Firman Allah: “(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu, lalu datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.’” (QS Ali ‘Imran [3]: 81).
“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam. Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril). (Diturunkan) ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan. (Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab terdahulu.” (QS. asy-Syu’ara’ [26]: 192-196).
Tentang Pewahyuan Al-Qur’an
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa persoalan mengenai turunnya Al-Qur’an sebenarnya telah disebutkan dalam kitab-kitab suci terdahulu, yaitu kitab yang dibawa oleh para nabi sebelum Muhammad. Menurut penafsiran lain, yang dimaksud dengan penyebutan tersebut adalah bahwa sosok Nabi Muhammad sendiri telah tercantum dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya: “Yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (QS al-A’raf [7]:157). Istilah zubur pada ayat ini dipahami sebagai “kitab-kitab”, yang merupakan bentuk jamak dari kata zabur.[1]
Thahir bin Asyur menafsirkan, “Al-Qur’an disebutkan dalam kitab-kitab para nabi terdahulu. Muhammad juga disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu dan bahwa beliau adalah seorang rasul yang datang membawa sebuah kitab.” Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (QS al-A’raf [7]: 157).[2]
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sifat-sifat Nabi Muhammad telah tercantum dalam kitab-kitab suci para nabi sebelum beliau. Para nabi tersebut menyampaikan kabar gembira kepada kaumnya tentang kedatangan Muhammad sebagai rasul terakhir dan bahkan memerintahkan umat mereka untuk mengikuti beliau ketika masa pengutusan itu tiba. Penjelasan mengenai karakter dan ciri-ciri beliau tetap terjaga dalam kitab-kitab tersebut dan dikenal dengan baik oleh para ulama serta tokoh agama di kalangan mereka.[3]
Zarathustra Berbicara Soal Muhammad
Zarathustra telah menyampaikan hujah yang kuat kepada kaumnya dengan memberitakan kedatangan Nabi Muhammad sebagai rasul yang muncul setelah dirinya. Dengan penyampaian ini, tidak ada lagi alasan bagi mereka yang tetap berpegang pada ajaran Zoroastrianisme untuk mengklaim bahwa mereka tidak pernah diberi peringatan tentang datangnya kerasulan tersebut. Risalah Muhammad merupakan syariat agung yang menjadi penutup bagi ajaran Zoroastrianisme maupun seluruh agama sebelumnya. Hal ini semakin relevan mengingat wilayah Persia berbatasan langsung dengan Jazirah Arab dan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kawasan Arab. Bahkan, pada masa jahiliah, terdapat beberapa suku Arab yang memeluk Zoroastrianisme. Mereka tentu lebih layak mengetahui kabar tentang kedatangan rasul terakhir dibandingkan suku-suku lain yang letaknya lebih jauh dan tidak memiliki hubungan seerat itu dengan ajaran Zarathustra.[4]
Inilah bagian dari kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad yang masih tersisa dan tetap bertahan meskipun ajaran tersebut telah berumur sangat lama serta melewati masa setelah wafatnya nabi mereka, Zarathustra. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun dari kalangan penganut Zoroastrianisme yang memiliki pengetahuan tentang sifat-sifat tersebut untuk mengingkari atau mengelak pada Hari Kiamat di hadapan nabi mereka dengan alasan bahwa mereka tidak pernah diberi informasi mengenai ciri-ciri Nabi Muhammad. Penjelasan-penjelasan itu akan tetap menjadi bukti kuat yang mengukuhkan kebenaran kerasulan penutup para nabi dan dapat dibaca serta diteliti oleh siapa saja yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, apa pun agama atau keyakinan yang mereka anut. Sifat-sifat ini juga diperkuat oleh kabar gembira yang diriwayatkan oleh para nabi besar lain yang menjadi rujukan agama-agama besar di dunia. Seluruh kabar itu saling bersepakat mengenai kedatangan nabi terakhir yang akan diutus Allah kepada umat manusia, membawa sebuah kitab yang syariat dan hukumnya tetap relevan dan berlaku hingga Hari Kiamat.[5]
Daftar Pustaka
[1] Al-Qurṭubī, Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān wa al-Mubayyin limā Tadhammanahu min al-Sunnah wa Āyi al-Furqān, (Beirut: Dār al-‘Ilmiyyah, 2002), hlm. 138.
[2] Aṭ-Ṭāhir bin ‘Āsyūr at-Tūnisī, Al-Tahrīr wa al-Tanwīr, (Tunisia: Dār at-Tunisiyah li an-Nasyr, 1968), hlm. 191.
[3] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), hlm. 163.
[4] Amin Riyadh La’ribi, Al-Zarādīsyiyah al-Diyānah al-Samāwiyah allati Busyirat bi Muhammad, (Aljazair: Dār Qurṭubāh, 2003), hlm. 164.
[5] Ibid, hlm. 165.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.