Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Rahasia Makna Pendengaran dalam Al-Qur’an

pendengaran
Sumber: https://www.thaqafnafsak.com

Secara pribadi, tentu menyadari bahwa manusia adalah ciptaan Allah Swt. Pengetahuan yang tertimbun, secara implisit telah mereduksi keistemewaanya sebagai potensi yang terbilang sempurna manakala disandingkan makhluk hidup lainnya. Tak heran bilamana manusia memiliki satu-kesatuan fungsi pancaindra yang jauh lebih dinamis, termasuk pendengaran.

Pendengaran adalah satu dari sekian fungsi pancaindra manusia yang di dalam al-Qur’an disebut al-sam’u. Umumnya memang terlingkup oleh proses penemuan ilmu pengetahuan. Namun, pada QS. al-Nahl [16]: 78, sangat mengikat antara pendengaran, dengan penglihatan dan hati. Sehingga, cukup menarik jika dikaji lebih rinci tentang hakikat dari penciptaan fungsi pendengaran tersebut.

Lebih tepatnya, tulisan ini akan membahas tentang makna al-sam’u dalam QS. al-Nahl [16]: 78. Sebelum membahas tentang relevansinya ke dalam konteks sains, sistematisnya akan diawali dengan mengungkap definisi kata al-sam’u. Kemudian, melangkah kepada penafsiran terkait makna al-sam’u dalam QS. al-Nahl [16]: 78.

Definisi Kata al-Sam’u

Kata al-sam’u berasal dari kata sami’a (سَمِعَ) – yasma’u (يَسْمَعُ), yang berarti “mendengar”. Kata ini, merupakan bentuk masdar darinya. Dari rentetan jenis masdar yang ada, kata al-sam’u termasuk masdar asli. Karena, teridentifikasi ke dalam bentuk lafal yang menunjukkan makna mujarrad, serta tidak diakhiri dengan ya’ ber-tashdid yang ditambahi sesudahnya ta’ ta’nith marbutah.

Kata al-sam’u selaras dengan pengertian pekerjaan telinga (mendengar). Tetapi, demikian menjadi alasan atas pemaknaannya tentang al-sam’u yang diwakili pada makna “pemahaman” atau diartikan sebagai “ketaatan”. Seperti pada ungkapan isma’ ma aqulu laka (اسْمَعْ أَقُوْلُ لَكَ), yang berarti bahwa “pahami apa yang akan saya sampaikan” (Raghib al-Ashfahani, Kamus al-Qur’an: Penjelasan Lengkap Makna Kosakata Asing dalam al-Qur’an, 02/282).

Baca Juga  Kaidah-Kaidah Komunikasi Dalam Al-Quran

Secara singkat, kata al-sam’u dapat didefinisikan dengan kekuatan telinga dalam mengetahui suara. Pekerjaan untuk mengetahui suara tersebut juga disebut sebagai al-sam’u. Hal ini tak lain menjadi konteks untuk dikemukakan sebagai prospek epistemologi sebagaimana termaktub kodratnya yang dicapai secara hakiki dan komprehensif.

Penafsiran Makna al-Sam’u

Setelah tersingkap makna etimologinya, selanjutnya akan dipaparkan tentang pandangan ulama’ atas makna al-sam’u. Karena terfokus pada QS. al-Nahl [16]: 76, alasannya adalah ayat tersebut mengandung karakteristik yang keberadaan kata al-sam’u berstatus tunggal, di samping kata al-absar dan al-af’idah yang berstatus jamak. Berikut ayatnya:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. al-Nahl [16]: 78).

Kata al-sam’u terlihat di-mufrad-kan karena bentuknya adalah masdar. Dikatakan sami’tu al-shay’a (سَمِعْتُ الشَّيْءَ), asma’uhu sam’an wa sima’an (أَسْمَعُهُ سَمْعًا وَسِمَاعًا). Sementara itu, al-sam’u juga merupakan isim untuk alat pendengaran, yakni telinga. Ada pula yang menyatakan bahwa ketika Allah menggabungkan al-sam’u dengan lafal bentuk jama’, hal demikian menunjukkan makna tentang pendengaran semua orang (Abu Muhammad al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 01/456-457).

Persoalan ayat di atas, konteks pembicaraannya adalah anugrah Ilahi pada perkembangan manusia melalui seorang ibu. Adanya pendengaran dan penglihatan, dituntut oleh perkembangan hati, yaitu berupa perasaan hingga pikiran. Sampai menuju kedewasaan, pada akhirnya menjadi manusia yang berbudi bahasa, bersopan dan bersantun, sanggup memikul tanggungjawab sebagaimana dipikulkan Allah ke atas pundaknya, bahkan menjadi anggota dengan penuh dari peri kemanusiaan (Hamka, Tafsir al-Azhar, 05/3942).

Baca Juga  Childfree dan Kesadaran Hak Reproduksi Perempuan

Relevansinya dalam Konteks Sains

Pada pembahasan terakhir, setelah mendapat pemahaman tafsir QS. al-Nahl [16]: 78 tentang pemaknaan al-sam’u beserta konteks pembicaraannya, tulisan ini ingin merelevansikannya pada sains. Secara reflektif, QS. al-Nahl [16]: 78 berbicara tentang pertumbuhan manusia. Sementara, pendengaran dikemukakan sebagai tuntutan dari perkembangan selanjutnya, yaitu hati.

Pendengaran dalam sains adalah satu dari sekian bentuk pancaindra yang sangat berperan dalam kehidupan. Seluruh informasi yang ditangkap berupa gelombang suara, awalnya diproses melalui selaput telinga dan tulang telinga. Kemudian, rangsangan yang berbentuk gelombang suara dialirkan ini melalui saraf ke VIII, yakni saraf akustikus. Lewat saraf ini rangsangan dibawa ke korteks pendengaran yang bersemayam di otak.

Melalui beberapa proses tersebut, lalu di otak rangsangan gelombang akan diolah menjadi sebuah pikiran dan memori. Dengan mendengar suara, kelebihan yang dimiliki manusia, yaitu mampu mengenali objek yang mengeluarkan suara. Misalnya, ketika di antara seseorang mendengar sesuatu yang berkicau, maka akan berfikir bahwa hal demikian adalah suara burung, dan seterusnya (Muhammad Suwardi, Rahasia di Balik Penciptaan Organ Tubuh Manusia, 41-42).

Konteks di atas, nilai yang diambil sebagai relevansi makna al-sam’u dalam QS. al-Nahl [16]: 78 dengan sains, adalah al-Qur’an bukan kitab teori. Akan tetapi, makna pendengaran yang terhubung antara di dalam al-Qur’an dan sains, merupakan sebuah penjelasan terkait kompleksitas pemahaman terhadap realitas fakta saling mengikat sebagaimana perkiraan khalayak.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penjelasan makna pendengaran, terurai pada kata al-sam’u. Secara etimologi, singkatnya bermakna cara kerja telinga seketika menangkap suara. Dilihat berdasarkan konteks dalam QS. al-Nahl [16]: 78, makna pendengaran di sini termaktub sebagai sistem pancaindra yang berbicara tentang kelengkapan anggota tubuh. Maka, sains meninjau hal demikian lebih kepada peran pentingnya.

Baca Juga  Belajar Menjemput Hidayah Allah Melalui Al-Qur'an

Penyunting: Ahmed Zaranggi