Berbicara mengenai kemajemukan atau yang sering disebut dengan pluralitas, menjadi sebuah fenomena yang tidak akan pernah bisa untuk dihindari. Karena sejatinya itu sudah menjadi kodrati bagi semua manusia. Namun, acap kali kita menemukan sikap pongah dalam beragama dengan bersikap intoleran kepada penganut agama lain. Dengan memandang orang yang berkeyakinan berbeda patut untuk dijauhi dan dimusuhi.
Ibarat HIV, agama tidaklah menular melalui sentuhan kulit atau dari bersin. Namun mengapa masih ada orang yang begitu alergi melihat kemajemukan tersebut? Bahkan perkara kebaikan seseorang pun runtuh akibat statusnya sebagai non-muslim. Seolah-olah urusan kebaikkan moral seseorang dapat diukur jika ia hanya menganut agama Islam. Namun bukankah semua agama juga mengajarkan kebaikkan?
Berangkat dari pertanyaan tersebut, di sini penulis ingin menarasikan bahwa harusnya kita menyelami bagaimana pandangan al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam dalam menyikapi masalah pluralitas dan sekaligus juga terhadap pluralisme.
Antara Islam dan Pluralitas
Sudah jelas yang perlu untuk diperhatikan kembali ialah Islam sangat menghargai kedudukan keseluruhan manusia. Hal tersebut tertuang dalam firman Allah yang menyebutkan:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”. (QS. Al-Isra’ 70).
Sudah jelas bahwa dalam Islam tidak ada hirearki atau semacam perbedaan derajat kemanusiaan. Bahwa yang satu lebih dari yang lain. Pada dasarnya semua manusia itu adalah sama. Di sisi lain, dalam kehidupan yang terdiri dari ragam suku, golongan, ras, dan yang lainnya.
Islam justru menghendaki dengan adanya interaksi yang saling menguntungkan dengan diawali kata “lita‟arafuu”: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki, seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat 13).
Maka, dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa sejak awal Islam begitu menghargai adanya pluralitas tanpa adanya sistem hirarki.
Al-Qur’an dan Pluralitas
Dalam kitab suci umat Islam pun, al-Qur’an menyebut dirinya bahwa ia adalah petunjuk bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali. “
Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan. (QS. Al-Baqarah: 185).
Maka oleh sebab itu juga, pihak yang telah mendapatkan petunjuk dengan kata lain umat Islam juga diberi mandat atau tugas untuk menyampaikan petunjuk kepada pihak yang lain. Seperti yang tertuang didalam Al-Qur’an:
“Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‟ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran 110).
Namun, fenomena yang tengah kita hadapi di dalam pluralitas itu sendiri ialah suatu konflik yang biasanya terkait kepada klaim kebenaran. Bahkan didalam tubuh umat Islam juga terdapat pluralitas pemahaman antara satu dengan yang lain. Merasa bahwa hanya golongan ialah yang suci dan terbebas dari dosa. Sedangkan yang lain itu salah dan tidak terlepas dari dosa.
Dalam al-Qur’an sendiri, perilaku saling mengklaim kebenaran justru sangat dilarang. Karena itu hanya akan mengakibatkan munculnya sikap yang pongah atau sombong. “Maka janganlah kamu mengatakan bahwa dirimu suci, Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Najm 32).
Petunjuk dari Rasulullah SAW
Prinsip-prinsip yang dituangkan didalam al-Qur’an mengenai pluralitas. Sebetulnya secara praktis, telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat. Antara lain, beliau juga pernah membuat deklarasi toleransi kepada masyarakat yang plural di madinah dengan membuat Piagam Madinah. Suatu pernyataan bersama warga Madinah pada saat itu untuk saling menjaga keamanan dan saling bertoleransi.
Itu merupakan salah satu contoh yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam menyikapi suatu perbedaan di antara keberagaman. Di samping itu juga, Rasulullah juga tidak menanggapi pluralitas dengan sikap etnosentristik. Maksudnya merasa bahwa hanya golongannya lah yang superior dan merendahkan pihak yang lainnya.
Berbeda dengan golongan kafir pada saat itu yang selalu mencemooh bahkan hingga melempari Rasulullah SAW dengan kotoran dan batu. Rasulullah tidak membalas dengan hal yang serupa. Melainkan dengan kemuliaannya Rasulullah SAW mendo’akan mereka agar mendapatkan petunjuk dari Allah.
Maka ketika kamu bersikap intoleran, merendahkan orang yang berpemahaman berbeda, menyalahkan hingga merasa bahwa hanya golongannya lah yang paling benar. Atas dasar apa anda melakukannya? Perintah al-Qur’an dan Rasulnya? Sudah jelas tidak!
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply