Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Qur’an di Balik Gelombang Unjuk Rasa Warga Indonesia

Tafsir dan Unjuk Rasa
Sumber: hukumonline.com

Indonesia dengan beragam elemen penduduknya tentu menyimpan harapan besar agar bangsa ini semakin maju. Harapan sebesar-besarnya selalu muncul kembali ketika momen bulan kemerdekaan. Setiap tahun, tema peringatan HUT RI terdengar semakin gagah. HUT ke-77 RI bertema “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat” hingga HUT ke-80 RI sekarang bertema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”.

Gelombang Unjuk Rasa Masyarakat

Di balik kata-kata indah itu, negara kita masih ramai gelombang unjuk rasa. Belum selesai satu isu, sudah muncul lagi isu lain. Dari tagar #Indonesiagelap, #kaburduluaja, hingga pengibaran bendera One Piece. Fenomena ini adalah tanda bahwa banyak rakyat yang menyimpan luka sosial dan politik. Faktornya pun beragam: kebijakan-kebijakan yang mengabaikan aspirasi, blunder politik pemerintah yang menimbulkan sikap diam terhadap ketidakadilan, dan lain sebagainya.

Dalam sehari, berita politik bermunculan begitu deras hingga masyarakat terkadang sulit mengetahui informasi yang akurat. Sebab, tanpa ilmu, data yang valid, dan wilayah yang tepat, komentar justru bisa memperkeruh keadaan tanpa menyelesaikan masalah. Di sinilah perlunya introspeksi.

Meski pemerintah bersalah, masyarakat juga perlu muhasabah. Selain mengenang sejarah kemerdekaan dan jasa para pahlawan, bulan Agustus merupakan momentum refleksi. Apalagi dengan fenomena tersebut yang tak kunjung reda, sekiranya penting menelusuri akar masalahnya.

Mengulik Kepemimpinan dan Kezaliman dalam Tafsir

Menurut beberapa mufasir, Al-Qur’an telah memberi peringatan berkenaan dengan persoalan sesungguhnya dari unjuk rasa warga. Allah Swt. berfirman dalam surah al-An’am ayat 129:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan oleh apa yang mereka usahakan.”

Ibn Abi Hatim meriwayatkan perkataan Malik ibn Dinar:

“Aku (Malik) membaca dalam kitab Zabūr: Sesungguhnya Aku (Allah) akan membalas orang munafik dengan orang munafik, kemudian Aku akan membalas orang-orang munafik seluruhnya.” Dan hal itu terdapat dalam Kitab Allah, yaitu firman-Nya: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan oleh apa yang mereka kerjakan.”[1]

Fakhr al-Din al-Razi menafsirkan ayat ini bahwa apabila rakyat bersikap zalim, maka Allah akan menimpakan kepada mereka seorang penguasa yang zalim seperti mereka. Jika mereka ingin terbebas dari penguasa zalim itu, maka hendaklah mereka meninggalkan perbuatan zalim.[2]

Baca Juga  Mengenal Hasyiyah Al-Shawi: Kitab Syarah atas Tafsir Jalalain

Istilah zalim ditegaskan oleh al-Qurtubi mencakup semua bentuk kezaliman, baik seseorang yang menzalimi dirinya sendiri, penguasa yang menzalimi rakyatnya, pedagang yang menzalimi manusia dalam perdagangannya, pencuri, dan selain mereka.[3]

Dengan demikian, kekecewaan terhadap pemimpin yang zalim bisa jadi cermin dari kezaliman yang juga dilakukan oleh masyarakatnya. Namun, ini bukan berarti menyalahkan rakyat. Kritik terhadap pemerintah memang wajar dan beralasan nyata, tetapi jangan berhenti pada kritik semata karena hubungan antara pemimpin dan rakyat adalah cerminan timbal balik yang saling memengaruhi.

Tafsir Al-Manar dan Konsep Sunatullah

Rashid Rida dalam tafsir al-Manar memaparkan lebih detail dengan konsep sunatullah. Ia menjelaskan Allah menjadikan sebagian manusia sebagai pemimpin atas sebagian lainnya bukanlah penciptaan baru, paksaan, atau peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sunnatullah.

Segala perbuatan manusia—baik lahiriah maupun batiniah—meninggalkan pengaruh, lalu menjadi kebiasaan, kemudian akhlak, dan akhirnya membentuk karakter yang mengakar. Oleh karena itu, manusia cenderung condong kepada yang serupa dalam sifat dan amal. Jika konsepnya tidak begitu, maka akan terjadi fitnah.[4]

Manusia saling bersekutu dengan yang setipe, bahkan melawan orang yang berbeda meski sama agamanya atau sebangsa dengannya. Tolok ukur keterikatan mereka terletak pada keserupaan yang dibentuk oleh amal, bukan sekadar identitas ataupun gelar.

Lebih jauh, tafsir al-Manar menyinggung bahwa bangsa-bangsa lain justru mengambil manfaat dari petunjuk Islam pada persoalan ini, sementara kaum Muslim sering meninggalkannya sebab lalai dari pelajaran Al-Qur’an dan sunatullah dalam kehidupan.

Rashid Rida menegaskan akibatnya, yaitu kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kepala pemerintahan, tetapi juga oleh para wakil rakyat yang seharusnya menjadi pengawas. Namun realitanya, wakil rakyat sering ditipu atau diperalat sebagian kalangan untuk menindas sebagian yang lain sehingga tidak lagi berpihak ke rakyat, melainkan ke penguasa.[5]

Baca Juga  Mufasir Progresif (2): Isu-Isu yang Menjadi Perhatian

Hadis Ibn Umar dan Persoalan Bangsa

Selain pandangan para mufasir, hadis riwayat ibn ‘Umar juga mengandung makna sejalan dengan sebagian persoalan bangsa ini. Ibnu ‘Umar r.a. berkata:

“Rasulullah datang kepada kami dan bersabda, ‘Wahai kaum Muhājirin, ada lima perkara—aku berlindung kepada Allah kalian tidak menemukannya:

  1. Tidaklah perzinaan tampak pada suatu kaum hingga mereka menampakkannya, melainkan akan merebak wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelum mereka.
  2. Mereka tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa paceklik, beratnya biaya hidup, dan kezaliman penguasa atas mereka.
  3. Mereka tidak menahan zakat harta, kecuali akan ditahan turunnya hujan dari langit; seandainya bukan karena binatang, niscaya mereka tidak diberi hujan.
  4. Mereka tidak melanggar perjanjian Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas mereka, lalu musuh itu merampas sebagian apa yang ada di tangan mereka.
  5. Dan selama para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah dan memilih-milih hukum dari apa yang Allah turunkan, niscaya Allah akan menimpakan pertikaian di antara mereka.’”[6]

Refleksi dan Perbaikan

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka memang bukan berarti bangsa ini akan bebas dari masalah. Justru masalah yang datang silih berganti menandakan negara selalu bertumbuh. Sebagaimana manusia yang tumbuh dewasa karena ditempa masalah dan pengalaman dalam hidupnya, begitu pula bangsa.

Hal yang krusial adalah bagaimana tidak terjerumus pada lubang yang sama. Namun, jika kita tak mampu mengubah pemimpin, maka setidaknya kita memerhatikan ranah yang dapat kita kendalikan, yaitu mengupayakan perubahan dari diri sendiri.

Menurut konsep sunatullah yang dijelaskan Rashid Rida sebelumnya, perubahan individu akan melahirkan kebiasaan baru, lalu membentuk lingkungan kecil yang sehat, hingga akhirnya memengaruhi lingkup yang semakin besar. Kontribusi ini tak kalah penting.

Baca Juga  Syuhudi Ismail; Pelopor Pengembangan Studi Hadis di Indonesia

Mari kita padukan kritik dan introspeksi. Semoga dari langkah perbaikan kita, Allah menjadikan Indonesia menjadi benar-benar bersatu, berdaulat, rakyatnya sejahtera, dan maju. Harapan ini tidak boleh berhenti pada sebagian kalangan saja, tetapi seluruh elemen bangsa ini harus terlibat—baik rakyat maupun pemerintah—agar tidak bertepuk sebelah tangan.


Daftar Pustaka

[1] Abd al-Rahman ibn Abi Hatim, Tafsir Al-Qur’an al-’Azim Li Ibn Abi Hatim, 3rd ed., vol. 4 (Maktabat Nizar al-Mustafa al-Baz, 1999), 1388.

[2] Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih Al-Ghaib, 3rd ed., vol. 13 (Dar Ihya al-Turath al-’Arabi, 2000), 150.

[3] Muhammad al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qu’an, vol. 7 (Dar al-Kitab al-Misriyyah, 1964), 85.

[4] Muhammad Rashid Rida, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (al-Manar), vol. 8 (al-Haiat al-Misriyyah al-’Ammah li al-Kitab, 1990), 88.

[5] Rida, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (al-Manar), 91.

[6] Muhammad ibn Yazid ibn Majah, Jami’ al-Sunan, 2nd ed. (Saudi Arabia: Dar al-Siddiq li al-Nashr, 2014), 845.

Editor: Dzaki Kusumaning SM