Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Manusia dan Hakikat Tujuan Hidupnya

Sumber: istockphoto.com

Manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini, Ibn ‘Arabi misalnya, melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, “Tak ada makhluk Allah yanglebih bagus daripada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan memutuskan”.

Manusia di dalam Al-Qur’an

Setidaknya,terdapat tiga kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan makna manusia, yakni al-Basyr, al-Insan danan-Nas(Samsul Nizar, 2022, hlm. 1–14). Pertama, kata al-Basyr dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali,dan tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi, al-Basyr berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Al-Basyr juga dapat diartikan mulamasah, yakni persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan secara terminologi, al-Basyr berarti manusia sebagai makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya.

Kedua, kata al-Insan yang berasal dari kata al-Uns, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali, dan tersebar dalam 43 surat. Secara etimologi, al-Insan berarti harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Kata al-Insan, digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut –dengan berbagai potensi yang dimilikinya– mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan sekaligus istimewa, sempurna, dinamis dan memiliki diferensiasi individual antara satu dengan yang lain. Sehingga, dengan bekal potensinya tersebut, manusia mampu dan berhak menyandang predikat khalifah Allah di muka bumi.

***

Ketiga, kata an-Nas dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali, dan tersebar dalam 53 surat. Kata an-Nas sendiri menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan dan kekafirannya. Kata an-Nas dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa sebagian besar manusia tidak memiliki ketetapan keimanan yang kuat. Kadangkala ia beriman, sementara pada waktu yang lain ia menjadi munafik.

Baca Juga  Kesunnahan Menangis Saat Membaca Al-Quran

Adapun secara umum, penggunaan kata an-Nas memiliki arti peringatan Allah kepada manusia akan semua tindakannya. Seperti peringatan agar manusia tidak bersifat kikir dan ingkar, tidak meminta dan menyembah selain kepada-Nya, larangan berbuat zalim, kewajiban menjaga keharmonisan sosial antar sesamanya, dan berbagai macam penjelasan Allah terhadap kebesaran-Nya melalui fenomena alam semesta, tujuannyaagar manusia dapat mengambil pelajaran dan menambah keimanannya kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-A’raf (7) ayat 179, sebagai bentuk sindiran Allah kepada manusia :

Dan sungguh, akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Merekalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”(Ahmad Hatta, 2011, hlm. 174).

Tujuan dan Hakikat Hidup Manusia

Berdasarkan pada general makna manusia di dalam Al-Qur’an, dan merujuk pula pada firman-Nya dalam Q.S.Adz-Dzariyat (51) ayat 56, yang artinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku”, maka tujuan hidup manusia yang paling utama adalah untuk beribadah kepada Allah di segala aspek kehidupannya. Penetapan dan penerapan tujuan dan hakikat hidup ini dapat tergambarkan baik secara vertikal (hablun minAllah) maupun horizontal (hablun minannas). Artinya, setiap manusia mempunyai tanggung jawab moral kepada sang pencipta dan kepada lingkungannya (manusia dan alam). Dengan demikian, diwajibkan bagi setiap manusia untuk membekali dirinya dengan ilmu –yang didapatnya melalui proses pendidikan– dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.

Baca Juga  Makna Nisyan Bagi Allah di dalam Al-Qur'an

Antara ilmu dengan ibadah (amal) saling terkait. Jika ibadah tanpa dilandasi ilmu, maka akan menjadi kebiasaan semata, tidak bernilai pahala. Sebaliknya, jika ilmu tanpa ibadah, maka akan sia-sia tanpa adanya kebermanfaatan dari ilmu yang telah didapatkan. Manusia berilmu (‘alim) menjadikan kebiasaan sebagai ibadah, sedangkan manusia tidak berilmu menjadikan ibadah sebagai kebiasaan (‘abid). Oleh karena itu, antara ilmu dan ibadah harus berjalan beriringan, dan proses tersebut dapat terjadi melalui lifelong leraning bagi setiap individu.

Editor: An-Najmi