Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Makna Kata Ar-Rijal dalam Al-Qur’an

ar-rijal
Sumber: https://www.dreamstime.com/

Pada abad modern saat ini banyak dari laki-laki muslim khususnya yang kehilangan bagaimana karakter laki-laki yang sesungguhnya. Tentu hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan kaum muslim terhadap agamanya. Melihat kenyataan yang terjadi pada generasi laki-laki muslim saat ini sungguh memilukan. Mereka tidak lagi menghabiskan waktunya di masjid atau di majlis ilmu, akan tetapi mereka menghabiskan waktunya di tempat-tempat maksiat. Selain itu, mereka juga banyak melakukan berbagai pelanggaran. Parahnya motivasi atau alasan mereka melakukan perbuatannya adalah ingin mendapatkan perhatian dan penghargaan atas eksistensi dirinya.

Dengan kata lain, kenakalan remaja merupakan bentuk pernyataan eksistensi diri di tengah-tengah lingkungan dan masyarakatnya. Bentuk penyimpangan perilaku tersebut seperti perilaku seksual, minum-minuman keras, narkoba dan lainnya. Tentu hal ini membuktikan bahwa pada abad modern saat ini, banyak dari laki-laki muslim khususnya yang kehilangan jati diri sesungguhnya. Melihat hal itu maka di bawah ini penulis mencoba menjelaskan bagaimana konsep laki-laki dalam al-Qur’an.

Kata Rijal dalam Al-Qur’an

Dalam Kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya al-Raghib al-Ashfahani, kata ar-rijal bermakna orang yang berjalan kaki, karena ar-rijal merupakan bentuk plural ar-Rajil yang terambil dari kata ar-Rijlu yang bermakna kaki. Pada zaman al-Qur’an di turunkan di jazirah Arab, laki-laki (suami) seringkali berjalan untuk mencari nafkah, sementara istri hanya tinggal dirumah. Oleh karena itu, kata ar-Rijal jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti laki-laki. Kata ar-Rijal dalam al-Qur’an disebut sebanyak 73 kali dan terdapat dalam 4 derivasi, antara lain:

  • Rijal (رِجَال)
  • Satu kali dalam bentuk Rajil (رَجِل)
  • 29 kali dalam bentuk Rajul (رَجُل)
  • 15 kali dalam bentuk Rij’l (رِجْل)
Baca Juga  Rahasia Makna Pendengaran dalam Al-Qur’an

Jadi bagaimanakah konsep laki-laki (Rijal) yang sesungguhnya dalam al-Quran? Disini penulis memilih beberapa ayat yang menggambarkan bagaimana karakter Rijal yang sesungguhnya :

Sebagai Penanggung Jawab dalam Keluarga

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ …

Artinya: “Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.( Al-Nisa/4: 34)

Banyak kasus yang terjadi saat ini adalah seorang suami enggan menfkahi istri dan keluarganya. Mereka melantarkannya tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun. Padahal dalam ayat di atas diejlaskan bahwa sebagai Pemimpin keluarga, seorang laki-laki atau suami harus bertugas dan bertanggung jawab dalam memelihara, mengurus, membimbing, dan mengayomi keluarga. Selain itu seorang suami juga harus memberi nafkah kepada keluarga baik berupa keperluan sandang, pangan maupun keperluan lainnya. Imam al-Qurthubi dalam kitab Tafsir al-Qurthubi menyebutkan bahwa laki-laki memiliki keutamaan dalam hal kapasitas intelektual dan managerial, serta memilki kelebihan potensi jiwa dan tabiat yang kuat, yang tidak terdapat pada wanita. Oleh karena itu, mereka diberikan kewajiban mengurusi wanita berdasarkan hal itu.

Sebagai Penghidup Masjid

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

Artinya: “Janganlah engkau melaksanakan salat di dalamnya (masjid itu) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri. (At-Taubah/9:108)

Baca Juga  Struktur Dasar Weltanschauung Al-Quran

Pada abad modern saat ini, masjid masih sangat kekurangan jamaah, khususnya para remaja laki-laki. Mereka pada saat ini tidak lagi menghabiskan waktunya di masjid, akan tetapi mereka menghabiskan waktunya di tempat-tempat maksiat. Padahal para Mufassirin dalam menjelaskan ayat diatas menyebutkan bahwa kata Rijal digunakan untuk menggambarkan seseorang yang gemar membersihkan diri di masjid. Dalam tafsir As-Sa’di karya Syech Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan membersihkan diri adalah menyucikan diri dari dosa, najis dan hadas. Bersih secara maknawi diartikan menjahui segala bentuk kesyirikan dan akhlak-akhlak buruk, sedangkan bersih secara materi seperti menghilangkan najis dan mengangkat hadas.

Sebagai Pedagang yang Tidak Lalai

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙيَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ ۙ

Artinya: “Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).” (An-Nur/24:37)

Imam Ali asy-Syaukani dalam kitab Tafsir Fathul Qadir menjelaskan bahwa ayat di atas sebagai sifat untuk ar-Rijal, yakni mereka tidak disibukan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah. Karena kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini Perniagaan atau perdagangan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan manusia lalai dari berdzikir kepada Allah, menegakan sholat dan menunaikan zakat.

Sebagai Seorang yang Menepati Janji

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ

Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab/33:23)

Baca Juga  Menyemai Cinta Al-Qur’an Mulai dari Keluarga

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari dalam kitab Tafsir at-Thabari menjelaskan maksud ayat ini adalah, di antara orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, terdapat orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah, yaitu sabar terhadap berbagai kesusahan dan mudharat. Di antara mereka ada yang menyelesaikan pekerjaan yang dijanjikan kepada Allah dan yang diwajibkannya kepada dirinnya sendiri.

Itulah beberapa karakter ar-Rijal yang digambarkan oleh al-Qur’an. Mereka digambarkan sebagagai sosok penanggung jawab dalam keluarga, penghidup masjid, pedagang yang tidak lalai, dan sebagai sosok yang menepati Janjinya. Selain beberapa ayat diatas tentunya masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan sosok laki-laki yang sesungguhnya.

Penyunting: Ahmed Zaranggi