Muhammadiyah, sebuah organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, memiliki jutaan aset di bumi pertiwi. Mulai dari rumah sakit, sekolah, panti jompo sampai universitas. Bahkan kapal yang digunakan untuk layanan kesehatan, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukan bahwa sumbangsih Muhammadiyah untuk bangsa ini tidak bisa lagi diperhitungkan.
Bahkan beberapa bulan yang lalu kita menemukan cuitan seorang netizen yang mempertanyakan sumbangsih persyarikatan untuk bangsa ini. Dikarenakan terkumpulnya galang dana oleh LazisMu untuk korban kemanusiaan di Palestina jumlahnya sangat besar. Hal ini membuat salah satu netizen berkomentar, “Kenapa tidak menyumbang untuk negeri sendiri?”. Padahal Muhammadiyah telah memberikan banyak sumbangsih, bahkan negara tercatat masih memiliki hutang kepada Muhammadiyah.
Mungkin netizen tersebut mainnya kurang jauh. Sehingga dia asal berkomentar dan juga masih banyak segelintir orang yang mempertanyakan kiprah Muhammdiyah. Hal ini tentu saja tidak membuat persyarikatan ini mundur justru yang ada malah terus bergerak.
Muhammadiyah bisa dibilang mengeluarkan dana yang begitu besar dalam penanganan Covid 19. Termasuk juga dalam menangani kemiskinan dan bencana alam. Kiprah Muhammadiyah tidak bisa lagi diragukan. Sehingga Muhammadiyah bisa dibilang selalu berada di garda terdepan dalam menangani permasalahan-permasalahan sosial dan kemanusiaan.
Kenapa Muhammadiyah bisa seperti itu? Ini semua berangkat dari kepekaan Kyai Dahlan melihat problem yang terjadi pada umat islam pada saat itu, yaitu “terjajah”. Hal ini yang membuat Kyai Dahlan berpikir lebih keras agar bagaimana umat islam ini tidak lagi terjajah, baik secara fisik maupun secara pemikiran.
Pemahaman dan Tafsir Kyai Dahlan terhadap Al-Ma’un
Surah al-Maun bisa dibilang sebagai surah yang mendorong Kyai Dahlan dan murid-muridnya untuk peduli dengan sesama manusia. Terkhusus masyarakat marjinal yang nasib mereka tidak pernah diperhatikan oleh kebanyakan orang. Yang menjadi perhatian Kyai pada saat itu adalah keadaan masyarakat pada saat itu yang terbelakang. Apalagi pada masa itu adanya penjajahan sehingga membuat masyarakat, terutama kaum muslim masih banyak yang hidup dalam keterbelakangan, pribumi saat itu menempati strata sosial terendah.
Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana jika dia seorang pribumi akan tetapi dia bukanlah seorang priyayi atau bangsawan. Melainkan hanya rakyat biasa yang lemah dan tak berdaya. Melihat hal tersebut Kyai Dahlan sangat prihatin. Sehingga dari sinilah muncul konsep welas asih yang terinspirasi dari surat al-Maun.
Mungkin kebanyakan warga Muhammadiyah sudah faham bagaimana Muhammadiyah memahami nash baik al-Quran ataupun hadis, yaitu pertama dengan metode bayani. Yaitu metode yang menggunakan pendekatan kebahasaan. Lalu kedua metode ta’lili yaitu dengan pendekatan penalaran dan yang ketiga adalah metode istishlahi yaitu metode yang menggunakan pendekatan kemaslahatan. Sehingga tidaklah heran apabila Muhammadiyah dalam merespon isu terkini selalu menggunakan pendekatan dalil baik dari Al Qur’an maupun sunnah. Sehingga muncullah fatwa-fatwa kontemporer dari Majelis Tarjih dan Tajdid.
Akal, Kemerdekaan dan Muamalah
Akan tetapi nampaknya metode seperti ini belum diterapkan di zaman Kyai Dahlan. Akan tetapi ada pernyataan Kyai Dahlan yang sangatlah menarik sebagaimana ditulis oleh Prof Munir Mulkhan dalam bukunya yang dimana kyai Dahlan menyampaikan hal ini di dalam Kongres Islam Cirebon 1921. Saya akan coba jabarkan beberapa poin penting dari pernyataan Kyai. Pertama, mengakui keberadaan akal dan ilmu. Kedua, mengharuskan persatuan manusia, dalam hal ini kyai menjelaskan dibolehkannya mu’amalah dengan siapapun. Ketiga, yakni kemerdekaan
Kyai juga menjelaskan dalam sebuah naskah yang berjudul Tali Pengikat Hidup Manusia yang dimana dijelaskan bahwa kebanyakan pemimpin masih mengutamakan golongannya sendiri dan diri sendiri. Lalu kyai juga menjelaskan pentingnya mencari ilmu, dan yang paling penting yang saya garis bawahi adalah terkait dengan welas asih atau yang bisa kita artikan adalah belas kasih. Dari konsep inilah muncul panti asuhan, sekolah berbasis umum dan agama, lalu adanya PKO (penolong kesengsaraan oemat) yang sekarang bertransformasi menjadi PKU (Pembinaan Kesejahteraan Umat)
Muhammadiyah The Protector Kaum Marjinal
Bila kita simpulkan, Muhammadiyah hingga saat ini masih tetap konsisten membela kaum marjinal. Bahkan beberapa buruh tani, buruh tambang, bahkan keluarga tertuduh terorisme sering meminta advokasi ke Muhammadiyah dan Muhammadiyah memberi dukungan advokasi tanpa memandang suku, ras bahkan agama sekalipun.
Bagi saya sebutan the protector tidaklah berlebihan bila saya sematkan kepada persyarikatan ini. Dan pembelaan terhadap kaum marjinal ini masih berlangsung hingga sekarang. Bila kita tilik dari sejarah, Muhammadiyah lahir dari daerah perkotaan yang dim ana kebanyakan para anggotanya merupakan orang-orang terhormat dan tentu saja berduit.
Hal ini tentu saja yang membuat Muhammadiyah bisa membantu kaum marjinal dan juga pengaruh pemahaman Kyai Dahlan dalam menafsirkan surah al-Ma’un itulah yang membuat warga Muhammadiyah tergerak hatinya dalam membela kaum marjinal. Di sini saya pernah mendengar penggalan kata dari seorang aktivis Muhammadiyah yaitu Alm. Said Tuhuleley. Beliau pernah berpesan bahwa:
“Kita tidak akan pernah diam sampai seluruh orang tercerahkan”. Semangat beliau dalam menyiarkan Islam dan kemanusiaan inilah yang membuahkan hasil sebuah klinik apung di daerah Maluku. Semoga Muhammadiyah yang nanti pada tanggal 18 November akan berumur 109 (dalam hitungan Masehi) selalu tetap konsisten dalam membela hak-hak kaum marjinal.
Penyunting: Bukhari



























Leave a Reply