Manusia abad 21 telah menyaksikan perkembangan teknologi yang luar biasa pesat. Banyak orang terbuai dengan berbagai keindahan dan kecanggihan produk material teknologi mutakhir. Perkembangan teknologi memanjakan mata dan meninabobokan kesadaran akan realitas yang terjadi di sisi yang jarang ditampakkan media. Perusakan lingkungan, ancaman serius kepunahan spesies flora dan fauna, kesengsaraan orang-orang terdampak pembangunan ala developmentalisme, konflik atas dasar kecemburuan sosial akibat ketimpangan, dan sebagainya.
Di lain sisi, perkembangan teknologi, termasuk di bidang medis dan reproduksi buatan, diperkirakan akan menggoncang tatanan agama yang umumnya dibangun jauh sebelum mengenal abad modern. Di sisi inilah kaum muda dengan meningkatnya melek akses teknologi dan informasi digital memiliki tanggung jawab moral untuk menawarkan gagasan. Perkembangan media-media baru, termasuk media keislaman dan penafsiran, yang digawangi oleh sosok anak muda diharapkan dapat berkontribusi jauh dalam menjawab tantangan dan menawarkan inovasi dan antisipasi.
Kesadaran Ekologis
Banyak orang menganggap kepunahan sebagian besar spesies purba adalah karena faktor seleksi alam dan hujan meteor yang menghantam bumi. Banyak yang luput memasukkan manusia sebagai salah satu faktor. Padahal, sebagian ilmuwan mengkhawatirkan manusia tengah menghadapi kepunahan keenam (the sixth extinction). Watak manusia homo sapiens menjadi faktor utama.
Harari dalam bukunya yang terkenal Sapiens (2011) menginformasikan bagaimana setiap kali manusia Homo sapiens menginjakkan kaki di suatu tempat, dapat dipastikan ada spesies lain yang mengalami kepunahan. Perkembangan rasionalisme yang berimplikasi pada antroposentrisme (pandangan manusia sebagai pusat nilai) dan menihilkan spiritualitas alam menandai awal mula krisis lingkungan. Pembangunan dan industrialisasi yang tidak ramah lingkungan yang menjadi anak kandung antroposentrisme membuktikannya secara riil.
Seiring dengan itu, sebagian kalangan menyadari adanya kebutuhan untuk tetap peduli lingkungan dan menentang industrialisasi yang merusak. Kebanyakan mereka berasal dari Barat, suatu belahan dunia yang mengenalkan dan mengawali perkembangan teknologi modern dengan segala kecanggihan dan eksploitasinya.
Sementara itu, dunia Islam yang setelah sekian lama berada dalam cengkeraman penjajahan dan berhasil merdeka mulai mengadopsi pembangunan ala Barat yang eksploitatif tanpa pikir panjang. Alasannya mudah ditebak, mengejar ketertinggalan pembangunan dan ekonomi.
Sebagian muslim mulai mengkritiknya dengan melontarkan ide-ide keselarasan Islam dengan konservasi alam. Namun kebanyakan hanya berada di ide dan mulut kalangan terpelajar. Kenyataan di bawah, mayoritas muslim masih tidak memiliki kesadaran itu, bahkan festival keagamaan banyak yang masih menyisakan sampah berserakan.
Penafsir Muda dan Keberpihakan Pada Kaum Papa
Marx menyatakan sejarah manusia adalah sejarah pertentangan antar kelas. Di mana kelas tertindas selalu melawan kelas penindas. Dirinya meramalkan kelas tertindas, dalam hal ini buruh atau proletar, akan menang melawan kelas penindas, yakni borjuis. Setting sejarah kelahiran industri Marx turut mempengaruhi cara dia berpikir, di mana kala itu pesatnya industrialisasi di Eropa sangat berdampak pada kalangan yang tidak memiliki modal dan akhirnya berakhir sebagai proletar.
Kendati tak semua idenya benar dan dapat diterima, namun pada akhirnya pemikiran Marx memberi sumbangsih pisau analisis terhadap apa yang terjadi di dunia modern kala itu hingga saat ini: industrialisasi selalu meminta tumbal orang-orang yang dilemahkan sistem untuk dijadikan orang-orang marjinal.
Banyak orang yang dulunya hidup sederhana berkecukupan hasil dari alam hutannya, atau sebagai petani dari sawah yang digarapnya. Tatkala industrialisasi merampas atau menipunya, mereka berakhir sebagai buruh yang selalu terancam posisinya dengan kata PHK (pemutusan hubungan kerja).
Kolonisasi Eropa yang merupakan upaya dari pencarian sumber daya alam di luar wilayahnya tentu mengakibatkan petaka ekologi dan kemanusiaan. Di Afrika Selatan, kolonial Eropa memberlakukan politik apartheid untuk menjaga kekuasaan mereka dengan cara rasisme yang ironinya ide-ide kesetaraan manusia adalah berasal dari Eropa sendiri.
Dalam setting seperti ini, Farid Esack, seorang pemikir muslim, dalam bukunya yang cukup menyentakkan Qur’an, Liberation and Pluralism (1997) menyuarakan teologi pembebasan Islam di mana ia mengatakan Islam mengajarkan kerjasama dengan umat manapun untuk melawan penindasan dan surga bagi mereka yang berjuang, sekalipun bukan muslim. Ia juga mengutuk agen-agen agama bagi penindasan yang ia sebut ulama akomodatif karena sikap mereka yang membisu terhadap para penindas.
Menuju Manusia Mengakuisisi Kekuatan Para Dewa
Harari dalam bukunya Homo deus (2015) menyebut manusia di sepanjang masa selalu terobsesi untuk memiliki kekuatan para dewa. Sosok yang mereka ciptakan dalam imaji dengan kekuatan-kekuatan tertentu. Seiring pesatnya perkembangan teknologi saat ini, manusia sudah banyak “mengakuisisi” kekuatan para dewa.
Terbang, percakapan jarak jauh, pengendalian jarak jauh, hingga inseminasi buatan kini dapat dilakukan manusia. Ke depannya, mungkin mereka akan membuat hal-hal baru yang kini belum terbayang. Agama sebagai tatanan ide kepercayaan akan Tuhan yang Maha Pencipta tentu akan mendapat “erosi pengikisan doktrin” ketika manusia semakin hari mulai campur tangan di ranah penciptaan melalui inseminasi dan reproduksi buatan.
Para Penafsir Muda di Jagat Maya
Kaum muda yang terpelajar memiliki kelebihan dalam memperoleh akses langsung terhadap informasi dan dapat menjadi agen produksi informasi. Seiring dengan berkembangnya media-media keislaman baru di jagat maya, peluang produksi informasi oleh kawula muda semakin terbuka, termasuk oleh para penafsir muda.
Hanya saja, sependek pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan yang berupaya ikut andil dalam meramaikan wacana pemikiran tafsir di media digital muda, gagasan baru mengenai tiga hal di atas belum terlampai ramai dan berani. Kebanyakan masih ramai mengangkat kembali pemikiran yang sudah ada, informatif, tanpa kritik atau gagasan baru.
Mengapa tiga topik itu? Alasannya, dua yang pertama adalah situasi urgen yang tengah dihadapi semesta dan umat manusia. Keberpihakan pada alam dan manusia yang tertindas merupakan amanat mulia sebagai khalifah pemakmur bumi.
Topik ketiga adalah langkah antisipatif terhadap perkembangan teknologi, khususnya di bidang biomedis, yang saya pikir akan mengguncang para tokoh dan umat beragama untuk memikirkan kembali tentang doktrin agama yang umumnya berdiri di atas pemikiran abad pertengahan. Juga untuk menguji seberapa jauh klaim agama selaras dengan ilmu pengetahuan. Tentu saja banyak topik yang penting di angkat, namun tak cukup ruang dalam artikel ini.
Melampaui Wacana
Tafsir-tafsir yang dinaikkan oleh “penafsir muda” di media baru masih sebatas kepanjangan tangan wacana yang sudah dilontarkan. Sebagiannya bersifat normatif untuk mengatakan Islam dan al-Qur’an selaras dan mendukung konservasi alam dan pemihakan kepada mustadh’afin.
Sejauh ini saya belum membaca gagasan baru dari penafsir muda seperti Esack yang berani mengatakan surga bagi para pejuang melawan penindasan, sekalipun mereka non muslim. Belum sampai ada yang berani untuk mengatakan, misalnya “stop dakwah kepada masyarakat adat ketimbang belum mampu memberikan doktrin konservasi alam yang cukup kuat sebagaimana mitos turun-temurun mereka,” seperti gagasan yang disampaikan oleh teman saya dalam sebuah obrolan.
Juga saya lihat belum ada yang mencoba merumuskan ulang doktrin agama dan hukum fikih. Dalam rangka mengantisipasi “akuisisi” kekuatan dahsyat “para dewa” di masa depan. Sejenak, mari kita renungkan kembali sejauh mana keberpihakan para penafsir muda. Sebagai mediator tafsir yang sudah ada atau sebagai produsen tafsir segar? Sebagai produsen tafsir untuk tafsir atau produsen tafsir untuk situasi konkrit yang urgen?
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply