Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Buah Memperoleh Lailatul Qadar

Qadar
Sumber: istockphoto.com

Istilah Lailatul Qadar terdapat dalam Al-Quran surat ke-97, yakni Al-Qadr.

Sungguh, telah Kami turunkan (wahyu ini) pada Lailatul Qadar – Malam yang Agung. Tahukah kamu apakah Malam yang Agung itu? Malam yang Agung lebih baik daripada seribu bulan. Ketika itu para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan, menjalankan setiap perintah. Damai! Inilah, sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr/97:1-5)

Ketika Berkah Wahyu Allah menembus

Kegelapan jiwa manusia!

Segala Kekuatan, dari dunia ilahi,

Menyampaikan Pesan Ampunan yang penuh pengertian yang dalam,

Atas perintah Allah, dan memberkahi setiap ceruk

Dan sudut hati! Semua keributan

Menjadi tenang dalam pengaruh Kedamaian sempurna.

Sampai Malam fana ini digantikan oleh

Hari gemilang dalam dunia abadi!

(Abdullah Yusuf Ali)

Malam Penuh Berkah

Lailatul Qadar adalah malam Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Ayat lain menyebut waktu penurunan Al-Quran itu sebagai Lailatun Mubarakah, Malam yang diberkati, dalam surat ke-44, Ad-Dukhan.

Ha-mim. Demi Kitab yang jelas, Kami turunkan pada malam yang penuh berkah; sungguh Kami telah memberi peringatan. Pada malam itu dibedakan setiap perkara yang penuh hikmah. Dengan perintah dari Kami Sendiri; sungguh Kami Yang mengirimkan wahyu. Sebagai rahmat dari Tuhanmu; sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS Ad-Dukhan/44:1-6).

Allah swt menegaskan bahwa Al-Quran itu diturunkan pada bulan Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan itulah Al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara hak dan batil)… (QS Al-Baqarah/2:185).

Selain penurunan Al-Quran, Allah swt mengistimewakan malam hari untuk beberapa hal.

Wahai orang yang berselimut Bangunlah (untuk melakukan shalat) malam ini, yang hanya sebagian kecil. Separuhnya atau kurangi dari itu sedikit. Atau lebihkanlah dan bacalah Al-Quran dengan perlahan. Segera akan Kami turunkan kapadamu perkataan yang berat. Sungguh bangun malam sangat kuat (mengisi jiwa) dan lebih sesuai mengucapkan kata (shalat dan pujian). (QS al-Muzzammil/73:1-6)

Baca Juga  Memuhammadiyahkan Rizieq Shihab

Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Tuhanmu agungkanlah! Pakaianmu bersihkanlah! Perbuatan dosa tinggalkanlah! Janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS al-Muddatsir/74:1-7)

Dalam surat yang lain Allah swt berfirman,

Dirikanlah shalat pada waktu matahari tergelincir sampai gelap malam, dan dirikan pula shalat subuh, karena shalat dan bacaan subuh itu disaksikan. Dan pada waktu malam, shalat tahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat. Katakanlah: “Tuhanku, masukkanlah aku ke jalan masuk yang benar dan terhormat, dan keluarkanlah aku dari jalan keluar yang benar dan terhormat, dan berilah aku dari pihak-Mu kekuasaan yang dapat menolongku. Dan katakanlah: “Kebenaran sekarang telah datang dan kebatilan telah binasa, dan kebatilan akan selalu binasa.” Kami turunkan setahap demi setahap Al-Quran yang menjadi obat dan rahmat bagi orang beriman, tetapi bagi orang yang durjana hanya akan menambah kerugian demi kerugian. (QS Al-Isra`/17:78-82)

Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Orang-orang yang memperoleh Lailatul Qadar niscaya makin cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya dalam pengertian yang seluas-luasnya. Parameter cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya terdapat dalam surat At-Taubah 24 berikut.

Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai,- lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang menyepelekan ajaran-Nya. (QS At-Taubah/9:24)

Hati manusia melekat pada sanak keluarga — orang tua, anak, saudara, suami atau istri, atau kerabat lainnya; harta kekayaan, perdagangan atau segala sarana yang akan memberi keuntungan, atau gedung yang hebat untuk kemegahan dan kenyamanan; kalau semua itu merupakan hambatan menuju ke jalan Allah, kita tinggal memilih, mana yang lebih kita cintai. Kita harus mencintai Allah sekalipun dengan mengorbankan yang lain-lain.

Baca Juga  Rahasia Besar di Balik Penamaan Lailatul Qadar

Kalau kita mencintai segala yang bertalian dengan kenyamanan hidup dunia, keuntungan dan kesenangan, melebihi kecintaan kita kepada Allah, dan karenanya perjuangan di jalan Allah tidak dapat dipenuhi, yang akan rugi bukan perjuangan di jalan Allah itu. Rencana Allah tetap akan terlaksana, dengan atau tanpa kita. Tetapi kegagalan kita tak dapat memenuhi kehendak-Nya, akan membuat kehidupan rohani kita makin miskin. Kita telah kehilangan rahmat dan hidayah-Nya, sebab “Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang fasik.”         

Tanda cinta mukmin kepada Allah swt ialah mengikuti Rasul-Nya dengan saksama. Allah swt berfirman dlm Al-Quran,

Katakanlah: “Kalau kamu mencintai Allah, ikutilah aku. Allah akan mencintai kamu dan mengampuni segala dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.” Jika kamu membelakangi, Allah tidak menyukai orang yang ingkar.” (QS Ali Imran/3:31-32)

Pada suatu saat Rasulullah saw sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Lalu, beliau bertanya kepada mereka, “Siapa yang di antara kalian yang mau tahu lima perkara, sekaligus mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain?” Tak seorang pun yang menyahut. Abu Hurairah pun berkata, “Saya siap wahai Rasulullah! Maka, Rasulullah saw mendekati dan memegang tangan Abu Hurairah sambil bersabda, (1) “Hindarilah apa saja yang diharamkan (dalam Islam), niscaya engkau menjadi manusia yang paling bagus kualitas ibadahmu; (2) merasa rela dan senang dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya; (3) berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi mukmin; (4) cintailah orang lain seperti engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi muslim; (5) jangan terlalu banyak tertawa sebab hal itu akan mematikan hati.” (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.)

Baca Juga  Ali Mansur Kastam: Dunia ini Penjara Bagi Orang Mukmin

Umar bin Khathab pernah berkata, “Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa”.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan bertakwa. Amin.

Editor: An-Najmi