Dalam sejarah yang panjang, sejak berakhirnya perang dingin disusul dengan runtuhnya komunisme-sosialisme, Uni Soviet beserta negara-negara sejawatnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dari setiap sudut kehidupan, logika dan budaya kapitalisme selalu menghadirkan diri dalam menggerakkan akitivitas. Terkhusus dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Kapitalisme sebagaimana yang sering kita simpulkan ialah paham dimana suatu modal maupun segala sesuatu itu dihargai dan diukur dengan uang. Meskipun banyak kritikan mengenai sistem kapitalis, tidak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme sudah menjamur dalam kehidupan perekonomian global. Karena pada sisi yang lain, sistem kapitalisme sudah dianggap sebagai suatu sistem yang menyelamatkan perekonomian global. Agar manusia cepat mencapai kesejahteraan.
Namun sayangnya, sistem kapitalisme tumbuh dan berkembang dengan situasi yang tidak memperhatikan adanya suatu tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Untuk itu, dalam tulisan ini akan dijawab pertanyaan seputaran kapitalisme beserta intrik-intriknya. Kemudian menariknya ke dalam perspektif al-Qur’an.
Gambaran Umum Mengenai Kapitalisme
Kapitalisme berasal dari bahasa inggris capitalism, dalam bahasa Arab dikenal dengan ar-ra‘sulmaliya. Capital berarti modal, modal yang dimaksud ialah alat produksi seperti: tanah maupun uang. Dan kata isme berarti suatu paham maupun ajaran. Jadi, arti kapitalisme itu sendiri ialah suatu ajaran atau paham mengenai modal atau segala sesuatu dihargai dan diukur dengan uang dan motivasi penganut sistem ini ialah semata-mata hanya untung mencapai keuntungan sebanyak-banyaknya.
Kita dapat melihat banyak kasus di sekitar yang menjadi pola dan watak dasar dari kapitalisme. Seperti halnya eksploitasi, dengan melakukan pengerukan secara besar-besaran terhadap sumber daya alam hingga sumber daya manusia. Kita dapat melihat bagaimana oknum berlomba-lomba menggundulkan maupun membakar hutan. Hingga memaksa para buruh bekerja dengan gaji yang tidak setimpal demi kepentingan dan keuntungan pribadi.
Di samping itu, pada awal merebaknya covid-19 di Indonesia, juga sudah banyak para oknum penjual yang menumpukkan masker maupun vitamin dan obatan lainnya. Demi mendapatkan harga jual yang lebih mahal. Dan banyak lagi kasus yang menggambarkan watak dan pola kapitalisme dalam menghalalkan segala cara.
Kritik Al-Qur’an Terhadap Kapitalisme
Ada banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan dan mengarah kepada sistem kapitalisme, Namun pada tulisan ini penulis hanya mengambil beberapa potong ayat saja. Di antaranya pada surah Al-Maidah ayat 120:
“Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya: dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (al-Ma’idah/5: 120)
Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menyatakan bahwa Allah menguasai dan memiliki bumi dan langit. Karena langit dan bumi mencakup segala yang ada, seperti matahari, bulan, bintang, udara, awan, air, tanah, tumbuhan, hewan dan manusia. Dan semuanya itu dibawah kekuasaan dan milik Allah. (Asy-Sya’rawi, Juz 1, h, 2417)
Konsekuensi yang kita tangkap dari ayat dan tafsir diatas ialah manusia bukan hakikat pemilik dari seluruh alam dan jagat raya ini. Manusia hanya diberi mandat harta sebagai suatu titipan, hak memanfaatkan, dimilikinya pun terbatas yaitu selama hidup di dunia ini. Setelah meninggal, bukan lagi haknya, melainkan hak ahli warisnya.
Berbeda dengan kapitalisme, mereka berpendirian bahwa alam dan seluruh sarana yang ada didalamnya, adalah hak manusia, individu dan perorangan. Hanya mereka yang akan menentukan miliknya, kalau memang alam ini dikelola dengan baik, mereka bebas menggunakan dan menanfaatkannya. Maka dengan pemikiran semacam ini, mereka tidak memperdulikan masyarakat lain yang terdampak akibat kekuasaannya dalam meng-uang-kan segala sesuatu yang dianggap miliknya.
Solusi Al-Quran
Seperti yang tertera dalam surah al-Hasyr ayat 7
“Harta rampasan (fai’) dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”. (al-Hasyr/59: 7)
Dalam sistem ekonomi Islam, penumpukkan kekayaan yang dilakukan oleh kaum kapitalis itu dihindarkan. Maka, adanya anjuran sedekah dan wajib zakat turut menentang dari sifat tamak dengan menumpukkan kekayaan hanya untuk diri sendiri. Sistem ekonomi Islam merupakan suatu sistem yang adil dan seksama serta berupaya dalam menjamin kekayaan agar tidak terkumpul hanya kepada satu kelompok saja, namun tersebar juga kepada masyarakat.
Lain halnya dengan kapitalis, sangat bertentangan dengan semangat dan roh ayat diatas. Kekayaan terakumulasi dan tertuju pada satu individu saja dan sangat terbatas. Selain itu, dalam sistem kapitalisme, kekayaan sumber daya alam hanya dikuasai oleh mereka yang kaya dan mempunyai modal saja. Di sinilah terlihat bahwa ekonomi Islam yang berdasarkan pada al-Qur’an lebih menguntungkan banyak pihak ketimbang sistem kapitalisme yang tertuju pada satu individu saja.
Penyunting: Bukhari































Leave a Reply