Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Epistemologi dalam Al-Qur’an: Analisis Lafaz Al-Suāl dan Al-Jawāb

Epistemologi
Sumber: pinterest.com

Epistemologi menuntut relasi erat dengan filsafat pengetahuan. Sebab, ia menguraikan ilmu yang membahas wawasan dengan menyertakan asal-usul, sifat, batasan, juga kebenaran ilmu tersebut. (Nurul: 2025, 20) Sebab itu, epistemologi bertindak meneliti hakikat, asal-usul, serta validitas ilmu. Juga, dalam konteks agama Islam, epistemologi juga berperan mendasar karena berkaitan langsung dengan wahyu agar dipahami, diterjemahkan, dan dijadikan dasar hukum serta pedoman hidup oleh masyarakat Muslim. (Deden: 2025, 67)

Sebagai wahyu, Al-Qur’an tidak dapat dipisah dari ilmu pengetahuan. Di antara ajaran epistemologi yang Al-Qur’an suguhkan ialah ta’aqqul (berakal), tafakkur (berfikir), tadabbur (mengambil pelajaran), tafaqquh (memahami), dan tadzakkur (berfikir berlandaskan agama). (Mahfudin: 2022) Lebih luas, Al-Qur’an juga mengemukakan lafadz al-su’a>l (bertanya) dan al-jawa>b (menjawab) sebagai konsep utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Definisi Epistemologi

Dalam linguistik, epistemologi diketahui berasal dari bahasa Yunani, yaitu “episteme” yang diartikan sebagai pengetahuan dan “logos” yang diartikan sebagai ilmu. (Pajriani: 2023, 283) Adapun apabila diuraikan lebih rinci, epistemologi bermakna disiplin ilmu yang mencari tahu sumber pengetahuan serta metode atau langkah-langkah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. (Walida: 2024, 776)

Denotasi Lafaz al-su’al dalam Bahasa Arab dan Al-Qur’an

Lafaz al-Su’a>l merupakan derivasi dari sa’ala-yas’alu. Beberapa ahli linguistik mengartikan lafaz terkait sebagai berikut:

  1. Al-Raghib al-Is}faha>ni mengartikannya dengan istid’a> al-ma’rifat atau “mencari/menelusuri sebuah pengetahuan”. (Isfahani: 437)
  2. Fr. Louis Ma’luf mengartikan dengan makna “permintaan sesuatu kepada orang lain” dan dapat juga dikhususkan pada makna istikhbar (meminta penjelasan tentang sesuatu kepada orang lain). Menurut beliau, sa’ala memiliki sinonim dengan t}alaba (meminta), ista’t}a> (meminta pemberian) dan istakhbara (mencari penjelasan sesuatu dari seseorang). (Louis: 2008, 213)
  3. Al-Sami>n al-H{alby dalam kamusnya menyebutkan maksud lafadz al-Su’a>l yang berkaitan dengan Allah Swt bukanlah untuk mencari jawaban, karena Allah Swt mengetahui atas perkara yang gaib. Akan tetapi, maksud dari pertanyaan tersebut ialah sebagai taqri>’’ (menyadarkan) dan tabki>t (celaan) pada suatu kaum. (Halab: 1996, 160)
Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 46: Siapakah Orang yang Khusyu'?

Dalam kitab suci Al-Qur’an, lafaz sa’ala berjumlah sebanyak 128 kali beserta setiap derivasinya. (Fu’ad: 2010, 584) Adapun sekian derivasi tersebut paling tidak menunjukkan kepada 7 arah, di antaranya al-Istifta>’ (meminta fatwa), al-Du’a>’ (berdo’a), al-I’tira>d} (menentang atau mencegah), al-T{alab (meminta), al-H{isa>b (menanyakan dengan sungguh-sungguh), al-Mutasawwil (meminta-minta atau mengemis), dan al-Takha>s}um (saling menuntut (bertanya)). (Balil: 2016, 77) 

Denotasi Lafaz al-Jawab dalam Bahasa Arab dan Al-Qur’an

Lafaz al-Jawa>b berasal dari kata jawaba, jawbu atau ju>b dengan maknanya kharq al-sh}ay atau jubtu al-Ard}a jawban (melubangi sesuatu atau menjelajahi bumi). (Balil: 2016, 79) Adapun beberapa makna lain tentang lafadz al-jawa>b (Al-Ma’any: 2025), antara lain:

  • a.  جَوّاب atau jawwa>b, merupakan isim muba>lagah dari جابَ dengan makna عادته جَوْب البلاد والتنقل من بلد إلى آخر atau seseorang yang memiliki kebiasaan berkelana atau berpindah-pindah tempat.
  • b. جَواب  atau jawa>bun, merupakan balasan pada sebuah persoalan, atau ما يكون رَدًّا على سؤالٍ أَو دعاءٍ أَو دَعْوَى، أَو رسالةٍ أَو اعتراضٍ
  • c.  جابَ في يَجوب atau جَابَ القَمِيصَ melubangi serta menjadikan saku pada sebuah baju.

Adapun menurut beberapa ahli linguistik, makna al-jawa>b ialah sebagai berikut:

  • 1.     Ibn Al-Manz}u>r pada kamusnya, Lisa>n al-‘Arab, mengaitkan lafaz tersebut dengan sifat Allah Swt al-Muji>b (Zat yang mengabulkan doa dan permintaan berupa pemberian dan penerimaan kepada hamba-Nya). Adapun al-Jawa>b berarti radi>d al-kala>m atau menjawab sebuah pembicaraan. (Manzur, 716)
  • 2.     Al-Ra>gib al-Is}faha>ni dalam kamusnya menjelaskan makna lafadz terkait dengan kiasan qat}’u al-jaubat (menelusuri sebuah lubang). Beliau juga menyuguhkan perumpaan seperti kotoran yang keluar dari tanah. (Isfahani, 210)

Lafadz al-Jawa>b beserta derivasinya berjumlah sebanyak 43 kali dalam al-Qur’an. (Fu’ad: 2010, 53) Adapun derivasi tersebut menunjukkan arah pada 5 maksud, yaitu al-Qat}’u al-Kharqu (potongan atau lubang), al-Talbiyat (sahutan), al-Ittiba>’ (ikut serta/mengikuti), al-T{a>’at (taat/patuh) dan al-Raddu ‘ala> al-Su’a>l (menjawab pertanyaan). (Balil: 2016, 80)

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 44-45: Sabar dan Sembahyang

Penutup: Epistemologi Al-Qur’an nan Lengkap

Epistemologi yang biasanya dijadikan kebanggaan masyarakat barat senantiasa diteliti dan dikagumi. Padahal, Al-Qur’an menyinggung hal demikian dengan konsep berepistemologi yang lebih lengkap dan kredibel. Sebagai contoh, lafaz al-Su’a>l yang disebutkan menguraikan arti dan makna yang mencakup keseluruhan maksud dari fenomena yang ditujukan. Sebagai sambungan, lafaz al-Su’a>l akan menjadi sempurna apabila disandingkan dengan lafadz al-Jawa>b. Pasalnya, dua lafaz tersebut merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Daftar Pustaka

Afriq (al), Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshari ar-Ruwaifi’i. Lisa>n al-‘Araby. Kairo: Da>r al-Ma’rifat.

Al-Ma’a>ny, “Li kulli rasmin ma’na” dalam https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%88%D8%A7%D8%A8/. Tanggal kutip: pada 7 Februari 2025

Asfahani (al), Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammad al-Raghib. al-Mufrada>t Li> Alfa>dz al-Qur’a>n. Beirut: Da>r al-Kotob al-‘Ilmiyah.

Ba>qi (al), Muhammad Fu’ad Abdul. al-Mu’jam al-Mufahras Li> Alfa>z al-Qur’a>n al-Kari>m. Beirut: Da>r al-Ma’rifat, 2010

Balil, Abdul Karim. Mukhtas}ar al-Mafa>hi>m al-Mifta>h}iyat Linazariyat al-Ma’rifat Fi>al-Qur’a>n al-Kari>m. Oman: Ma’rifat al-Insa>n, 2016

Fitri, Nurul Amalia. “Epistemologi Empirisme”, SOCIUS: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Vol. 02, No. 06 (Januari, 2025), 20.

Halab (al), Ahmed bin Yusef bin Muhammad bin Masoud. ‘Umdat al-H{uffa>dz. Beirut: Da>r al-Kotob al-‘Ilmiyah,1996.

Ma’luf, Louis. al-Munjid fī al-Lughah wa al-Aʻlam. Beirut: Dar al-Masyriq, 2008.

Mahfudhin, “Lima Ayat Epistemologi dalam Al-Qur’an”, dalam https://ibtimes.id/lima-ayat-epistemologi-dalam-al-quran/. Tanggal akses: pada 30 Januari 2025.

Pajriani, Tira Reseki. “Epistemologi Filsafat”, PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 03 (Mei, 2023), 283.

Saputra, Deden Mula. “Epistemologi ‘Ulum al-Qur’an: Kajian Historis dan Dinamika Penafsiran di Dunia Islam”, AL-MIKRAJ: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, Vol. 05, No. 02 (Januari: 2025), 67.

Walida, Dewi Taviana. “Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Serta Aktualisasinya dalam Studi Islam”, ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin”, Vol. 04, No. 01 (Desember, 2024), 776.

Baca Juga  Menyoal Ridwan Kamil: Whataboutism dalam Al-Qur’an

Editor: Dzaki Kusumaning SM