Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Surat As-Saba’ Ayat 24-26: Indahnya Toleransi Islam

Sumber: https://en.shafaqna.com

Islam hadir sebagai agama penyempurna; yang memberikan jawaban atas setiap persoalan manusia. Agama yang diberkahi ini datang dengan sebuah risalah lengkap dan meliputi semua aspek, bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Sekarang muncul persoalan, untuk apa Islam perlu membuat segudang aturan? Dan apa yang membuat aturan-aturan itu begitu rinci bagi umat manusia? Satu aturan itu akan termuat dalam surat As-Saba’.

Pada hakikatnya, Islam hadir dengan beragam macam aturan disebabkan dunia ini penuh dengan perbedaan. Jika semuanya tidak ada yang berbeda, mungkin tidak akan ada aturan yang rinci. Islam mengatur bagaimana kita bersikap terhadap orang lain, baik sesama muslim maupun non-muslim. Bahkan bagaimana kita bersikap terhadap makhluk atau ciptaan Allah seperti tumbuhan, hewan, dan lainnya. Karena sebuah fakta bahwa adanya perbedaan di antara mereka.

Menyikapi Perbedaan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan metode yang indah kepada kita tentang bagaimana caranya bersikap terhadap orang-orang yang berbeda. Di dalam Surah as-Saba’ ayat 24 Allah mencontohkan toleransi yang begitu tinggi. Allah berfirman:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ قُلِ اللّٰهُ وَ اِنَّاۤ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.”

Di ayat tersebut, Allah mengajarkan Rasulullah Saw. perihal metode yang indah dalam menghadapi orang-orang yang berbeda. Di akhir ayat as-Saba’ itu diungkapkan bahwa,“kami atau kalian pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan.”

Baca Juga  Merefleksikan Ajaran QS. Al-Ashr di Tahun Baru

Rasulullah Saw. pasti yakin dengan kebenaran yang dibawa. Tidak ada ketidakpastian sedikit pun dalam dirinya. Tapi ketika menghadapi orang yang berbeda, Nabi menempatkan dirinya dalam posisi yang sama. Itulah yang dimaksud dari ungkapan pada akhir ayat di atas.

Rendah Hati Membawa Kebenaran

Seorang bijak berkata: “Pendapat kami benar, tapi bisa jadi ada salahnya. Dan pendapat selain kami salah, tapi bisa jadi juga ada benarnya.” Perkataan dari seorang bijak itu tampaknya terlihat cukup untuk memberikan gambaran tentang indahnya toleransi. Namun meskipun demikian, kualitas toleransi yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an tetap berada di atas itu.

Al-Qur’an memberikan pengajaran kepada kita untuk tidak menyatakan bahwa diri kita yang paling benar di hadapan orang-orang yang berbeda. Al-Qur’an juga memberikan pengajaran untuk menyesuaikan posisi kita ketika berhadapan dengan mereka.

Oleh karena itu, sebaiknya diskusi ditujukan untuk mencari kebenaran. Meskipun memang di satu sisi, kita tetap meyakini bahwa pilihan kita merupakan yang terbaik tanpa keraguan sekecil apapun.

Toleransi Tinggi Dalam Al-Qur’an

Masih berkaitan dengan Surat as-Saba’ ayat 25, Allah berfirman:

قُلْ لَّاتُسْــأَلُوْنَ عَمَّاۤ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـأَلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Katakanlah, “Kalian tidak akan dimintai tanggung jawab atas dosa yang kami lakukan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kalian kerjakan.”

Al-Qur’an mengilustrasikan toleransi yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang berbeda dengan kita. Ketika Rasulullah Saw. berkata tentang dirinya, beliau menggunakan kata عَمَّاۤ اَجْرَمْنَا (atas dosa yang kami lakukan). Artinya, keputusan Nabi itu menimbulkan dosa, orang yang berbeda dengannya tidaklah dimintai pertanggungjawaban atas dosa itu.

Padahal kita tahu bahwa Nabi suci dari segala dosa dan bahkan terjaga dari dosa. Tapi Nabi tetap memposisikan dirinya seakan sama seperti manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Dan perhatikanlah ketika Nabi berbicara mengenai perbuatan mereka, beliau tidak memakai kata “dosa”. Melainkan memakai kata عَمَّا تَعْمَلُوْنَ (atas apa yang kalian lakukan).

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Baqarah ayat 256: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama

Seperti ini Islam menjunjung tinggi sikap toleransi. Lantas masih adakah orang yang bersikap intoleran dengan mengatasnamakan Al-Qur’an? Sungguh mereka itu telah berdusta atas nama Al-Qur’an. Dan hanya Allah semata yang berhak serta layak menghakimi perbedaan dan perselisihan yang ada.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَـنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَـنَا بِالْحَـقِّ وَهُوَ الْـفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

Artinya: “Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan, Maha Mengetahui.”” (QS. as-Saba’:26)

Begitulah Al-Qur’an mencontohkan bagaimana metode dalam menghadapi orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Ayat-ayat di atas tadi menceritakan mengenai Rasulullah saw. yang menghadapi orang-orang yang belum bisa mengakui dan menerima risalahnya. Tapi Al-Qur’an sungguh menghormati mereka, sementara faktanya mereka adalah non-muslim.

Menghargai Sesama Muslim

Lantas bagaimana dengan saudara kita sama-sama muslim? Mereka yang non-muslim saja diberi penghormatan dan toleransi yang begitu tinggi oleh Al-Qur’an, bagaimana dengan saudara kita yang saling percaya akan keesaan Allah, Nabi terakhir Muhammad Rasulullah, dan percaya akan adanya Hari Akhir. Semestinya, kita harus memberi penghormatan yang lebih kepada saudara satu agama kita yang berbeda hanya pada perkara-perkara kecil saja.

Sebuah babak sejarah, Sayyidina Ali memprioritaskan persatuan dibanding segalanya. Ketika perang Shiffin berkecamuk, satu sahabatnya bertanya, “Wahai Ali, jika saat perang ini berkecamuk, tiba-tiba bala tentara Romawi menyerang muslimin di Syam, apa yang akan kita perbuat?” Sayyidina Ali menjawab, “Aku beserta bala tentara Muawiyah akan bersatu untuk menghadapi mereka.” Indah! ditengah perseteruan Muawiyah, Sayyidina Ali justru tetap memikirkan persatuan Islam. Perkara-perkara kecil dikesampingkan demi kekuatan Islam untuk bisa bertahan menghadapi musuh-musuh yang ingin memusnahkan Islam.

Baca Juga  Membangun Resiliensi Hidup: Belajar dari Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Terakhir, penulis mengutip perkataan bijak dari K.H. Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa “Gus Dur”. Ia pernah berkata, “Agama melarang adanya perpecahan, bukan perbedaan”. Semoga di tengah-tengah perbedaan, menjadikan kita untuk tetap saling menghargai, saling menghormati, dan saling toleransi. Karena dibalik “persatuan” ada “kekuatan”.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho