Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surah An-Nisa’ Ayat 142: Ciri Orang Beriman Tapi Munafik

Orang Munafik
Gambar: https://www.kibrispdr.org/

Di akhir zaman ini, banyak dari kalangan manusia yang ketika dia ditanya agamanya adalah agama Islam. Namun selalu meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim. Atau yang kita sebut Islam KTP. Mereka tidak mengenali apa hakikat iman di dalam hatinya. Sehingga, kebanyakan mereka berbuat baik dengan niat mendapatkan pujian orang serta sedikit mengingat kepada Allah. Dengan ini, mari kita menggali ciri orang beriman padahal hatinya munafik dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’.

Tafsir Al-Qur’an An-Nisa’ Ayat 142

Dijelaskan dalam surah An-nisa’ bahwa definisi orang munafik adalah orang yang menipu Allah, yaitu dengan menampakkan hal-hal yang berlawanan dengan kekafiran yang mereka sembunyikan dengan maksud menghindari hukum-hukum keduniaan yang bertalian dengan itu. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah pada permulaan surah Al-Baqarah: 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman”

Dalam menghadapi orang-orang munafik, Allah berfirman dalam surah ini:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

“Dan Allah akan membalas tipuan mereka”

Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati. Allah tidak dapat tertipu. Namun orang-orang munafik itu karena minimnya pengetahuan dan wawasan mereka sehingga mereka menduga bahwa perkara mereka adalah seperti yang terlihat oleh manusia dan pemberlakuan syariat atas diri mereka secara lahiriyah. Dan mereka menduga bahwa di Akhirat-pun perkara mereka akan sama seperti itu juga. Perkara mereka di sisi Allah adalah seperti apa yang diperlakukan terhadap mereka di Dunia.

Allah menceritakan perihal mereka, bahwa di hari kiamat kelak mereka berani bersumpah kepada Allah bahwa mereka berada di jalan yang lurus dan benar. Dan mereka menduga pula bahwa hal tersebut akan memberikan manfaat kepada mereka. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman Allah:

Baca Juga  Janji dalam Al-Qur'an: Perbedaan makna Al-Wa’d dan Al-‘Ahd

 “(Ingatlah) hari (ketika) mereka dibangkitkan  Allah semuanya  lalu  mereka  bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang  musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian.” (QS. Al-Mujadalah: 18)

Adapun pengertian firman Allah:

وَهُوَ خَادِعُهُمْ

“Dan Allah membalas tipuan  mereka” (An-Nisa’: 142}

Adalah berarti allah menyeret mereka dengan perlahan –lahan ke dalam kesesatan dan keangkaramurkaan, membutakan mereka dari perkara yang hak dan untuk  sampai kepadanya di dunia. Demikianlah keadaan  mereka  nanti  pada hari kiamat.

Ciri-ciri Orang Beriman Tapi Munafik

Ketika shalat mereka kerjakan dengan malas. Dalam firman-Nya:

وَإِذا قامُوا إِلَى الصَّلاةِ قامُوا كُسالى

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengna malas” (An-nisa’:142)

Mereka berdiri melakukan shalat penuh dengan kemalasan. Karena tidak ada niat dan iman bagi mereka untuk melakukannya, tidak ada rasa takut, dan tidak memahami makna shalat yang sesungguhnya.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari jalur Ubaidillah ibnu Zahr, dari Khalid ibnu Abu Imran, dari Atha’ Ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan: Hukumnya makruh bagi seseorang berdiri untuk shalat dengan sikap malas, melainkan ia harus bangkit kembali untuk menunaikan dengan gembira. Karena sesungguhnya dia akan bermunajat kepada Allah dan sesungguhnya Allah berada di hadapannya. Memberikan ampunan kepadanya jika dia berdoa kepada-Nya. Kemudian Ibnu Abbas membacakan ayat ini: “Dan apabila mereka (orang-orang) munafik berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas”

Riya’

Ciri kedua orang munafik adalah riya’. Riya’ adalah melakukan suatu kebaikan yang ingin dilihat orang lain, dengan tujuan agar mendapatkan pujian orang lain. Dijelaskan dalam lanjutan surah an-Nisa’ ayat 142:

يُرَاءُونَ النَّاسَ

“Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia”

Ini menjelaskan bahwa tidak ada ikhlas bagi mereka dan amal mereka bukan karena Allah melainkan hanya ingin disaksikan oleh manusia untuk melindungi diri mereka dari manusia, mereka melakukannya dengan dibuat-buat. Karena itu mereka sering meninggalkan shalat yang sebagian besarnya tidak kelihatan di mata umum, seperti shalat isya’ di hari yang gelap. Lebih lanjut di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda:

Baca Juga  Kurban dan Cinta

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada, niscaya mereka akan mendatanginya. Sekalipun dengan merangkak. Dan sesungguhnya aku telah berniat akan memerintahkan agar shalat didirikan, kemudian aku memerintahkan seorang laki-laki sebagai imam bersama orang-orang. Lalu aku sendiri berangkat bersama-sama sejumlah orang yang membawa seikat kayu (masing-masingnya) untuk menuju ke tempat kaum yang tidak ikut salat (berjamaah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api”

Sedikit Mengingat Allah

وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (An-Nisa: 142)

Yakni dalam shalat mereka, mereka tidak khusyu’ mengerjakannya dan tidak mengetahui apa yang diucapkannya. Bahkan dalam shalat itu lalai dan bermain-main serta berpaling dari kebaikan yang seharusnya mereka kehendaki.

Imam Malik meriwayatkan dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah telah bersabda; itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik. Dia duduk seraya memperhatikan matahari di saat metahari berada di antara dua tanduk setan (yakni saat-saat hendak tenggelam), barulah ia berdiri lalu mematuk (maksudnya shalat dengan cepat) sebanyak empat patukan (rakaat) tanpa menyebut Allah kecuali sedikit sekali

Orang Munafik dalam Kebimbangan

Dapat disimpulkan disini, bahwasanya orang munafik itu dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran, mereka tidak bersama golongan orang-orang mukmin lahir dan batinnya, tidak pula bersama golongan orang-orang kafir lahir batinnya. Dengan kata lain, lahirian mereka bersama orang-orang mukmin, tetapi batinnya bersama orang-orang kafir.

Di antara mereka ada orang yang pendiriannya labil lagi ragu. Selain itu adakalanya cenderung kepada kafir, adakalanya mereka condong pada orang-orang mukmin. Akhirnya semoga Allah menetapkan hati kita serta iman kita tetap dalam agama-Nya yang rahmatan lil ‘alamiin. Wallahu a’lam bi shawwab

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Seimbangkan Antara Harapan dan Ikhtiar: Pesan QS. Al-Syarh Ayat 7-8