Apa jadinya jika sebuah kitab tafsir–yang seharusnya menjadi jembatan memahami Al-Qur’an–melarang pembacanya menggunakan rakyu (pendapat pribadi), tetapi kemudian menuntut untuk menerima penafsiran yang secara metodologi terlihat seperti pendapat pribadi yang dipaksakan? Inilah paradoks yang kita temukan dalam Kitab al-Safi fi Tafsir al-Qur’an. Sebuah kitab tafsir karya monumental Mulla Muhsin Fayd Al-Kashani (w. 1091 H/1680 M). Salah satu tafsir terkemuka dari ...


























Kanal Tafsir Mencerahkan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.