Sejarah Pemikiran Manusia Manusia sebagai makhluk yang progresif, selalu berubah ubah setiap zaman. Karena disebabkan oleh faktor lingkungan dan alam, memaksa mereka untuk beradaptasi dengan keadaan. Hal itu selaras seperti maqalah para ulama dan cendekiawan, “al-insanu hayawanun nathiq (manusia adalah hewan yang berfikir). Kemampuan manusia sebagai makhluk yang berfikir membedakannya dengan makhluk lain. Karena manusia sendirilah yang memiliki ‘akal maka ...
(Telaah Tafsir Transformatif Kuntowijoyo Atas Qs. Ali Imron: 110)Kemajuan teknologi menyebabkan massifikasi mobilitas sosial, industrialisasi, dan akselerasi informasi Namun, di balik itu, berbagai krisis moral menimpa manusia modern. Sekularisme, hedonisme, materialisme dan birokratisasi telah menimbulkan perbagai penindasan struktural, objektivasi manusia, kesenjangan sosial dan aleniasi diri dalam masyarakat Indonesia dewasa ini. Dalam peradaban industri, agama dianggap sebagai penghalang kemajuan. Sikap freudianistik ...
Siapa yang tak kenal Kuntowijoyo? Salah satu seorang pemikir muslim Indonesia yang sangat konsen dalam bidang transformasi sosial, bahkan agama ini datang untuk manusia, bukan untuk Allah swt. walaupun seorang Islam harus menjunjung tinggi nilai-nilai transendental Allah swt. atau tauhid. Karena menurutnya, manusia harus selalu melakukan perubahan sosial dan al-Qur’an harus menjadi paradigma pemikirannya. Karena Islam adalah agama transformatif, yang ...
Di tengah-tengah perdebatan hadir sosok Kuntowijoyo dengan teori ilmu integral sebagai sintesis dari tesis (ilmu sekuler) dan anti-tesis (islamisasi ilmu). Teorinya berangkat dari pendekatan sintetik-analitik bahwasannya al-Qur’an memuat teori sebagai konsep dasar dan kisah/sejarah sebagai amtsal. Teori itu kemudian kita pahami sebagai teks, sedangkan amtsal kita pahami sebagai konteks. Dalam buku Islam sebagai ilmu Kuntowijoyo sebenarnya hendak menegaskan bahwasannya kita ...




























Kanal Tafsir Mencerahkan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.