Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Baqarah 185: Tujuan Berpuasa Untuk Bertakwa atau Bersyukur?

tujuan
Sumber: https://minanews.net/

Momentum untuk menumbuhkan ketakwaan dalam umat Islam salah satunya adalah puasa di bulan Ramadan. Rukun Islam ke-3 tersebut mayoritas umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, sebagai upaya memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan ini, fenomena berbuka puasa merupakan waktu yang ditunggu-tunggu sebagai bentuk menyalurkan kekuatan fisik. Sehingga di sini penulis akan mengungkapkan apa sebenarnya tujuan puasa tersebut? Karena umumnya diketahui tujuan puasa adalah sebagai bentuk ketakwaan hamba kepada Tuhannya.

Memahami Kembali Tujuan Puasa

Puasa dapat meningkatkan penyembuhan dari sifat rakus dan sombong manusia. Selain itu puasa juga secara tidak langsung dapat mensucikan badan dan mempersempit gerak setan. Upaya dalam membendung syahwat yang menjadi pokok pangkal dan biang keladi maksiat, Hal ini bertujuan untuk mendidik kemauan yang dapat menahan nafsu. Dengan demikian, kebersihan dalam melewati pengendaliannya akan mengangkat tingkatan derajatnya sebagai manusia.

Al-Qur’an telah memerintahkan kewajiban puasa bagi orang beriman di bulan Ramadan salah satunya termaktub dalam QS.Al-Baqarah [2]:185 yang berbunyi :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ – ١٨٥

Artinya : “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

3 Pembahasan Penting Ayat

Ayat diatas hakikatnya memiliki tiga pembahasan yang harus dibedah. Pertama, pembahasan mengenai kewajiban puasa di bulan Ramadan dan membicarakan keistimewaan bulan Ramadan sebagai bulan yang diturunkannya al-Qur’an. Kedua, perintah berpuasa bagi orang yang menemui bulan Ramadan, akan tetapi orang yang udzur (berhalangan) untuk berpuasa terdapat solusinya. Sedangkan pembahasan ketiga, memerintahkan umat Islam untuk bersyukur atas ni’mat Allah berupa dijadikannya bulan Ramadan dan ni’mat kasih sayang Allah yang telah memberikan solusi bagi orang yang tidak mampu berpusa di bulan Ramadan atau karena udzur.

Baca Juga  Strategi Dakwah Komunikatif, Santun dan Rasional Ala Nabi Ibrahim

Lafadz terakhir dari ayat diatas adalah ditutup dengan “la’allakum tasykurun” di mana dalam tafsir Ibn Katsir (1/505) dijelaskan bahwa apabila telah menegakkan perintah-perintah Allah dengan menunaikan ketaatan maupun kewajiban-kewajiban. Serta meninggalkan yang haram dan menjaga batas-batas agama, maka semoga termasuk menjadi golongan orang yang bersyukur. Penulis memahami tujuan dari surah al-baqarah ayat 185 tersirat supaya seorang yang sudah menjalankan puasa agar menjadi orang yang bersyukur. Memang pada dasarnya menjalankan perintah Allah termasuk dalam kategori orang yang bertakwa. Akan tetapi, pengaplikasian dalam berpuasa sampai berbuka adalah tentang rasa syukur atas ni’mat Allah yang diberikan kepada hambanya.

Apa Tujuan Berpuasa?

Akhir dalam menjalankan ibadah puasa setalah seharian menahan makan, minum, maupun nafsu adalah berbuka puasa. Dengan ini penulis memperjelas bahwa esensi akhir puasa yakni berbuka puasa yang merupakan sebagai bentuk cara mensyukuri ni’mat Allah. ketika berbuka puasa pelajaran yang diambil terkait menerima yang sedikit dan menganggap yang banyak. Makanan yang dimakan setelah berhasil melewati pengendalian nafsu adalah pengajaran supaya membentuk karakter syukur dalam menjalankan hidup.

Dengan begitu, orang yang berbuka puasa pastinya merasa gembira, karena dapat menjalankan perintah Allah dan mensyukuri ni’mat Allah dalam bentuk secara lahir maupun batin. Di samping menyukuri dalam bentuk nikmat Allah berupa makanan, menghayati doa saat berbuka puasa merupakan salah satu bentuk syukur yang tak terlihat. Untuk itu, perlunya menyadari bahwa tujuan dalam berpuasa hakikatnya tentang bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Supaya menjadi hamba yang kaffah dalam menjalankan perintah Allah.

Hal ini menjadi sebuah pengetahuan untuk melatih diri hamba dalam menyadari bentuk syukur yang tersirat esensi sejati dari puasa. Penulis juga memahami bahwa sebelum sampai pada tujuan puasa, terdapat kategori tadharru’ dalam menjalankan perintah Allah tersebut. Kerendahan seorang hamba agar ibadah yang dijalaninya dapat diterima oleh Tuhannya. Sehingga puasa mengajarkan banyak hikmah dan melatih untuk menjadi orang yang lebih baik. Wallahu A’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi

Baca Juga  Analisis Semantik Al-Qur’an: Perbedaan Makna Qasam dan Hilf