Sebagian kita barangkali masih asing mendengar nama M. Emon Hasim. Ia adalah penulis kitab tafsir berbahasa Sunda lengkap 30 juz yang berjudul Ayat Suci Lenyepaneun (1984). Kendati namanya tidak semasyhur Buya Hamka atau Kiai Bisri Mustofa di teliga kalangan awam, penting untuk mengenal sosok mufasir ini.
Biografi Moh. Emon Hasim
Mohammad Emon Hasim adalah mufasir yang lahir pada 15 Agustus 1916 di Ciamis. Ia adalah seorang guru dan penulis prolifik yang memiliki jasa memelihara bahasa Sunda melalui karya tafsirnya. Kemudian mendapat anugerah Sastra Rancage pada tahun 2001 berkat jasanya tersebut.
Masa pertumbuhan intelektual Hasim dimulai dari Sekolah Desa. Kemudian Schakelschool (Sekolah Rakyat) Muhammadiyah, Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Hingga Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Algemeene Middelbare School (AMS). Adapun pengetahuan agama dan bahasa dipupuk secara otodidak. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Arab dan Jepang.
Kemampuan intelektual yang mumpuni mengantar Hasim menjadi seorang pengajar. Hasim pernah mengajar di HIS Pasundan, kemudian Sekolah Rakyat Muhammadiyah. Lalu ia pernah menjabat sebagai kepala sekolah di Schakelschool Islam Miftahul Huda. Ia juga mengajar bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi. Selain menjadi pengajar, ia sempat bekerja sebagai pengerah tenaga kerja dan juru bahasa.
Hasim memiliki keterlibatan sebagai aktivis di organisasi seperti Barisan Rakyat, BKR dan TKR Ciamis. Gerakan Hizbullah dan menjadi anggota Muhammadiyah di daerah tempat tinggalnya.
Beberapa karya Hasim diantaranya Hadis Penting Pelita Hati, Grammar and Excercise Elementary Grande, Rupa-rupa Upacara Adat Sunda Jaman Ayeuna (1996), Kamus Istilah Islam, Khatbah Shalat Jamaah dan lain-lain. Ia wafat pada tahun 2009 pada usia 93 dan dimakamkan di Pasirkaliki.
Penulisan Kitab Ayat Suci Lenyepaneun
Keinginan Hasim menulis tafsir bermula dari perasaan kurang puas dengan terjemahan dan tafsir yang beredar saat itu. Baginya, kitab yang beredar tidak memadai untuk ngajembarkeun panalar santri (memperkaya nalar santri). Ia mulai menggali kandungan ayat Al-Qur’an sejak tahun 1974. Sebagai kenang-kenangan di usia 70-an saat ia menjadi guru bahasa.
Naskah pertama tafsirnya adalah sepertiga juz I dalam bahasa Indonesia, kemudian tulisan tersebut ia cetak dan sebarkan. Selang enam bulan, Emon Hasim kedatangan Kiai Adnan dari Ciamis untuk menyampaikan ketertarikan masyarakat dengan tafsir karangannya. Kemudian berharap terus ia lanjutkan namun dalam bahasa Sunda. Meski sempat ragu karena latar belakangnya bukan seorang kiai, akhirnya Hasim menyanggupinya berkat dorongan Kiai Adnan.
Setelah rampung penulisan juz I, Hasim mengajukan naskah tafsirnya ke penerbit untuk diterbitkan, namun ia mendapat penolakan. Hasim tetap menggenggam tekad kuat menulis karya tafsir. Sekalipun mendapat penolakan, ia tetap melanjutkan penulisan juz II dan menawarkan naskahnya ke penerbit Pustaka Salman ITB. Di sini pihak penerbit bersedia menerbitkan asal karya tafsir Hasim dengan syarat minimal berjumlah tiga juz.
Hasim pulang dengan penuh semangat untuk menyelesaikan penulisan tafsirnya. Ia mengaku menulis tafsirnya setiap hari setelah melaksanakan shalat tahajud dan dilanjutkan setelah salat subuh. Penulisan satu juz ia rampungkan rata-rata dalam waktu empat bulan. Meskipun sempat jatuh sakit akibat kelelahan, kitab tafsir Ayat Suci Lenyepaneun berhasil selesai pada tahun 1989.
Karakteristik Tafsir Lenyepaneun
Kehadiran Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun mendapat sambutan hangat dari masyarakat Sunda yang dibuktikan dengan belasan kali kitab tersebut dicetak ulang. Antusiasme tersebut turut menggugah Hasim untuk menerbitkan versi bahasa Indonesia yang kemudian ia beri judul Ayat Suci dalam Renungan (1998). Ia menuliskan tafsirnya dalam bahasa Indonesia pada usia 81 tahun, tepatnya tanggal 15 Agustus 1997.
Jajang A. Rohmana (2020) mengatakan, bahasa Sunda yang Hasim gunakan untuk menulis tafsir Ayat Suci Lenyepaneun berbentuk prosa (lancaran). Sehingga bahasa Sunda dalam tafsir tersebut akan terasa lebih mendalam jika dibaca oleh masyarakat Sunda Priangan, sebagaimana Hasim tumbuh menggunakannya.
Keterikatan Hasim dengan lokalitasnya tidak hanya dilihat dari pengunaan bahasa daerah. Ia kerap memasukkan isu sosial kemasyarakatan di Indonesia dan khususnya Sunda serta budaya dan cerita keseharian orang Sunda. Ia juga memasukkan penjelasan sains seperti astronomi diberbagai tempat.
Model ini mengingatkan kita pada kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka atau kitab tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang bercorak adabi ijtima’i. Kecenderungan Hasim memasukkan isu kemasyarakatan memang tidak terlepas dari tren wacana modernis dalam penafsiran Al-Qur’an yang berkembang di Indonesia tahun 90-an. Apalagi Hasim menggunakan kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka sebagai rujukan penafsiran. Ditambah keterlibatan Hasim dalam organisasi Muhammadiyah yang mengusung modernisasi.
Penutup
Penulis pribadi hanya sempat membaca beberapa bagian karya tafsir M. E. Hasim yang berbahasa Indonesia yaitu Ayat Suci dalam Renungan. Saat membacanya, sejak awal Hasim sudah menyuguhkan kritik sosial. Ketika menjelaskan QS. al-Fatihah [1]: 3. Hasim memaparkan, orang yang gagal menggali kandungan ar-rahmani ar-rahimi akan cenderung mengejar hal-hal sekunder.
Lebih lanjut ia menulis,
Untuk memenuhi keserakahan hidup, orang berlomba mendirikan pabrik perindustrian, … gedung bertingkat dan kendaraan mewah, tak mengapa air dan tanah tercemar limbah dan udara kotor karena polusi. Air segar yang penuh dengan macam-macam zat kesehatan … kini kian hari kian berkurang karena bertambahnya polusi terutama polusi kimiawi, yakni air limbah perindustrian, logam berat, zat-zat organik dan lain-lain. (Hasim, 1998)
Penjelasan Hasim ini dapat diduga sebagai kritik atas upaya pembangunan besar-besaran era Orde Baru yang mengabaikan aspek ekologis. Selain tentu saja mengabaikan sisi teologis. Kritiknya penulis rasa masih sangat relevan dengan konteks masa kini saat perindustrian dan pembangunan memperkosa alam demi kepentingan segelintir orang.
Hasim patut mendapat apresiasi atas usahanya mengaitkan ayat tertentu dengan konteks sosial pembaca, termasuk mengajukan informasi-informasi sains. Sebab ia telah menciptakan jembatan antara masyarakat dengan Al-Qur’an. Sehingga muncul keintiman antara pembaca dengan Al-Qur’an, bahwa ayat suci adalah surat cinta dari Tuhan kepada hamba-Nya.
Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.