerjemahkan kata ini secara harfiah, kita dapat menyimpulkan bahwa besi merupakan benda yang turun dari langit.
Surat al-Hadid: 25 menjelaskan bahwa Allah menciptakan besi yang mempunyai berbagai manfaat untuk manusia dan mempunyai kekuatan yang besar. Ayat ini pula mengungkapkan bahwa besi yang ada di bumi berasal dari langit. Hal ini diperkuat dengan salah satu penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa ketika meteor jatuh ke bumi dan dianalisis, ditemukan bahwa unsur yang terkandung di dalamnya mencakup batuan dan besi yang dihaluskan yang mempunyai kesamaan dengan yang terdapat di bumi. Temuan ini mendukung pandangan bahwa besi bukanlah unsur yang berasal dari bumi, melainkan berasal dari luar angkasa.[8]
Selain itu, penelitian yang dilakukan menjelang akhir abad ke-20 mengungkapkan bahwa bintang-bintang di langit mengalami berbagai fase dalam kehidupannya. Salah satunya adalah fase jatuhnya meteor yang memasuki atmosfer bumi. Penemuan unsur serupa antara meteor yang mencapai bumi dengan unsur kimia yang ada di bumi semakin menegaskan kebenaran Al-Qur’an mengenai turunnya besi dari langit. Saat meteor diteliti, ditemukan bahwa mereka mengandung besi dan batuan yang telah dihaluskan.[9]
Dengan demikian, surat Al-Hadid ayat 25 dapat dianggap sebagai bukti ilmiah yang mendukung kebenaran bahwa besi diturunkan dari langit, sejalan dengan temuan-temuan dalam penelitian sains. Fenomena ini telah menjadi fokus perhatian ilmuwan selama beberapa periode terakhir, namun kenyataanya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an sejak beberapa abad yang lalu.
Catatan Kaki
[1] Mulyadi Kartanegara, Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik (Bandung: Mizan Press, 2005), 94.
[2] Zaghloul El Naggar, Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an, Terj. Abdullah Mishbah (Jakarta: Zaman Media, 2006), 172.
[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016), 192.
[4] Raymond Chang, Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti, Terj. Muhammad Abdulkadir (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), 284.
[5] Yayan Sunarya, dkk, Mudah dan Aktif Belajar Kimia Untuk Kelas XII (Jakarta: PT Grafindo Media Pratama, ), 50.
[6] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 69-72.
[7] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 13 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 453.
[8] Bayong Tjasyono, Ilmu Kebumian dan Antariksa (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 220.
[9] Hendra Amijaya, Pengantar Ilmu Kebumian (Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi UGM, 2010), 32.35.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.