Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

“Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka adalah syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (pangkal ayat 25) Keras kepala nerakalah ancamannya. Tetapi kepatuhan dijanjikan masuk syurga. Sedangkan yang diajak buat kepatuhan itu ialah hal yang masuk di akal dan hal untuk keselamatan hidup sendiri di dunia ini, bukan memaksa yang tidak dapat dikerjakan. “Tiap-tiap kali diberikan ...

“Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang menyalakannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (ayat 24). Kalau kamu sudah nyata tidak sanggup menandingi al-Quran, dan memang selamanya kamu tidak akan sanggup, baik susun kata atau makna yang terkandung di dalamnya, maka janganlah diteruskan juga ...

“Dan jika adalah kamu dalam keraguan dari hal apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami.” (pangkal ayat 23) Hamba kami yang Allah maksudkan ialah Nabi kita Muhammad s.a.w, satu ucapan kehormatan tertinggi dan pembelaan atas diri beliau. Dan yang kami turunkan itu adalah al-Quran. Di ayat kedua permulaan sekali, Tuhan telah menyatakan bahwa al-Kitab itu tidak ada lagi keraguan ...

Fikirkanlah olehmu hai manusia, akan Tuhanmu itu: Yang telah menjadikan untuk kamu akan bumi, jadi hamparan (pangkal ayat 22) Terbentang luas sehingga kamu bisa hidup makmur di atas hamparannya itu. “Dan langit sebagai bangunan” yang dapat dirasakan melihat awannya yang bergerak di waktu siang dan bintangnya yang gemerlap di waktu malam dan mataharinya yang memberikan sinar dan bulannya yang gemilang ...

Martabat dan tingkat yang dapat dicapai oleh orang yang beriman karena menerima petunjuk Tuhan sudah diterangkan, sebab-sebab orang menjadi kafir pun sudah dijelaskan. Orang yang pecah rohani dengan jasmaninya sehingga menjadi munafikpun sudah. Manusia mempergunakan akalnya sudahlah dapat mengerti jalan mana yang akan dia tempuh, jalan selamat atau jalan celaka. Sekarang dihentikan itu dahulu dan disuruhlah manusia supaya dengan fikiran ...

“Nyarislah kilat itu menyambar penglihatan mereka.” (pangkal ayat 20). Oleh karena mereka meraba-raba di dalam gelap, terutama kegelapan jiwa, maka kilat yang sambung-menyambung yang mereka takuti itu nyarislah membawa celaka mereka sendiri. Demikianlah, bagi orang mukmin kilat itu tidak apa-apa. Penglihatan mereka tahan melihat guruhnya dan melihat pancaran apinya yang hebat itu, tetapi si munafik menjadi kebingungan karena tidak tentu ...

“Perumpamaan mereka adalah laksana orang yang menyalakan api.” (pangkal ayat 17). Mengapa api mereka nyalakan? Ialah karena mereka mengharap mendapat terang dari cahaya api itu: “Maka tatkala api itu telah menerangi apa yang di sekelilingnya, dihilangkan Allahlah cahaya mereka.” Api telah mereka nyalakan dan telah menggejolak naik dan yang di sekelilingnya telah diberinya cahaya, tetapi mata mereka sendiri tidak melihat ...

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, me’reka berkata: “Kami ini telah beriman”, dan apabila mereka telah bersendirian dengan syaitan-syaitan mereka, mereka katakan: “Sesungguhnya kami adalah (tetap) bersama kamu, kami ini hanyalah mengolok-olokkan mereka itu.” (ayat 14) Inilah kelanjutan dari perangai munafik; bila berhadapan mulutnya manis, bila di belakang lain bicara. Apa sebab jadi begini? Tidak lain adalah karena ...

“Dan apabila dikatakan orang kepada mereka: “Berimanlah sebagaimana telah beriman manusia (lain)”, mereka jawab: “Apakah kami akan beriman sebagaimana berimannya orong-orang yang bodoh-bodoh itu? Ketahuilah, sesungguhnya mereka itulah yang bodoh-bodoh, akan tetapi mereka tidak tahu.” (ayat 13). Inilah rahasia pokok. Merasa diri lebih pintar. Merasa diri turun derajat kalau mengakui percaya kepada Rasul, sebab awak orang berkedudukan tinggi selama ini, ...

“Di dalam hati mereka ada penyakit.” ayat 10 Pokok penyakit yang terutama di dalam hati mereka pada mulanya ialah karena pantang kelintasan, merasa diri lebih pintar. Kedudukan rasa terdesak, yang dilawan terasa lebih kuat, inilah penyakit ingin tinggi sekepala, tetapi tidak mau mengaku terusvterang. Akan nyata-nyata menolak, takut akan terpisah dari orang banyak. Itulah yang menyebabkan sikap zahir dengan sikap ...