Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hari-Hari Menuju Ramadan: Merawat Harapan, Menata Langkah

Harapan
Gambar: ChatGPT
Contents

Problem yang selalu kita alami saat akan menghadapi bulan Ramadan adalah kekurangan rencana yang matang untuk menyambutnya. Padahal Ramadan merupakan momen yang tepat untuk membuka kotak pandora kebaikan. Di dalamnya seorang muslim mendapat banyak keistimewaan. Setiap kebaikan yang diperbuat akan dibalas pahala berlipat ganda. Ramadan akan menjadi oase dan momentum tazkiyah (penyucian) etelah sebelas bulan yang dijalani. Ia adalah jeda bagi seorang muslim yang ingin mematangkan dan menjernihkan diri.

Ada dua kata yang kunci yang mesti terpatri pada diri seseorang ketika akan berhadapan dengan bulan Ramadan: harapan dan langkah. Tanpa harapan Ramadan akan kehilangan makna. Hanya mereka yang berharap dengan kehadiran Ramadan yang akan menghayati setiap jejak langkahnya. Harapan menguatkan dan meningkatkan kesyukuran seseorang atas apa yang dihadapinya. Sejauh Ramadan dipandang sebagai rutinitas, maka ia akan menjelma suasana yang menjenuhkan. Tak jarang seorang muslim yang terjebak pada rutinitas semacam ini. Hari ini, sebelum Ramadan menjadi kian dekat, tak terlambat untuk membangkitkan dan menumbuhkan harapan.

Dalam hadis disebutkan bahwa barangsiapa yang berharap bertemu Ramadan dan ia melakukan kebaikan di dalamnya, maka ia akan diganjar kebaikan berlipat. Allah memberikan perhatian yang besar terhadap harapan. Harapan menggerakkan langkah seseorang untuk lebih semangat dalam melakukan amal kebaikan. Al-Qur’an mengenalkan satu frasa yang sangat penting, fastabiqul khairāt, berlomba-lomba dalam kebaikan. Seorang muslim yang baik tidak berpuas diri dengan menjadi pribadi biasa. Mereka selalu ingin tampil sebagai orang yang luar biasa. Sebab mereka telah memikul amanat besar sebagai khairul ummah, umat terbaik yang pernah Allah keluarkan bagi manusia. Predikat yang berat dan mulia. Hanya orang-orang bermental besar yang mampu menyadari kemuliaannya. 

Baca Juga  Tahun Baru Hijriah: Menghidupkan Semangat Perjuangan Abu Dzar
***

Predikat khairul ummah bukan pemberian tanpa syarat dari Allah. Seorang muslim harus mengerahkan segala daya dan upayanya untuk mendapat predikat ini. Mereka yang berpangku tangan dan tidak bergerak tidak akan sampai pada derajat mulia ini. Bahkan lebih tegas, sebagaimana disebut dalam Tafsīr al-Manār,[1] orang yang salat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tidak akan mendapat derajat mulia ini kecuali mereka melipatgandakan kebaikan dan mencegah yang munkar. Dalam segala usaha menuju ke sana memang bukanlah suatu yang mudah. Namun Allah selalu yakin dengan kapasitas hamba-Nya. Mereka akan berusaha dengan sungguh-sungguh sambil memohon pertolongan Allah sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi agama dan bangsanya. 

Hari ini kita mengalami satu dilema dalam perjuangan menuju kebaikan. Tidak jarang kebaikan berjalan di tempat atau bahkan berbelok. Sebelumnya kita begitu getol dan kokoh bersedekah di kala suka dan duka, namun sekarang tindakan baik itu perlahan memudar. Dulu suara kita mengutuk kezaliman selalu lantang, namun sekarang perlahan surut seiring dengan godaan dan tekanan yang hadir. Padahal sifat sejati seorang mukmin seharusnya seperti yang ditandaskan surah Al-Ahzāb: 29, tidak takut terhadap siapapun kecuali Allah (wa lā yakhsyauna ahadan illallah). Orang beriman selalu punya moral courage (keberanian moral) saat melihat yang batil. Namun di sisi lain ia tetap perlu berdoa, “Ya Allah tunjukkanlah padauk yang benar itu benar.” [2]

***

Doa ini menyiratkan kelemahan manusia dalam menyeleksi dan memperjuangkan kebenaran. Jika manusia benar-benar kuat dan mampu, takkan ada doa ini. Doa ini mengandaikan manusia yang lemah dan selalu butuh pertolongan Allah. Hanya dengan bantuan Allah manusia bisa kokoh dan istiqamah dalam berjuang. Godaan yang hadir tentu ada. Namun tak seberat jika kita kehilangan harapan pada Allah. Berharap dan bergantung pada Allah adalah harga mati. Ini adalah bekat utama yang perlu disiapkan seorang muslim, termasuk dalam hari-hari menuju Ramadan. 

Baca Juga  Bulan Ramadhan Sebagai Spirit Meningkatkan Wawasan Keislaman

Dilukiskan dalam Al-Qur’an tentang harapan bertemu atau berjumpa dengan Allah. Harapan itu tak boleh kosong. Ia harus disertai langkah-langkah yang konkrit dan terukur. Harapan hanya akan sekedar menjadi harapan jika kita tidak segera menetapkan dan mengayunkan langkah. Beberapa banyak yang terbuai dengan harapan kosong namun terjatuh pada kesia-siaan. Sebab di dalam benaknya harapan ialah menghayal dan membayangkan. Nabi mengecam orang-orang semacam ini. Karena baginya, melangkah dan bergerak lebih utama.[3]

Seorang muslim adalah pribadi yang dapat menggabungkan antara harapan dan langkah. Muslim yang baik selalu merencanakan masa depan dengan baik. Kemudian tidak berhenti pada rencana, ia juga menyusun langkah-langkah kecil apa yang bisa ia lakukan untuk mewujudkan harapan itu. Begitupun dengan menghadapi hari-hari menuju Ramadan. Ia tidak hanya berharap bahwa akan dipertemukan dengan Ramadan, tapi juga berharap bahwa rencana-rencana yang telah disusunnya bisa berjalan dengan izin Allah. 

***

Banyak langkah yang bisa ditetapkan di bulan baik seperti Ramadan. Jika sebelumnya kita hanya fokus memperbanyak bacaan Al-Qur’an, di Ramadan kali ini kita bisa melangkah lebih jauh. Kita bergerak pada upaya memahami dan merefleksikan makna Al-Qur’an. Kitab-kitab tafsir yang ada dari yang paling lengkap seperti tafsir at-Thabari, Fakhruddin al-Razi hingga yang paling ringkas seperti Tafsir al-Lubab milik Quraish Shihab bisa kita baca. Dan cara paling ringkas dan mudah ialah memilih satu ayat favorit dan melihat bagaimana para mufasir memahami ayat tersebut. Kegiatan terukur semacam ini akan membuat bulan Ramadan kita lebih insightfull dan meaningfull.       


[1] Muhammad Abdūh dan Rasyīd Ridha. Tafsīr al-Manār. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., h. 48

[2] M. Amien Rais. Tauhid Sosial. Bandung: Mizan, 1998, h. 93 

Baca Juga  Fatimah dan Ali: Inspirasi Kisah Cinta dalam Diam

[3] Abu Hamīd Al-Ghazali. Menyingkap Hati, Menghampiri Ilahi. Bandung: Pustaka Hidayah, 2006, h. 168