Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengurai Otentisitas Al-Quran: Sebuah Bantahan Terhadap Orientalis

Otentisitas
Sumber: istockphoto.com

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya al-Qur’an merupakan kitab suci yang dipedomani oleh seluruh umat Islam. Sebagai kitab suci, al-Qur’an kemudian dijadikan sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan oleh umat Islam. Hal itu karena umat Islam meyakini bahwa kalam yang ada di al-Qur’an sangat mewakili keputusan dari Allah sebagai Sang Pencipta seluruh alam atas kemaslahatan seluruh mahluk-Nya.

Ditinjau dari historisitasnya, al-Qur’an bukanlah wahyu yang diturunkan pertama kali oleh Allah. Sebelumnya, terekam oleh sejarah bahwa terdapat wahyu-wahyu lain yang juga diturunkan oleh Allah kepada hamba-Nya yang terpilih. Sebut saja wahyu pendahulu al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Isa al-Masih, yakni kitab Injil –yang sekarang lebih populer dengan penyebutan Bibel–. Sama halnya dengan al-Qur’an, keberadaan dan segala tentangnya juga dinilai otentik oleh umatnya.

Seperti yang kita tahu, bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad tidak dengan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur. Teknis penurunan al-Qur’an ini agaknya berbeda jauh dengan wahyu-wahyu pendahulunya. Tidak hanya itu, adanya hukum nasikh-mansukh dalam al-Qur’an juga dinilai hadir pertama kalinya dalam sejarah pewahyuan. Kenyataan ini kemudian menjadi argumen diragukannya otentisitas al-Qur’an oleh beberapa tokoh, yang kebanyakan dari mereka mengkomparasikan al-Qur’an dengan Bibel.

Noldeke dan Keraguannya atas Otentisitas Al-Qur’an

Theodore Noldeke adalah salah satu tokoh yang meragukan otentisitas al-Qur’an. Ia berpendapat bahwasanya al-Qur’an adalah hasil karangan Nabi untuk menduplikat kitab-kitab yang telah ada sebelumnya. Seperti halnya kebanyakan orientalis yang mengkritik al-Qur’an, Noldeke juga memperoleh hasil kesimpulannya tersebut berdasarkan perbandingannya terhadap Bibel. Dari perbandingannya ini, Noldeke mengambil kesimpulan bahwa banyak kekeliruan yang ada dalam al-Qur’an, karena diklaim bertentangan dengan Bibel.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 65: Hari Sabtu dan Perintah Tuhan

Adanya tokoh yang meragukan otentisitas al-Qur’an semisal Theodore Noldeke ini selanjutnya dapat membuat kita merenung, bagaimana otentisitas wahyu dapat dibuktikan? Tentunya tidak mudah menguraikan pembuktian kebenaran wahyu, mengingat tidak pernah ada saksi yang melihat secara langsung proses penurunan wahyu secara indrawi. Di sisi lain, posisi kita yang jauh dari masa penurunan wahyu semakin mempersulit pembuktian terhadapnya.

Yang perlu diingat, bahwa dalam ushul al-din (teologi), setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi basis utama. Tiga hal itu adalah unsur ilahiyyat (ketuhanan), nubuwwat (kenabian), dan sam’iyyat (periwayatan). Hal ini yang menjadi pembeda antara satu orang dengan orang yang lain dalam persoalan akidah. Unsur ilahiyyat memuat unsur-unsur ketuhanan, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, bagaimana wujud-Nya, dan lain sebagainya.

Sedangkan unsur nubuwwat  meliputi sifat-sifat para Nabi, mukjizat-mukjizatnya, dan pembicaraan mengenai kitab-kitabnya. Unsur sama’iyyat memuat segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewa sam’I (riwayat), seperti halnya keberadaan alam kubur, alam akhirat, neraka, surge, dan sebagainya.

Dari sini, pendekatan yang paling bisa digunakan untuk menguraikan otentisitas wahyu adalah melalui pendekatan iman. Wahyu secara fisik dapat dilihat sekarang melalui keberadaan mushaf, kemudian untuk menjelaskan otentisitasnya, kita meyakini bahwa wahyu diterima oleh Rasul yang memiliki sifat-sifat terpuji sehingga memiliki kelayakan dalam menerima wahyu.

Salah satu sifat Rasul adalah shidiq (jujur) sehingga masyhur bahwa Rasul dijuluki dengan sebutan al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Selanjutnya, kita dapat mempercayai kebenaran isi dari wahyu melalui unsur ilahiyyat, yakni karena Allah yang sudah menurunkannya.

Antara Kebenaran Imani dan Objektif

Penulis yakin, bahwa pembuktian otentisitas wahyu menggunakan pendekatan iman tentu sulit diterima secara lapang oleh kaum orientalis yang mengkritik otentisitas al-Qur’an. Hal itu tidak lain adalah karena perbedaan standar objektivitas yang digunakan oleh kalangan Barat dan kalangan Timur.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 64: Negara-Negara Arab

Untuk menyikapinya, kita tidak perlu terlalu berpikir keras hingga memaksakan penjelasan otentisitas al-Qur’an menggunakan standar objektivitas Barat. Jika tindakan tersebut dilakukan, penulis khawatir data yang hadir justru tidak sesuai dengan realitas pewahyuan.

Kita tahu bahwa standar kebenaran yang digunakan oleh kalangan Barat adalah standar kebenaran yang disandarkan secara total pada kandungan atau isi informasi. Sementara standar kebenaran yang digunakan di Islam justru menyorot pada karakter si pembawa informasi, misalkan adil/tidaknya, dhabit/tidaknya, dan karakter lainnya.

Selain itu, standar kebenaran di Islam sangat mengutamakan kemutawatiran, atau dengan kata lain menuntut tidak adanya informasi dari si pembawa informasi lain yang membantah informasi terdahulu. Hasil yang diperoleh, kedua standar kebenaran ini akan sangat sulit untuk berkomunikasi dalam membuktikan sesuatu bisa dikatakan benar.

Menurut hemat penulis, kritik yang dilayangkan oleh kalangan orientalis terkait otentisitas al-Qur’an sendiri bukan merupakan argumen yang kuat. Argumen mereka –sadar atau tidak– juga dibangun oleh basis kepercayaan terhadap Bibel sebagai wahyu Tuhan yang otentik. Basis kepercayaan ini tentu tidak ada bedanya dengan kepercayaan umat Islam terhadap otentisitas al-Qur’an. Wallahu a’lam

Penyunting: Bukhari