Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kelemahan Manusia dalam Al-Qur’an: Telaah Ayat Psikologi

Psikologi Manusia
Sumber: id.pinterest.com

Manusia adalah makhluk yang rumit dan memiliki sifat yang paradoks, diakui oleh agama dan ilmu pengetahuan. Manusia dianugerahi potensi luar biasa untuk mencapai puncak kebaikan dan hidup harmonis, serta berperan sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab memajukan alam semesta. Potensi luhur ini diwujudkan melalui akal dan hati nurani yang memberikannya kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan keburukan.[1]

Meskipun memiliki potensi luhur, manusia juga memiliki kelemahan internal yang rentan menjerumuskannya. Hal ini adalah bagian dari desain penciptaan yang menuntut perjuangan berkelanjutan. Al-Qur’an secara jujur mengakui sisi gelap ini dan menggambarkannya secara eksplisit dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19-21. Ayat-ayat tersebut mengidentifikasi tiga sifat dasar manusia yang negatif. Di antaranya adalah cemas atau gelisah (halu’an), mudah berkeluh kesah saat ditimpa musibah (jazu’a), dan kikir atau enggan berbagi (manu’a).[2]

Analisis Tekstual QS. Al-Ma’arij: 19-21

QS. Al-Ma’arih: 19-21 menjelaskan karakteristik unsur kepribadian yang mencerminkan sifat-sifat psikologis dan moral seseorang yang membentuk individualitas khasnya. Karakter itu sendiri mencakup sikap, kebiasaan, pola pikir, serta nilai-nilai sosial dan emosional yang membentuk tindakan dan respons etis seseorang.[3]

Namun, sifat yang dijelaskan dalam QS. al-Ma’arij:19-21 ini adalah sifat yang sering kali menjadi akar dari berbagai masalah psikologis dan sosial. Kecemasan yang tidak terkendali dapat menggerogoti ketenangan batin, sementara sikap berkeluh kesah mematikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Demikian pula, sifat kikir tidak hanya menghalangi rezeki, tetapi juga menciptakan sekat sosial dan spiritual.[4]

Ketiga ayat di atas menyoroti karakteristik dasar manusia yang sering kali terperangkap dalam sifat negatif, yang dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang, yakni sebagai berikut:

  1. Halu’a adalah sifat yang sangat intens dan melekat pada diri manusia. Ia berasal dari kata yang berarti gelisah dan ketakutan. Syeikh al-Tantawi menjelaskan bahwa halu’a merujuk pada kecenderungan manusia untuk cepat merasa tidak puas dan mengeluh saat menghadapi kesulitan atau ujian. Intinya, sifat ini mencerminkan sikap tergesa-gesa, di mana manusia mudah putus asa dan ingin masalah segera teratasi tanpa melalui proses.
  2. Jazu’a adalah kata yang berasal dari lafaz jazi’a-yajza’u yang bermakna terlalu mengeluh atau tidak bersabar ketika menghadapi kesusahan. Beberapa ulama berpendapat bahwa jazu’a memiliki arti orang yang banyak mengeluh dan takut (tak sabar dalam menghadapi cobaan). Ini mencerminkan kelemahan mental manusia yang tidak siap menghadapi ujian. Syeikh al-Tantawi menekankan bahwa sifat ini muncul karena lemahnya hubungan seseorang dengan Tuhan.
  3. Manu’a berarti kikir dan enggan berbagi. Kata ini juga dapat berarti orang yang banyak menahan nikmat Allah Swt. dan enggan memberikan sebagian darinya kepada orang-orang yang membutuhkan ketika memperoleh nikmat. Syekh Thantawi menjelaskan sifat ini merupakan kecintaan seseorang terhadap harta dan keengganan untuk berbagi.[5]
Baca Juga  Memaknai 'Jiwa yang Tenang' dalam Tafsir & Psikologi

***

Ketiga ayat di atas menjelaskan sifat alami manusia yang suka tergesa-gesa. Saat menghadapi cobaan, seperti kemiskinan atau penyakit, manusia cenderung mengeluh, tak sabar, dan terfokus hanya pada penderitaan yang  ia alami. Sebaliknya, ketika diberi kenikmatan atau harta, ia menjadi kikir dan enggan berbagi. Sifat mengeluh menunjukkan putus asa dan kurangnya ketabahan dalam menghadapi ujian hidup. Sementara itu, sifat kikir mencerminkan sikap egois dan kurangnya rasa syukur, padahal rezeki adalah amanah yang harus dibagikan. Kekikiran ini jika meluas, akan memperlebar kesenjangan sosial dan ketidakadilan.[6]

Korelasi Antara QS. Al-Ma’arij: 19-21 dan Konsep Psikologi

Konsep halu’a, jazu’a, dan manu’a memiliki korelasi yang erat dengan konsep psikologi modern, yang sifat-sifat yang dipaparkan dalam al-Qur’an. Di antaranya ialah sebagai berikut:

1.     Halu’a (Kecemasan)

Sifat halu’a memiliki korelasi erat dengan kecemasan (anxiety) dalam psikologi modern. Kecemasan adalah respons alami untuk bahaya, tetapi menjadi gangguan umum (Generalized Anxiety Disorder) bila berlebihan dan tidak terkendali. Gangguan tersebut ditandai dengan adanya kekhawatiran yang persisten dan tidak proporsional. Al-Qur’an menganggap halu’a sebagai sifat bawaan yang harus dikelola, bukan dihilangkan. Hal ini sejalan dengan teknik psikologi seperti Terapi Perilaku Kognitif (CBT), yang mengajarkan individu untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif untuk mengendalikan kecemasan agar tidak menguasai hidup.[7]

2.     Jazu’a (Ketakutan)

Jazu’a diibaratkan sebagai badai petir. Hal ini adalah respons panik atau trauma mendadak terhadap tekanan intens yang memicu reaksi fisik, seperti jantung berdebar (respons “melawan atau lari”). Sifat ini mencerminkan ketidakstabilan emosional saat krisis, di mana emosi mengalahkan akal sehat. Kondisi ini dapat berujung pada tindakan irasional atau, secara psikologis, mengarah pada PTSD. Ajaran Al-Qur’an mengatasi jazu’a dengan menekankan pentingnya ketenangan (sakinah) dan kesabaran untuk membangun kembali rasa aman dan kontrol diri.[8]

Baca Juga  Pentingnya Perkenalan Sebelum Nikah: Perspektif Psikologi

3.     Manu’a (Kikir atau Pelit)

Manu’a adalah manifestasi dari egoisme ekstrem yang bisa dikaitkan dengan gangguan narsistik (NPD). Kemunculannya ditandai dengan kikir, penimbunan sumber daya (materiil dan emosional), serta kurangnya empati terhadap orang lain. Sifat ini muncul dari rasa tidak aman dan memutus keterikatan sosial. Ajaran untuk melawan manu’a dengan sedekah (memberi) berfungsi sebagai mekanisme psikologis yang efektif. Ia membangun koneksi sosial, menumbuhkan empati, dan memecah siklus egoisme, sehingga menyehatkan mental dan sosial.[9]

Al-Qur’an sebagai Penawar Kelemahan Psikologis Manusia

Al-Qur’an mengorelasikan sifat bawaan manusia dengan solusi islami yang hadir sebagai penawarnya. Pertama, halu’a dengan solusinya, yang disebutkan dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19-22, yaitu salat. Melalui salat yang rutin dan khusyuk, seseorang dapat mengelola kecemasan alaminya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menawarkan pengelolaan spiritual untuk sifat psikologis tersebut.[10]

Kedua, Untuk mengatasi jazu’a, Al-Qur’an menawarkan kesabaran (sabar) dan tawakal (bergantung penuh pada Allah) sebagai penawar. Ajaran ini membangun ketahanan mental dan spiritual karena meyakini Allah adalah pelindung sejati, sehingga menghilangkan ketakutan berlebihan.[11]

Ketiga, Untuk mengatasi manu’a, yang timbul dari kecintaan berlebihan pada harta, Al-Qur’an menyarankan infak (berbagi) dan sedekah. Tindakan memberi ini berfungsi ganda: membantu sesama dan melatih diri untuk melepaskan keterikatan dunia. Infak dan sedekat juga dapat memperkuat keyakinan akan jaminan rezeki dari Allah.[12]

Kesimpulan

Secara garis besar, Surah Al-Ma’arij ayat 19-21 secara akurat mengidentifikasi tiga kelemahan psikologis fundamental manusia, yaitu cemas (halu’a), mudah mengeluh (jazu’a), dan kikir (manu’a). Ketiga karakteristik tersebut dianggap sebagai bagian alami dari penciptaan. Tulisan ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga pedoman praktis yang menawarkan solusi spiritual dan psikologis (seperti salat, sabar, dan sedekah) untuk mengelola dan mengatasi kelemahan batin tersebut.

Baca Juga  Ketenangan Jiwa di Era Modern: Renungan QS Al‑Insyirah

Daftar Pustaka

[1] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar Ilmu Agama, (Bandung: Mizan, 2017), h. 56 – 57.

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 14, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), h. 289.

[3] Fathul Zannah, “Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Berbasis Al Qur’an: Integration of the Values of Character Education Based on the Qur’an”, Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 05, No. 02, (2020), h. 1233.

[4] Abdul Mu’ti, Studi Psikologi Qur’ani tentang Karakteristik Manusia dalam Surat Al-Ma’arij“, Jurnal Studi Islam dan Psikologi, Vol. 8, No. 1, (2022), h. 112.

[5] Muhammad Sayyid Thanthawi, Al-Tafsir Al-Wasit li Al-Qur’an Al-Karim, Jilid 14, (Kairo: Dar Nahdhah Misr li al-Tiba’ah wa al-Nashr, 2005), h. 139 – 141.

[6] Fahru Rozi dkk, “Karakteristik Manusia menurut Syekh Muhammad Sayyid Thantawi dalam Tafsir Al-Wasith: Studi Surah Al-Ma’arij Ayat 19-21”, Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam, Vol. 06, No. 02, (Agustus, 2025), h. 685

[7] B.S. Hartono, Psikologi Kepribadian: Teori dan Terapi, (Jakarta:  Erlangga, TT), h. 56-58.

[8] K. E. Wiguna, “Mekanisme Respons Stres: Dari Ketakutan hingga Panik”, Jurnal Psikologi Indonesia, Vol. 01, No. 02, (2019), h. 45 – 58.

[9] Alwisol, Psikologi Kepribadian,(Malang: UMM Press, tt), h. 40 – 45.

[10] Ihsan, Mengelola Kecemasan dalam Perspektif Islam“, dalam Psikologi Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Bayan, 2019), h. 45.

[11] Siti Aisyah, Sabar dan Tawakal sebagai Fondasi Ketahanan Mental“, Jurnal Studi Islam, Vol. 7, No. 2, (2020), h. 120.

[12] Muhammad Ali, Sifat Kikir dan Solusi Spiritualnya,” dalam Ensiklopedia Akhlak Muslim, (Bandung: Mizan, 2018), h. 78.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID