Strukturalisme merupakan metode yang digunakan untuk belajar ilmu-ilmu kemanusiaan. Metode ini bertolak dari prinsip-prinsip linguistik yang dirintis oleh Ferdinand De Saussure. Strukturalisme juga bisa diartikan suatu aliran filsafat yang hendak mengerti jumlah masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural dipakai untuk membahas manusia, sejarah, kebudayaan serta hubungan antara budaya dan alam.
Biografi Claude Levi Strauss
Claude Levi Starauss adalah seorang ahli antropologi berkebangsaan Prancis yang lahir di Brussel, Belgia, tahun 1908. Dari orang tua Yahudi yang berkebangsaan Prancis, dari ayah bernama Raymond Levi Strauss dan ibu Ema Levy. Kedua orang tua Claude Strauss mempunyai kewarganegaraan Prancis. Secara sosial historis, sejak kecil Claude Levi Strauss hidup dalam sebuah keluarga yang berjiwa seni. Ayahnya adalah seorang pelukis yang lebih banyak melukis potret.
Claude Levi Strausslah yang dikenal sebagai bapak strukturalisme, sebab beliaulah yang pertama kalinya menggunakan pendekatan linguistik struktural dalam kajian atau analisis budaya. Belakang pendidikan filsafat, namun beliau mulai tertarik dengan antropologi ketika menjadi profesor sosiologi di Sao Paulo, Brazil, dan menjelajahi daerah-daerah pedalaman di Brazil antara tahun 1934-1939.
Strukturalisme Claude Levi-Strauss
Perhatian Levi Strauss lebih banyak diarahkan pada mitos yang berkembang di masyarakat. Analisis deskriptif strukturalisme modern yang berkembang sampai sekarang dapat dikatakan bermula dari kajian-kajian mitos yang dikerjakan oleh Levi Strauss. Linguistik struktural modern banyak berpengaruh terhadap pandangan Levi Strauss.
Bahkan untuk menemukan suatu model bagi kepentingan teori umum antropologi strauss merujuk kepada bidang ilmu bahasa (linguistik). Karena itulah strukturalisme yang dikembangkan Levi Strauss ini dianggap bagian dari semiotik, di mana linguistik atau bahasa menjadi bagian yang sangat penting.
Dalam strukturalisme Claude Levi-Strauss, Levi Staruss membagi pemikirannya membagi menjadi tiga. bahasa dan budaya, Levi-Strauss linguistik kultural, dan Mitos.
Strukturalisme Bahasa dan Budaya
Bahasa dan kebudayaan merupakan dua unsur yang saling bertaut yang mana tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Para ahli linguistik dan antropologi mengutarakan bahwa antara bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Levi-Strauss memandang bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan dalam arti diakronis.
Dalam memandang suatu kebudayaan dan kitab suci pada suatu suku bangsa, Lévi-Strauss memilih menggunakan model-model pendekatan linguistik untuk memahami berbagai macam gejala sosial budaya. Pertama, bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dianggap sebagai refleksi dari kebudayaan. Kedua, bahasa adalah bagian dari kebudayaan. Ketiga, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan.
Linguistik Struktural
Levi Strauss dalam strukturalisme tidak lepas dari 3 tokoh besar, Ferdinand de Saussure, Troubetzkoy, dan Jacobson. Strukturalisme Levi-Strauss sangat berkaitan erat dengan masalah antropologi budaya yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena dalam kebudayaan yakni Struktur dan Transformasi.
Struktur adalah suatu model yang dikembangkan oleh ahli antropologi untuk memahami dan menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya dan tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris. Struktur dibedakan atas dua bagian, yaitu struktur luar (surface structure) merupakan relasi-relasi antar unsur yang dapat dibangun berdasarkan ciri-ciri luar. Adapun struktur dalam (deep structure) merupakan susunan berdasarkan struktur lahir yang tidak selalu tampak pada pada sisi empiris dari fenomena. Sedangkan Transformasi disini adalah sebuah perubahan pada tataran permukaan sedang pada tataran yang lebih dalam lagi perubahan tersebut tidak terjadi. Jadi perubahan di sini hanya berupa bentuk bukan pada isinya.
Mitos
Mitos menurut Levi-Strauss adalah dongeng. Dongeng sebagai mitos dalam konteks Levi-Strauss mengandung pengertian sebuah cerita yang lahir dari imajinasi manusia berupa cermin dari kehidupan sehari-hari..Mitos terjadi ketika struktur ini tidak bisa diurai dengan fakta empiris.Maka dari itu perlu di urai menggunakan struktur bahasa dan struktur budaya. Persamaan bahasa dan mitos yang dilihat oleh Levi-Strauss adalah
Bahasa adalah sebuah media, alat atau sarana untuk komunikasi, untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Begitu juga mitos, yang disampaikan melalui bahasa dan mengandung pesan-pesan.
Mengikuti pandangan Saussure bahwa bahasa mempunyai dua aspek yaitu langue dan parole. Levi-Strauss juga menganggap bahwa mitos juga mempunyai dua aspek tersebut. Mitos sebagai ‘bahasa’ memiliki tata bahasanya sendiri dan Levi-Strauss berupaya untuk mengungkapkan tata bahasa ini dengan menganalisis unsur terkecil.
Penerapan Strukturalisme Dalam Surat al-Ma’un
Surat ini mengisahkan masalah budaya bangsa Arab sebelum dan setelah Islam datang. Yakni merujuk pada sikap bangsa Arab. Dalam surat al-Ma’un berbunyi “ tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang yang lalai terhadap salatnya, yang betbuat ria’, dan enggan (memberikan) bantuan.
Sikap-sikap tesebut diibaratkan bangsa Arab (pra Islam datang) seperti hal nya Abu Sufyan yang merupakan pemimpin pada suatu kaum yang dikisahkan suatu hari Abu Sufyan tiap pekan menyembelih dua unta nah seketika itu datang anak yatim piatu untuk meminta bantuan. Namun ia justru tidak dikasih malah dihardik dan diusir. Pada waktu itu tidak ada pengikut nya, maka dari itu Abu Sufyan melakukan hal seperti itu pada anak yatim tesebut. Ketika pengikutnya ada dalam tempat tersebut dan melihatnya Abu Sufyan bersikap baik dan mengasihi.
Ketika Islam datang (pasca Islam) bangsa Arab yang sistem perilakunya (struktur) sering menghardik anak yatim, enggan memberi makan fakir miskin mengalami transformasi yakni perubahan yang awalnya sering menghardik anak yatim, enggan memberi makan menjadi sering menyanyangi anak yatim, sering memberi makan, dan lain sebagainya. Sebelum mengurai suatu fakta apa benar bahwa bangsa Arab sering menghardik anak yatim, maka hal tersebut dinamakan Mitos.
Agar tidak menjadi mitos maka diperlukan suatu cara yakni dengan menggunakan Struktur luar (surface structure) dan struktur dalam (deep Structure). Struktur luar itu dilihat dari luarnya saja, tidak melihat dari dalam dirinya. Sedangkan struktur luar, itu melihatnya dari lusar dirinya apa benar ketika terhadap orang lemah itu sering berkata kasar, sama anka yatim sering menghardik. Tapi disisi lain bangsa Arab memiliki hati nurani yang baik.
Kesimpulan
Jadi kesimpulannya, jika ingin mengurai sesuatu dan itu belum ada fakta empirisnya maka dinamakan Mitos. Untuk mengurai Mitos menjadi fakta Empiris, perlu mengurai dengan Struktur Bahasa dan Struktur Budaya.
Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.