Relasi kita dan al-Fatihah telah demikian dekat. Bahkan lebih dekat dari yang kita bayangkan. Bagaimana tidak, dalam salat lima waktu, kita pasti selalu membacanya. Namun hal inilah yang barangkali membuat kita kehilangan keintiman dengannya. Kita sering melantunkan dan melafazkannya. Namun penghayatan atasnya sangat kering.
Padahal kedudukan surah ini sangat sentral dan vital dalam Al-Qur’an. Ia dijuluki sebagai fātihatul kitāb(pembuka kitab) dan ummul kitāb (induk kitab). Julukan pertama menempatkannya sebagai surah pertama atau pembuka dari seluruh surah dalam Al-Qur’an. Sementara julukan kedua menjadikannya sebagai surah yang mengandung intisari Al-Qur’an. Dengan bahasa lain, jika keseluruhan ajaran dalam Al-Qur’an ingin diperas, maka cukuplah Al-Fatihah sebagai bacaan.
Izza Rohman punya penjelasan yang menarik soal dua julukan tersebut. Julukan yang pertama, fātihatul kitāb, menurutnya tidak sekedar bermakna pembuka. Lebih dari itu, karena posisinya sebagai pembuka dan bersifat ringkas, maka seorang yang membaca Al-Qur’an hendaklah melanjutkannya dengan surah-surah selanjutnya. Karena di sana uraian yang rinci atas al-Fatihah ditemukan.
Sementara julukan kedua, ummul kitāb, meniscayakan pembacaan kembali atas al-Fatihah. Dengan bahasa lain, setalah seseorang selesai membaca surah-surah lain dalam Al-Qur’an, ia hendaknya kembali pada al-Fatihah. Niscaya ia akan menemukan bahwa uraian di surah lain telah disinggung secara general (mujmal) dalam al-Fatihah. Di sini seorang pembaca dituntut untuk menghubungkan satu surah dalam Al-Qur’an dengan al-Fatihah. Terutama karena posisinya sebagai induk kitab.[1]
Namun bagian paling menarik dari uraian Izza atas al-Fatihah adalah saat ia menjadikannya sebagai kunci meraih keberkahan dalam hidup. Baginya setiap ayat dalam al-Fatihah merupakan ajaran penting dalam menjalani dan memenangkan hidup. Ia menguraikannya dari ayat pertama hingga ayat ketujuh, yang dalam istilahnya disebut sebagai tujuh pintu keberkahan hidup. Uraiannya pada setiap ayat sangat reflektif dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Dalam perdebatan soal apakah bismillah terhitung sebagai ayat atau tidak, ia cenderung pada pendapat pertama. Karena itulah ia menjadikannya sebagai pintu pertama meraih keberkahan hidup.
Setiap ayat dalam al-Fatihah, bagi Izza, dapat menjadi paradigma tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani hari-harinya. Ayat pertama dari al-Fatihah, yakni bismillāhir rahmānir rahīm, jika dimaknai dengan saksama, akan melahirkan satu ikrar dalam diri setiap muslim. Yakni bahwa setiap gerak dan langkahnya adalah berkat Allah. Mengucap basmalah dalam memulai setiap kegiatan adalah bagian dari ikrar ini. Karena tanpa nikmat dan karunia dari Allah, manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa.
Menggunakan basmalah sebagai permulaan aktivitas dipraktikkan sejak awal kelahiran Islam. Hal ini terlihat dari tindakan Nabi yang dalam setiap dokumen resminya, baik pada Raja Heraklius, penguasa kekaisaran Bizantium, ataupun draf awal Perjanjian Hudaibiyah, juga menggunakan kalimat basmalah sebagai pembuka.[2] Semua ini dilakukan dengan kesadaran dan pengakuan total atas keberadaan Allah sekaligus upaya pengharapan agar setiap usaha yang dilakukan mendapat ridha serta hasil yang terbaik dari Allah. Hal ini sejalan dengan pendapat yang menyebut al-Fatihah dapat membebaskan seorang dari beragam kesulitan dan kesusahan.[3]
Sementara ayat kedua dari surah al-Fatihah adalah alhamdulillahi rabbil ‘ālamin yang berarti segala puji syukur hanya kepada Allah. Bagian ini juga mendidik kita untuk senantiasa bersyukur dan memuji Allah. Pujian ini merupakan hal yang penting. Sebab pujian terhadap Allah akan menambah syukur dan syukur akan menambah nikmat. Pujian ini juga sekaligus menjadi ikrar bahwa setiap yang didapatkan manusia hakikatnya berasal dari Allah. Pada bagian ini juga dijelaskan bahwa alam bukanlah fokus, namun sebatas lokus. Syukur manusia tidak boleh tertuju pada alam. Sebab ia hanyalah tanda (‘alāmah) dari kebaikan Allah.[4]
Ayat ketiga mengandung pelajaran yang tidak kalah menarik. Ar-rahmān dan ar-rahīm menjadi kata kunci di sini. Melalui ayat ini, Izza meminta agar manusia senantiasa menyadari kasih dan sayang Tuhan. Kasih sayang Allah lah yang membuat tumbuhan-tumbuhan segar diciptakan bagi kehidupan manusia. Kebaikan-Nya jugalah yang membuat manusia tidak hanya diciptakan tapi juga dibaguskan dalam penciptaannya.[5] Sikap rahmān Allah meliputi segala mahluk dan bersifat universal. Tidak peduli apakah ia muslim atau non-muslim, baik atau jahat. Hal ini yang membedakannya dengan rahīm yang hanya ditujukan pada mereka yang menempuh jalan yang telah disediakan oleh Allah.[6]
Sementara ayat keempat berbicara tentang kekuasaan Allah atas hari akhir. Ayat ini ingin menghadirkan kesadaran di antara manusia agar lebih hati-hati berjalan di muka bumi. Sebab kelak, setiap amal yang dilakukannya, akan mendapatkan balasan yang adil. Orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan akan mendapatkan surga dan aneka kenikmatan. Begitupun sebaliknya. Dasar dari pernyataan ini dapat ditemukan dalam surah al-Hajj 56.[7] Al-Ghazali termasuk yang berpendapat bahwa al-Fatihah dengan segala yang dikandungnya dapat menjadi kunci yang mengantarkan seorang muslim masuk ke dalam surga.[8]
Ayat selanjutnya, yakni ayat kelima, menayangkan sikap yang seharusnya dijalankan seorang muslim. Yakni menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. Makna ayat ini adalah kebergantungan dan keberserahan diri pada Allah. Penegasan lain yang juga ditampilkan adalah satu-satunya dan mutlak tempat kita bergantung hanyalah Allah. Sementara yang lain, khususnya kepada sesama, adalah kebergantungan yang rapuh.[9]
Ayat keenam berbicara tentang pentingnya memohon kepada Allah agar diberikan jalan yang lurus. Sebab Allah adalah sebaik-baik pemandu bagi kita dalam mengarungi kehidupan ini. Di sisi lain bagian ayat ini ingin agar manusia menyadari ketidakberdayaannya dan membentuknya menjadi manusia yang rendah hati. Sikap rendah hati ini penting agar manusia terbebas dari sikap sombong dan angkuh.[10] Perasaan angkuh dan merasa tinggi adalah penyakit yang berbahaya. Sebab ia akan membuat hati keras dan menutup diri dari kebenaran orang lain.[11]
Adapun ayat ketujuh, yakni ayat yang terakhir menjadi pembahasan kita, adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya. Ayat ini membahas tentang apakah jalan yang lurus itu? Pertanyaan ini penting agar jangan sampai kita masuk pada jalan yang Allah murkai, yakni jalan-jalan yang dilalui orang sesat. Kita harus memastikan bahwa jalan yang kita lalui adalah jalan-jalan yang telah dilalui oleh para nabi, shiddiq, syuhada, dan orang-orang saleh.[12] Yakni mereka yang mengenal Allah, menaati aturan-Nya dan merasakan lezat-Nya keimanan.
[1] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah: Tujuh Pintu Keberkahan dalam Hidup. Jakarta Selatan: Qaf, 2024, h. 16
[2] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 39
[3] Jalaluddin Rakhmat. Tafsir Sufi Al-Fatihah. Bandung: Mizan, 2012, h. 75
[4] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 74-75
[5] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 96-97
[6] Haidar Bagir. Sang Belas Kasih. Bandung: Mizan, 2020, h. 21
[7] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 105
[8] Imam Al-Ghazali. Jawāhirul Qur’ān: Selami Samudra Al-Qur’an dan Temukan Mutiaranya. Jakarta Selatan: Qaf, 2019, h. 108
[9] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 121-122
[10] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 131
[11] Imam Al-Ghazali. Minhajul Abdidin: Pedoman Ahli Ibadah Menuju Rabbnya. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2021, h. 124
[12] Izza Rohman. Memahami Surah al-Fatihah, h. 151




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.