Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kaidah Memahami Kisah Al-Quran Menurut As-Sya’rawi

Kisah Al-Quran
Gambar: Kompas.com

Al-Quran merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup umat Islam. Di dalam Al-Quran terdapat berbagai kandungan baik tentang ibadah, muamalah, akhlak, hingga terkait kisah-kisah umat terdahulu.

Adapun latar belakang pembahasan topik ini adalah karena kisah identik dengan suatu yang dibuat-buat. Akan tetapi tidak dengan kisah dalam Al-Quran. Oleh karena itu, pada kali ini penulis akan membahas bagaimana cara memahami kisah-kisah tersebut menurut Mutawalli As-Sya’rawi.

Pengertian dan Pendapat Ulama terhadap Kisah dalam Al-Quran

Kata kisah dalam Al-Quran berasal dari bahasa Arab yakni qassha قص yang artinya penelusuran jejak. Menurut Quraish Shihab dalam Kaidah Tafsir, kisah dapat juga dimaknai sebagai menelusuri sebuah kejadian dan peristiwa dengan cara mengetahui tahapan kronologis terjadinya kejadian tersebut. Selain itu, terdapat pula Manna al-Qathan yang mendefinisikan kisah sebagai penjelasan tentang peristiwa yang berkaitan dengan nabi maupun umat terdahulu.

Seperti yang disebutkan dalam Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab, para ulama terbagi menjadi dua sikap dalam memahami kisah-kisah dalam Al-Quran yakni: pertama, kelompok ulama yang memahami bahwa sebagian kejadian dalam kisah Al-Quran merupakan simbolik atau perumpamaan saja, atau dengan kata lain yang menjadi fokus utama adalah kandungan dibalik kisah tersebut.

Kedua, mereka yang meyakini bahwa segala kejadian yang disebutkan dalam kisah Al-Quran benar-benar pernah terjadi di masa lalu dan dapat dibuktikan dengan melakukan penelitian terhadap fakta sejarah.

Hakikat Kisah

  • Tujuan Kisah Al-Quran

Sebelum membahas tentang tujuan kisah, menurut Nadirsyah Hosen dalam Tafsir Al-Quran di Medsos perlu diketahui bahwa kisah dalam Al-Quran terbagi menjadi tiga bentuk yakni: pertama, kisah yang menitikberatkan cerita pada sifat dan karakter tokoh atau pelaku cerita. Kisah seperti ini biasanya menceritakan tentang Nabi maupun bukan seperti kisah tentang Nabi Ayyub as.

Baca Juga  Matan Lengkap Hadis Niat

Kedua, kisah yang menitikberatkan pada apa yang telah dialami oleh komunitas atau kaum terdahulu. Kisah yang jejak peninggalannya masih dapat terlacak maupun tidak. Contohnya adalah kisah kaum Sodom, Tsamud, dan ‘Ad. Ketiga, kisah yang memiliki tokoh yang samar, sehingga pembaca diharapkan dapat lebih fokus pada hikmah dari kisah tersebut. Contohnya kisah tentang ditenggelamkannya Qarun beserta harta bendanya ke dalam perut bumi.

  • Unsur dan Ragam Jenis Kisah

Sama seperti kisah pada umumnya, kisah dalam Al-Quran pun memiliki beberapa unsur di dalamnya seperti al-ahdats atau peristiwa, al-asykhasy atau para tokoh, serta al-hiwar atau dialog.

Pertama, peristiwa. Penyampaian peristiwa dalam kisah Al-Quran dilakukan secara bertahap sesuai kronologi atau berulang sesuai dengan titik tekan atau hikmah kisah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kedua, para tokoh. Dalam Al-Quran, tokoh yang digunakan di antara para Nabi maupun Rasul, kaum terdahulu, orang yang saleh, hewan, maupun bangsa jin. Ketiga, dialog. Penyebutan dialog dalam Al-Quran menunjukkan agar para pembaca dapat seolah-olah menyaksikan dan mendengarkan dialog tersebut secara langsung.

Cara Memahami Kisah Al-Quran Perspektif As-Sya’rawi

Beberapa prinsip yang digunakan As-Sya’rawi dalam memahami kisah diantaranya: Apabila suatu kisah tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka peristiwa tersebut dapat terulang. Jadi, dapat dipahami jika sebuah kisah menggunakan tokoh cerita yang disamarkan atau tidak disebutkan secara detail mengenai asal usulnya. Maka titik berat dalam kisah tersebut adalah makna atau hikmah yang terdapat di dalamnya.

Contohnya seperti kisah Firaun dan Dzulqarnain. Kisah itu bercerita tentang pemimpin yang dzalim dan baik yang mungkin akan terulang di masa depan.

Kedua, kebalikan dari prinsip pertama. As-Sya’rawi menyebutkan apabila Al-Quran menyebut nama tokohnya, maka peristiwa itu tidak akan terulang. Hal ini dapat dilihat pada kisah Maryam binti Imran yang mampu melahirkan seorang anak laki-laki yakni Nabi Isa AS tanpa seorang ayah karena kebesaran Allah Swt. dan peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi lagi.

Baca Juga  Perkembangan Tafsir di Dunia Muslim Non Arab

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diketahui bahwa kisah dalam Al-Quran bukanlah khayalan ataupun fiktif yang tidak bermakna. Melainkan kisah tentang para Nabi, Rasul, orang-orang saleh, umat terdahulu maupun kisah-kisah simbolik yang memiliki hikmah di dalamnya.

Adapun kaidah untuk memahami kisah, dapat menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh As-Sya’rawi. Yakni apabila kisah Al-Quran tidak menyebutkan nama tokoh secara eksplisit maka kejadian tersebut dapat terulang. Sebaliknya, apabila suatu kisah menyebutkan nama tokohnya secara jelas maka kisah tersebut tidak mungkin terulang.

Penyunting: Bukhari