Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hakikat Pengetahuan: Antara Ilmu dan Makrifat

Sumber: istockphoto.com

Dalam bahasa Indonesia, sering kita mendengar atau menulis kata tahu dan mengetahui. Dalam KBBI online (2019) disebutkan bahwa kata tahu diartikan sebagai mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya), kenal (akan); mengenal, mengindahkan; memedulikan; mengerti; dan berpengertian. Dari kata ini, muncul kata pengetahuan yang diartikan segala sesuatu yang diketahui; kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Sehingga bagi orang yang memiliki pengetahuan biasa disebut berpengetahuan. Pada arti yang pertama, yaitu mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya), terkesan ada upaya yang dilakukan untuk memperoleh pengertian atau pengetahuan.

Dari kata tahu, ketika pengetahuan itu tersusun menurut metode tertentu, muncullah kata ilmu. Masih dalam KBBI online (2019), kata ilmu diartikan sebagai  pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang itu: atau pengetahuan atau kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya). Kata ilmu ini masih mengandung makna dari kata tahu, mengetahui, juga pengetahuan. Sehingga objek ilmu sering disebut keilmuan yaitu barang apa yang berkenaan dengan pengetahuan.

Menelisik Makna al-‘ilm dan al-Ma’rifah

Kedua kata ini dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan pengetahuan dan ilmu. Ketika ditemukan kata ‘alima dan ‘arafa dengan seluruh musytaq-nya, sering kali dimaknai sebagai tahu dan mengetahui. Dari kata ‘alima muncul kata ‘ilm, dan dari kata ‘arafa muncul kata ma’rifah bentuk mashdar mim dari kata ‘arafa, juga muncul bentuk kata ‘irfan. Bagaimana makna kedua kata ini dalam bahasa Arab?

Dalam Kamus al-Maany (https://www.almaany.com/), kata al-‘ilm diartikan sebagai pengetahuan akan hakikat sesuatu. Dikatakan pula, al-‘ilm ditujukan untuk secara menyeluruh (kulli) dan tersusun. Sementara al’ma’rifah ditujukan pada pada bagian tertentu dan bisa jadi melebar. Sehingga ketika dihubungkan dengan Allah, dikatakan ‘araftu Allah bukan ‘alimtuhu. Makna dari makhluk kepada Khalik.  Masih dalam kamus yang sama, al-‘ilm ditujukan bagi kumpulan permasalahan dan pokok pemikiran yang menyeluruh dengan satu arah metodologis (jihah wahidah), seperti halnya ilmu yang dikenal selama ini.

Baca Juga  Dari Teologi Tradisional menuju Teologi Sosial: Refleksi Asmaul Husna

Kata ‘arafa dalam Lisan al-Arab diartikan adrakahu bi ‘ilmihi, menemukan dengan ilmunya. Sementara dalam al-Mu’jam al-Wasith kalimat ‘arafa al-syai’ diartikan menemukan dengan persepsi pancaindera. Oleh karenanya, Allah tidak mengetahui sesuatu oleh persepsi pancaindera dan tidak dikatakan ‘arafa, bukan ‘arafa Allah. Adapun ilmu mungkin dicapai dengan media atau tidak dengan media tertentu. Oleh karenanya hal ini berkaitan dengan perbuatan Allah yang diisyaratkan dalam al-Qur’an yang menunjukkan pada pengetahuannya. Kata ‘arafa masih dalam al-Mu’jam al-Wasith digunakan pada sesuatu yang diketahui dengan perantaraan upaya. Sementara ‘alima digunakan pada sesuatu yang diketahui baik dengan perantaraan atau tidak. Dari makna terakhir ini seperti pengetahuan Allah yang azali.

***

Selanjutnya, al-‘ilm  dalam Britanica,  secara terminologi ditujukan suatu sistem pengetahuan yang berkaitan dengan dunia fisik dan fenomenanya dengan pengamatan empiris yang sistematis dengan cara yang objektif dan benar-benar tidak bias. Ilmu bertujuan untuk memperoleh hasil yang berguna dalam memfasilitasi kehidupan manusia dan memberinya kondisi ideal yang menjamin hidupnya dengan cara terbaik dan seimbang. Dari sini muncul istilah ilmu alam, sosial, logika, dan teknologi.

Adapun makrifat dalam bahasa Arab al-ma’rifah yang disepadankan dengan pengetahuan. Pemikiran Samuel Johnson tentang pengetahuan (al-ma’rifah) dan artinya dalam Dictionary of Meanings and Definitions, ia menyatakan bahwa pengetahuan ada dua jenis. Pertama, menemukan informasi itu sendiri. Kedua, tempat untuk mencari informasi yang diinginkan dan akhirnya mengaksesnya. Dalam filsafat,  ada teori yang dikenal sebagai the theory of knowledge yang berkisar pada apa yang diperoleh dari pengetahuan melalui pengalaman dan pengalaman hidup atau melalui kemampuan untuk berpikir secara naluriah, dan itu juga mengacu pada kemungkinan mengubah pengetahuan. Ide-ide baru muncul setelah serangkaian fakta tertentu.

Baca Juga  Proses Hujan dalam Tafsir Ilmiah: Tantawi Al-Jauhari

Ilmu dan makrifat keduanya adalah pengetahuan.  Namun ada perbedaan dalam arah dan perantaraan memperolehnya.

Sementara dalam dunia tasawuf, makrifat cenderung diartikan berbeda. Makrifat adalah tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai ke tingkat keyakinan yang kuat (KBBI, 2019). Makrifat diawali dengan pengetahuan tentang Allah Swt dan menjalani latihan spiritual yang mendalam. Ia menjadi puncak kedekatan hamba dengan-Nya.

Perbedaan Keduanya

Merujuk pada pemaparan di atas, sepertinya keduanya ada persamaan. Persamaannya terletak pada pengetahuan manusia. Adapun perbedaannya, merujuk pada sumber keislaman terutama pada Kamus al-Maany, al-‘ilm ditujukan untuk secara menyeluruh (kulli) dan tersusun. Sementara al-ma’rifah ditujukan pada pada bagian tertentu dan bisa jadi melebar.

Pada sisi filosofis, perbedaan di antara keduanya adalah bahwa pengetahuan (al-ma’rifah) merupakan konsep yang lebih komprehensif dan lebih luas yang terbagi menjadi empat bagian: nyata, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Sedangkan al-‘ilm (sains) mengarah pada spesialisasi dalam bidang tertentu yang berkembang melalui penelitian, studi, dan analisis. Sehingga pengetahuan ilmiah memiliki karakteristik tertentu yang tidak dapat dicapai tanpanya, yaitu objektivitas dalam penelitian, ketidakberpihakan etis, eksplorasi sistematis, keandalan informasi, akurasi dalam penyelidikannya, penentuan berdasarkan kesimpulan yang benar, dan abstraksi lengkap.

Memperhatikan beberapa definisi keduanya, para ahli bahasa dan ilmu ternyata memiliki pandangan yang beragam. Hal ini akan mengemuka ketika keduanya masuk pada wilayah kajian keilmuan tertentu. Namun, ujungnya bermuara pada satu dasar, yaitu pengetahuan manusia akan objek yang ingin diketahuinya. Kedua istilah ini bagaimana pun penting untuk dikaji lebih lanjut. Wallahu A’lam.

Editor: An-Najmi