Salah satu perdebatan yang tak kunjung usai, khususnya dalam relasi muslim dan Kristen, adalah klaim para penulis muslim tentang distorsi (tahrīf) Alkitab. Tuduhan-tuduhan ini, selain tersebar dalam pernyataan-pernyataan Al-Qur’an yang bersifat polemis, juga tersebar dalam karya-karya penulis muslim seperti Ibn Ishāq, Ibn Qutaybah, Alį ibn Rabba al-Tabarī, Abū Bakr Muhammad ibn al-Tayyib al-Bāqillānī, Ibn Taymiyyah dan Ibn Hazm.
Namun yang menjadi pertanyaan, khususnya oleh kalangan Kristen, apakah tuduhan yang dilemparkan itu valid? Jangan-jangan para penulis muslim itu hanya berasumsi dan melekatkan asumsi tersebut pada Alkitab dengan tujuan meneguhkan doktrin Islam. Menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini akan membahas artikel David Bertaina dengan judul Early Muslim Attitudes towards the Bible.
Pola Penggunaan Alkitab oleh Sarjana Islam
Artikel ini dibuka dengan paragraf menarik, yakni dengan mengatakan bahwa sikap para sarjana Islam terhadap Alkitab sangat ambivalen (h. 99). Sejauh kutipan-kutipannya meneguhkan dan mengokohkan ajaran Al-Qur’an, maka ia akan didukung. Sebaliknya, ketika terdapat kontradiksi dengan Al-Qur’an, maka para penulis muslim buru-buru menuduh Alkitab tidak konsisten dan telah mengalami tahrīf (pengubahan). Mereka hanya bersedia mengutip Taurat dan Injil sejauh kutipan-kutipannya sejalan dengan Al-Qur’an.
Bertaina mencatat setidaknya ada beberapa jenis kutipan Alkitab yang didukung oleh para penulis muslim. Pertama, kutipan-kutipan yang mendukung monoteisme. Mengutip bagian ini sangat penting bagi umat muslim untuk meruntuhkan doktrin keilahian Isa. Ini dilakukan Alį ibn Rabba al-Tabarī dalam Radd ‘alā Nasārā (Sanggahan terhadap Kaum Nasrani) ketika membahas Markus 10-18, “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain Allah semata”. Kedua, para penulis muslim itu akan mengutip Alkitab sejauh mana kutipan-kutipan itu menegaskan kemanusiaan Isa (h. 100).
Dengan pola semacam ini terlihat bahwa upaya mereka berinteraksi dan bergumul dengan Alkitab sangat diwarnai oleh semangat teologis. Di satu sisi penukilan Alkitab dianggap bermasalah dan tidak boleh terlalu masif, namun jika tujuannya adalah untuk menyerang Taurat dan Injil serta mengokohkan doktrin Al-Qur’an, maka hal itu sah-sah saja. Tindakan semacam ini banyak dilakukan para penulis muslim seperti Ibn Ishāq, Ibn Qutaybah dan Ibn Hazm.
Nama yang disebut paling terakhir bahkan merupakan polemikus dengan kritik paling keras. Ia tidak segan-segan merendahkan para juru tulis Injil dan menuduh mereka sebagai biang kerok dari kesesatan kaum Kristen hari ini. Hal ini ia tuangkan dalam karyanya Kitab al-Fisāl fī al-Milal wa al-Ahwā wa al-Nihal (Kitab Pemisah atas Agama-agama, Kecenderungan-kecenderungan dan Sekte-sekte) (h. 102). Selain itu ia juga menuduh Alkitab sebagai teks yang telah mengalami kesalahan dalam perhitungan, kronologis dan letak geografis. Sementara Perjanjian Baru, dalam pandangan Ibn Hazm, adalah kitab yang kontennya mengandung banyak kebohongan (h. 102).
***
Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh al-Biqa’i, seorang mufasir yang dikenal dengan teori munāsabah. Ia termasuk di antara sarjana Islam yang permisif dan optimis terhadap penggunaan Alkitab dalam kegiatan penafsiran. Hal ini dituangkan dalam karyanya Al-Aqwāl al-Qawīma fi Hukm al-Naql min al-Kutub al-Qadīma (Pernyataan-pernyataan yang Kokoh tentang Hukum Menukil dari Kitab-kitab Terdahulu).
Selain itu ia mengakui otentisitas beberapa kutipan Alkitab dan menganggapnya murni berasal Tuhan. Akan tetapi sikap permisifnya itu, pada abad kelima belas di Mesir era Mamluk, mengantarkannya pada banyak penentangan dan penolakan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya fatwa era itu yang melarang membaca karya-karyanya (h. 104).
Alkitab mulai digunakan para penulis muslim pada abad kedelapan. Penggunaan itu dalam rangka konversi pengetahuan latar belakang kaum Yahudi dan Kristen. Pengetahuan dari Alkitab dianggap sangat membantu untuk memberi gambaran tentang kisah-kisah terdahulu. Akhirnya kutipan-kutipan Alkitab mulai masuk dalam hadis secara parsial dan tidak menyeluruh. Makanya dalam tradisi ‘ulūm al-Qur’ān kemudian berkembang apa yang disebut dengan isrāilliyyāt.
Tokoh-tokoh yang sering menjadi tempat penisbatan kutipan-kutipan isrā’illiyyāt ialah Ka’b al-Ahbar (w. 652/3), ‘Abd Allah ibn Salam (w. 663/4), dan Wahb ibn Munabbih (w/ 728). Keberadaan isrāilliyyāt dalam tafsir telah menjadi perdebatan yang panjang hingga abad ini dan telah melahirkan satu kajian yang disebut infiltrasi dalam tafsir (ad-dakhīl fī at-tafsīr)
Tuduhan-tuduhan
Dalam catatan Gordon Nickel setidaknya ada enam tuduhan yang sering dialamatkan Al-Qur’an pada Alkitab. Kritik yang kelak menjadi keyakinan umum dan kokoh kaum muslim. Di antara tuduhan itu ialah (1) kalangan Kristen diyakini menyembunyikan ayat-ayatnya, (2) mengubah teks aslinya (tahrīf lafzī), (3) menganggap Alkitab yang ada tidak sesuai dengan yang diturunkan pada Isa (h. 101-102). Terhadap tuduhan pertama, pertanyaan yang dapat diajukan adalah apa dasar yang digunakan sehingga sampai pada kesimpulan itu? Padahal Ibn Taymiyyah mengatakan bahwa kendati mayoritas sarjana Islam sepakat tentang tahrīf Alkitab, namun mereka berbeda pandangan tentang apakah itu disengaja atau tidak (h. 102).
Begitupun dengan tuduhan kedua dan ketiga. Tuduhan-tuduhan semacam ini cukup banyak mewarnai kitab-kitab yang ditulis oleh para sarjana Islam. Salah satunya ialah sebagaimana dicontohkan Abū Bakr Muhammad ibn al-Tayyib al-Bāqillānī. Ia melihat bahwa penafsiran kalangan Kristen terhadap Injil bermasalah karena terlalu terpaku pada makna literal (h. 101). Kritik yang sama juga dilansir oleh Ibn Ishāq dengan mengatakan bahwa Taurat dan Injil telah disalahpahami dan karena itu penting melakukan penelitian lebih lanjut terhadapnya (h. 99).
Sikap polemis ini ia ajukan untuk menolak bantahan kaum Kristen yang menolak adanya penyebutan Muhammad dalam Alkitab. Menurut mereka para penulis muslim itu telah memanfaatkan kutipan-kutipan Alkitab dan memahaminya secara serampangan. Padahal jika melihat Yohanes 15:26-16:1, bagian Injil yang sering dikutip dan dijadikan klaim, tidak ada pembahasan spesifik tentang Muhammad. Sebaliknya, ia hanya membahas tentang kedatangan seorang Parakletos/Penghibur. Namun secara tergesa-gesa Ibn Ishāq menegaskan bahwa yang dimaksud penghibur di situ adalah Muhammad (h. 99).
***
Bagian yang aneh dari tuduhan-tuduhan tersebut, mereka jarang sekali merujuk Alkitab secara langsung (h. 99). Mereka lebih sering merujuk tentang Isa secara tak langsung. Padahal kutipan Isa sangat populer di kalangan penulis muslim, akan tetapi sangat jarang dari mereka yang mencantumkan Alkitab. Sebaliknya, ada semacam kesan jika ucapan-ucapan itu sengaja dibuat dan menisbatkannya pada Isa. Untuk menceritakan Isa, mereka lebih akrab dengan teks-teks apokrif (teks yang diragukan keasliannya), Al-Qur’an dan kalam para sufi.
Contoh pengutipan cerita Isa adalah kitab kumpulan hadis Ahmad ibn Hanbal. Dalam penyidikan Khalidi, ia seringkali bersifat tidak adil dan distorsif terhadap Alkitab. Salah satunya ialah kisah tentang uji coba Iblis terhadap Isa. Versi Alkitab (Matius 4:3-11; Lukas 4:1-13) mewartakan bahwa setan meminta Isa lompat dari Bait Allah di Yerusalem untuk mengetes apakah malaikat akan menolongnya atau tidak. Sementara versi Islam, Isa digambarkan sebagai orang yang tidak tahu dan ragu apakah Allah akan menyelematkannya atau tidak. Sikap yang tentu sangat jauh dan tidak masuk akal jika dilekatkan pada seorang nabi.
Di sisi lain beberapa sarjana Islam cenderung menggunakan kutipan Alkitab untuk kepentingan Islam. Salah satunya contohnya Ibn Qutaybah. Ia menggunakan perumpamaan para pekerja di kebun anggur (Matius 20:1-16) untuk menguatkan otentisitas tradisi-tradisi tertentu dalam Islam. Hal ini ia lakukan dalam Kitāb Ta’wīl Mukhtalif al-Hadith(Kitab Penafsiran atas Hadis yang Bertentangan).
Selain itu biasanya beberapa penulis muslim berusaha mencari ayat-ayat mesianis dalam Alkitab dan menjelaskan bahwa penuntasan janji-janji tersebut dibebankan pada Muhammad yang kelak akan datang. Ketika mengutip Alkitab, mereka jarang melirik potret biografis (bioghraphical potraits) Isa dan lebih bergairah menuju ayat-ayat pembuktian (proof texts), khususnya tentang kenabian dan kerasulan Muhammad (h. 101).
***
Serangan dan tuduhan terhadap Alkitab yang lebih keras datang setelah Perang Salib. Serangan ini menjadi semacam strategi yang cukup signifikan untuk menyerang psikologis kaum Kristen. Namun yang ambigu dari sikap pihak muslim adalah ketika mereka bisa membela Al-Qur’an sedemikian rupa dari tuduhan antropomorfisme, ketidakakuratan dan kontradiksi dengan dalil i’jāz, namun di sisi lain menggunakan isu yang sama untuk menghantam Alkitab.
Hal ini, jelas Bertania, karena status Al-Qur’an sebagai “kitab suci” sehingga harus dijaga dari tuduhan-tuduhan buruk. Sementara Alkitab, dalam pandangan mereka, dilahirkan dari tangan manusia dan konsekuensinya tidak lepas dari kesalahan. Bahkan ketika memasuki akhir abad pertengahan, tidak sedikit dari sarjana Islam yang mulai tegas menyatakan bahwa Alkitab tidak layak digunakan.
Integritas Tuduhan-tuduhan Sarjana Islam Awal
Setelah mendiskusikan pandangan polemis dari sarjana-sarjana Islam awal dan pertengahan terhadap Alkitab, David Bertaina sampai pada pembahasan dan pertanyaan, yakni terjemahan Alkitab apa yang digunakan oleh para penulis Islam (what kinds of literature did Muslims employ)? Pertanyaan ini penting karena akan mengungkap apakah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan oleh para penulis muslim itu valid atau tidak (h. 104). Jawaban yang diberikan Bertaina cukup mencengangkan dan membongkar anggapan yang telah mapan. Ia mempertanyakan sumber Alkitab yang digunakan oleh para penulis untuk menguji otentisitas ajaran Yahudi dan Kristen hari ini.
Pertama, ia menjelaskan bahwa sarjana Islam lebih banyak mengutip kisah-kisah Alkitab dari hadis yang bertujuan untuk mengokohkan cerita-cerita yang dibawakan kaum Yahudi dan Kristen. Kedua, mereka mengambil kutipan Alkitab dari karya-karya tafsir. Ketiga, mereka mengutip Alkitab dari buku-buku kronik dan sejarah (tārīkh). Dari ketiga ini belum terlihat Alkitab apa yang mereka gunakan. Keempat, memilih bagian-bagian tertentu dari Alkitab untuk menguatkan klaim mereka tentang pemalsuan kitab-kitab Yahudi dan Kristen.
Kelima, para apologet muslim biasanya hanya mengutip bagian Alkitab yang menegaskan kabar kedatangan Muhammad di dalamnya (h. 104). Dari uraian yang disampaikan David Bertaina, masih menjadi misteri, terjemahan Alkitab mana yang digunakan oleh para sarjana Islam awal dan pertengahan? Hal ini juga menimbulkan spekulasi kuat, jangan-jangan kaum muslim sebenarnya hanya terjebak pada kekeliruan proyeksi (fallacy of projection) sebab telah menghadirkan satu gambaran yang sebenarnya tidak ada pada Alkitab.





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.