Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menuju Arah Baru: Literasi Tafsir di Dunia Digital

Munasabah
Sumber: Istockphoto.com

Banyak cara menyajikan informasi pada kondisi kekinian. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, dunia seolah berada dalam genggaman jari (the world is in our finger). Fasilitas IT dan flatform digital banyak merambah segmen. Aspek isi, tampilan, dan sasaran pembaca menjadi titik perhatian.

Banyak informasi berbasis web, media sosial, dan flatform beragam memudahkan orang untuk melacak, membaca, atau bahkan menjadikan rujukan untuk pengetahuan dan pengamalan hidup.  Tak terkecuali, flatform pada mesin pemasangan digital yang beragam merambah pada pengetahuan keislaman.

Produk tafsir pun tak kalah bersaing masuk pada layanan ini. Dengan mudah, literasi digital mengenai tafsir dapat mudah dijamah.

Literasi Digital

Penguatan pemahaman tentang konten tertentu didukung oleh kecakapan dalam literasi. Banyak literasi yang dikembangkan pada saat ini. Kita mengenal literasi informasi, literasi digital, literasi data, juga bentuk yang konvensional, literasi buku teks.

Semua bentuk ini akan mengantarkan pembaca untuk berfikir dan menjalin pengetahuan. Tepat kiranya bila dimaknai literasi bukan hanya membaca. Ia berkaitan erat dengan proses berfikir yang dapat menghubungkan substansi dan bagian per bagian untuk membentuk pengetahuan tertentu. Literasi menghendaki pengetahuan yang utuh, bukan parsial.

Falsafah Iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq: 1 dan 3 menunjukkan hakikat dan sumber pengetahuan dari Allah Swt agar dipahami, dibaca, dihubungkan, diteliti, dan dibentuk menuju pada pemahaman tertentu. Literasi berhubungan dengan membaca, meneliti, dan menghubungkan satu pokok pikiran dengan pokok pikiran lainnya.

Paul Gilster (1997) dalam bukunya Digital Literacy, menyebutkan bahwa literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti IT.

Baca Juga  An-Nisa dalam Al-Quran: Sifat Kejantanan Juga Ada Pada Perempuan

Literasi digital berhubungan dengan pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum sesuai dengan kegunaannya dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Ini tentu menjadi fenomena yang baru dan hangat dalam dunia tafsir pula.

Literasi Tafsir Digital

Bentuk literasi tafsir digital banyak disajikan pada berbagai flatform.  Kita bisa menemukan bigdata pada internet tentang produk tafsir yang berbahasa Indonesia dan asing. Satu temuan kata atau frase bahkan aplikasi online atau offline dapat didapatkan dengan mudah pada mesin pencari data di internet.

Kapasitas yang besar menghendaki penjamahan dan seleksi dalam mengunduh atau membaca yang dibutuhkan. Kita pun dapat menjamah, membaca, dan mengunduh informasi tentang tafsir pada situs internet yang banyak diminati. Sebut saja misalnya al-waqfeya, al-misykat, islamweb, dan al-shamela. Belum lagi yang dilayani oleh flatform pada play store. Puluhan bahkan ratusan dapat diunduh dan diaktifkan menjadi aplikasi pada Android atau Apple. Uniknya aplikasi tafsir, banyak disajikan dalam ragam bahasa tak terkecuali Bahasa Indonesia dan Arab.

Fenomena ragam digitalisasi tafsir ini menjadi kecanggihan luar biasa dalam perkembangan IT. Kalau beberapa dekade yang lalu, kita cenderung mencari sumber berbasis teks kertas, dan itu pun harus import dari luar negeri. Hari ini, dunia sungguh berbeda. Sumber berbasis teks kertas masih terus diminati. Namun berkat kemudahan akses internet, kecenderungan beralih pada flatform digital.

Literasi ini tentu ada yang hanya bersifat bacaan atau untuk mendalami poin penting dalam produk penafsiran. Ketepatan dalam memilih sumber digital mutlak diperlukan untuk menjadikan sumber rujukan.

Baca Juga  Difabel dalam Al-Quran: Tidak Untuk Dimarginalkan!

Peralihan sekarang menuju pada digitalisasi. Media cetak, audio, dan visual beralih menjadi dokumen digital. Ia ingin menciptkan sebuah perkembangan luar biasa dalam pengolahan informasi. Tafsir al-Qur’an berbasis digital mencirikan integrasi konten dengan teknologi.

Wilson dalam Fajar Mubarok (2021) menyatakan bahwa pencetakan al-Qur’an dan tafsirnya merupakan sebuah transisi, pada mulanya sebuah buku yang ekslusif menjadi buku yang bisa diakses semua orang.  Produk penafsiran menjadi ruang pembicaraan dan pembahasan publik.

Selain punya subtansi pengetahuan, media digital memiliki efek sosial budaya. Ia dapat memberikan pengaruh bahkan merasuki ruang pribadi dalam pembentukan identitas diri.  Fenomena digitalisasi tafsir ini dapat disambut dengan baik dalam penyebaran kajian keislaman.

Faktor Maraknya Digitalisasi Tafsir

Maraknya digitalisasi tafsir ini setidaknya disebabkan beberapa hal. Pertama, fitur sosial media dan digital menunjang percepatan produksi dan konsumsi tafsir.  Kedua, tersedianya terjemahan al-Qur’an dalam jumlah yang banyak baik versi cetak maupun daring. Ketiga, munculnya kembali paradigma Kembali pada al-Qur’an. (Fajar Mubarok, 2021)

Setiap orang menjadi mudah untuk mengakses tafsir. Untuk tingkat pengetahuan, perolehan informasi yang melekat pada seseorang memudahkannya untuk menangkap pesan penafsiran. Maksud surah atau ayat dapat langsung ditangkap dengan mudah. Awal bagi pendalaman, proses ini cukup penting untuk mengenali permukaan maksud penafsiran.

Hal ini mungkin berbeda apabila produk digital digunakan untuk penelaahaan mendalam terutama pada pemahaman yang komprehensif dan menemukan konsep di dalamnya. Tentu, hal ini membutuhkan daya baca yang mendalam yang dibantu oleh pemahaman mengenai konsep-konsep penafsiran.

Beberapa Keresahan tentang Literasi Tafsir Digital

Yang tak kalah pentingnya, bagi peneliti dapat pula menjadikan literasi tafsir digital ini menjadi lahan penelitian. Bagi peneliti naskah, dapat dijadikan lahan untuk membedah teks dan sumber rujukan. Tafsir digital memberikan keberkahan bagi pembaca tafsir.

Baca Juga  Mengendalikan Hawa Nafsu: Jihad Akbar dalam Islam

Ada pula keresahan yang muncul terutama berkaitan dengan teks al-Qur’an tanpa tafsir. Kesakralan dalam media cetak masih dijunjung tinggi dengan penghormatan terhadap mushaf. Namun, ada fenomena yang berbeda ketika sudah dibentuk digital. Hambatan-hambatan dan tradisi-tradisi yang biasa dilakukan hilang sehingga dikhawatirkan menghilangkan nilai sakral al-Qur’an itu sendiri, seperti hasil penelitian Adinda Putri Sukma dkk. ketika mereka meneliti kesakralan mushaf al-Qur’an yang ada pada aplikasi Muslim Pro (Sukma, 2019).

Meskipun begitu, aplikasi al-Qur’an digital menjadi mudah dijamah oleh setiap orang, apalagi dilengkapi dengan bacaan, terjemah, dan tafsir. Wallahu A’lam.

Penyunting: Bukhari