Dikisahkan dalam sejarah Islam bahwa nabi Yusuf merupakan salah satu nabi yang memiliki wajah rupawan. Allah memuliakannya dengan memuat kisah hidupnya dalam al-Qur’an, yakni pada surah Yusuf. Nabi Yusuf adalah putra ketujuh dari dua belas bersaudara, ia adalah putra nabi Ya’qub as. Tanda-tanda kenabian pada diri nabi Yusuf telah muncul saat ia masih kecil, melalui mimpinya yang tertera dalam QS. Yusuf [12]: 4
إِذۡ قَالَ یُوسُفُ لِأَبِیهِ یَـٰۤأَب َتِ إِنِّی رَأَیۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبࣰا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَیۡتُهُمۡ لِی سَـٰجِدِینَ
Artinya: “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
Para ulama menginterpretasikan bahwa dalam mimpi nabi Yusuf; bulan dan matahari melambangkan kedua orang tuanya, sementara 11 bintang merujuk pada 11 saudaranya. Setelah nabi Yusuf terbangun dari tidurnya, ia menceritakan mimpi tersebut kepada ayahnya, nabi Yaqub. Dari sinilah, nabi Yaqub menyadari bahwa Yusuf akan memiliki kedudukan tinggi dan martabat yang mulia di dunia dan akhirat; hingga kedua orang tua dan saudaranya akan tunduk padanya.
Kisah Nabi Ya’qub dan Yusuf
Nabi Ya’qub sangat menyayangi nabi Yusuf, dan dikisahkan juga dalam QS. Yusuf, bahwa Bunyamin merupakan anak nabi Ya’qub yang juga mendapat perlakuan lebih daripada saudaranya yang lain. Hingga membuat saudaranya iri melihat perlakuan ayahnya yang lebih perhatian kepada nabi Yusuf dan Bunyamin.
Akibat kedengkian tersebut, saudara-saudara nabi Yusuf merencanakan untuk membunuh nabi Yusuf atau membuangnya jauh-jauh; agar nabi Yaqub lebih mencintai mereka dan seluruh perhatiannya beralih pada mereka. Kemudian mereka pun meminta izin kepada ayahnya untuk membawa Yusuf pergi bersamanya dengan dalih mengajak Yusuf kecil untuk bermain. Pada awalnya nabi Ya’qub enggan untuk mengizinkannya, namun mereka terus meyakinkan nabi Ya’qub untuk memberi izin membawa Yusuf pergi. Akhirnya dengan berat hati nabi Ya’qub mengizinkan mereka untuk pergi membawa Yusuf bersamanya.
Selama perjalanan, saudara-saudara Yusuf menghina dan mencacinya. Lalu salah satu saudaranya berinisiatif untuk memasukkannya ke dalam sumur agar kelak ada musafir yang menolongnya. Mereka pun mendorong Yusuf ke dalam sumur. Kemudian mengotori baju Yusuf dengan darah palsu sebagai bukti pada ayahnya jikalau Yusuf telah tiada. Sesampainya dirumah, mereka melaporkan bahwa Yusuf telah dimangsa serigala. Nabi Yaqub merasa ragu, dan tak percaya pada anak-anaknya, tetapi ia tak bisa berbuat banyak selain berserah diri kepada Allah SWT.
***
Singkat cerita, beberapa tahun kemudian, nabi Yusuf memperoleh kedudukan tinggi dari seorang raja Mesir karena ia berhasil menafisrkan mimpi raja tersebut. Sehingga sang raja memberikan kedudukan sebagai bendaharawan negara kepada nabi Yusuf as. Setelah menduduki jabatan yang tinggi, nabi Yusuf pun kemudian menikahi Zulaikha, dimana Zulaikha merupakan kerabat dekat raja Mesir. Alhasil raja Mesir pun mempercayai jalannya pemerintahan Kerajaan Mesir kepada nabi Yusuf.
Beberapa waktu kemudian, tibalah masa paceklik yang melanda Mesir; hingga 10 saudaranya yang dahulu telah membuangnya ke sumur datang ke Kerajaan Mesir untuk meminta bahan makanan. Tidak satupun dari mereka yang mengenali nabi Yusuf, namun nabi Yusuf tetap mengenali mereka. Hanya saja nabi Yusuf menyadari bahwa satu saudaranya tidak ikut, bersama mereka, yakni Bunyamin.
Setelah nabi Yusuf memberikan bahan makanan kepada saudaranya tersebut, nabi Yusuf berpesan agar mereka membawa saudaranya Bunyamin. Ketika akan kembali meminta bahan makanan, dan nabi Yusuf juga berjanji untuk memberikan bahan makanan yang jauh lebih banyak jika mereka datang bersama Bunyamin.
***
Sesampainya mereka ke kampung halamannya, mereka pun menceritakan perihal pesan nabi Yusuf tersebut pada ayahnya; mereka kembali meminta izin pada ayahnya untuk kembali ke Mesir dengan membawa Bunyamin. Dengan keteguhan janji yang dibuat oleh anaknya tersebut membuat nabi Yaqub mengizinkan mereka kembali ke Mesir dengan membawa Bunyamin. Namun, ayahnya berpesan bahwa mereka harus membawa kembali Bunyamin dengan selamat.
Setibanya kembali di Mesir, dikisahkan bahwa nabi Yusuf telah mengetahui keberadaan saudaranya, lalu ia bertemu dengan Bunyamin dan mejelaskan padanya bahwa ia adalah Yusuf yang dahulu telah dibuang oleh 10 saudaranya tersebut, kemudian nabi Yusuf meminta Bunyamin untuk tinggal bersamanya. Sebelumnya nabi Yusuf telah menyusun strategi agar Bunyamin dapat tinggal, ia menelusupkan barang berharga kedalam karung yang berisi bahan makanan tersebut, agar nantinya mereka dituduh mencuri dan harus menyerahkan Bunyamin kepadanya.
***
Singkat cerita strategi yang dilakukan oleh nabi Yusuf berhasil, akhirnya Bunyamin pun tinggal bersama nabi Yusuf. Dan 10 saudaranya yang lain kembali ke kampung halamannya tanpa membawa Bunyamin. Sesampainya dirumah, nabi Yaqub pun tak kuasa menahan sesak atas kabar yang dibawa oleh anaknya tersebut, karna tak mampu membawa Bunyamin kembali dengan selamat. Nabi Yaqub pun menangis tersedu-sedu hingga matanya memutih dan menjadi buta.
Kisah tersebut tertera dalam QS.Yusuf ayat [12]:87:
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
Artinya: Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Namun, sejatinya kebutaan nabi Yaqub bukanlah perihal nabi Yusuf, melainkan perkara Bunyamin, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Tafsir as-Sa’di karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H, beliau menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Ya’qub berpaling dari anak-anaknya usai mereka mengabarkan berita ini. Kesedihan dan dukanya semakin besar. Dua matanya memutih lantaran deraan kesedihan di kalbu, dan kepiluannya yang membuat beliau sering menangis di mana dua matanya menjadi putih. “Dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”, maksudnya, hatinya penuh dengan kesedihan yang menyayat “Dia berkata, ‘Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” maksudnya tampak pada beliau perasaan yang tersembunyi (di hatinya) berupa kesedihan yang sudah lama dan kerinduan yang selalu menghampiri. Musibah yang ringan ini –ditilik dari (beratnya) musibah pertama- mengingatkan memori beliau terhadap musibah yang pertama”
***
Kedukaan yang mendalam telah dirasakan oleh nabi Yaqub semenjak kepergian Yusuf, sebagaiman yang telah dijelaskan pula dalam Tafsir al-Muyassar, milik Kementerian Agama Saudi Arabia:
“Dan ya’qub berpaling dari mereka, sedang hatinya sungguh telah sesak lantaran perkataan yang mereka ucapkan. Ia berkata,”betapa sedihku terhadap yusuf,” dan dua bola matanya menjadi putih karena hilang hwarna hitam matanya disebabkan beratnya kesedihan. Dia seorang yang hatinya terliputi kesedihan, akan tetapi dia berusaha keras menyembunyikannya.”
Kesedihan yang dirasakan oleh nabi Yaqub atas kepergian Yusuf belum usai, lalu ditambah dengan kepergian Bunyamin, itulah yang menyebabkan kesedihan yang mendalam oleh nabi Yaqub, hingga ia menangis sampai memutih bola matanya dan menjadi buta. Jika dilihat secara gamblang redaksi dalam al-Qur’an memang menyatakan bahwa penyebab kebutaan nabi Yaqub dikarenakan nabi Yusuf, namun pada hakikatnya jika ditelaah lebih lanjut, maka akan ditemukan sebuah fakta bahwasanya kebutaan nabi Yaqub disebabkan oleh kepergian anaknya yaitu Bunyamin. Wallahu a’lam.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.