Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kehidupan Dari Setetes Air: Pertemuan Thales Dan Al-Qur’an

Thales
Sumber: Ilustrasi Gemini

Di tengah derasnya arus perkembangan sains modern, sering kali muncul dikotomi antara sains dengan agama, yang berada pada kutub berbeda. Agama selalu dianggap hanya berbicara keimanan dan dogma, sedangkan ilmu pengetahuan (sains) bicara tentang bukti dan rasionalitas. Namun, sejarah pemikiran manusia menemukan harmoni antara keduanya. Salah satu hal yang menarik datang dari dialog antara Thales, seorang filsuf dari Miletus, dan Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, yang sama-sama menyorot asal mula kehidupan berawal dari air.

Pemikiran Thales tentang Asal Usul Kehidupan

Thales (624-546 SM) dikenal sebagai filsuf pertama dalam sejarah Barat yang berusaha menjelaskan asal mula alam semesta secara rasional dan non-mitologis. Ia berpendapat bahwa air (hydor) adalah arche, yaitu asal mula dari segala sesuatu.[1] Pandangan inilah yang mengawali daripada pemikiran ilmiah. Sebab, Thales berusaha menjelaskan realitas dengan akal dan observasi, bukan berpegang pada teologis berupa kisah-kisah dewa di zaman tersebut.

Menurutnya, air merupakan unsur utama yang menopang segala kehidupan yang ada di dunia. Ia memperhatikan bagaimana air dapat berubah bentuk menjadi uap, es, dan hujan. Semua kehidupan ini juga memerlukan air untuk melangsungkan kehidupan.[2] Hal tersebut menunjukan bahwa air bukan hanya elemen fisik, namun juga menjadi simbol keteraturan dan kesinambungan kehidupan alam.

Namun, pemikiran Thales hanya terhenti pada aspek material, yaitu alam. Ia tidak sampai kepada aspek metafisik tentang sang pencipta. Baginya, air adalah asal dari segala sesuatu, tetapi bukan ciptaan dari sesuatu yang lebih tinggi. Di titik inilah wahyu datang melengkapi pandangan tersebut dalam perspektif teologis yang lebih luas.

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 5: Penciptaan Manusia

Perspektif Al-Qur’an tentang Air

Lebih dari seribu tahun setelah Thales mendobrak pemikiran bangsa Yunani terhadap kisah-kisah dewa, Al-Qur’an hadir dengan pandangan ilmiah terhadap realitas, bahkan juga lebih mendalam secara spiritual. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“…dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30)

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa sumber kehidupan seluruh makhluk ialah air. Sebuah kebenaran yang baru dipahami secara ilmiah berabad-abad tahun setelah turunya ayat ini. Dalam pandangan ajaran Islam, air bukan asal tuhan, melainkan ciptaan tuhan sebagai sarana kehidupan bagi makhluk di muka bumi.

Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat tersebut memiliki tiga tafsir yang berbeda. Pertama, pendapat Qatadah, yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dari air. Kedua, keberlanjutan kehidupan segala sesuatu tergantung pada air. Ketiga, Kami (red: Allah) menjadikan segala sesuatu hidup dari air tulang sulbi (sperma). Pendapat ketiga adalah pendapat al-Qurtubi. Ia juga menegaskan bahwa makna dari kata “ja’alna” adalah “khalaqna”. Maksudnya, Tuhan bukan menjadikan segala makhluk dari air sulbi, akan tetapi Ia menciptakan segala makhluk dari air sulbi.[3]

Hal ini juga dijelaskan dalam kitab Tafsir Al-Misbah bahwa terjadi perbedaan pendapat pada makna ayat tersebut. Dalam kajian sitologi, air merupakan unsur utama dalam membangun sebuah sel pada makhluk hidup dan tumbuhan. Sedangkan dalam kajian biokimia, air menjadi unsur terpenting pada pertumbuhan dan perubahan yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup.[4]

Dengan demikian, Tuhan tidak hanya berpaku pada ayat-ayat qauliyyah (wahyu tertulis) dalam menunjukan kebesaran-Nya, tetapi juga memperlihatkan dalam bentuk ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam). Dengan ini, Al-Qur’an menunjukan bahwa wahyu Tuhan tidak bertentangan dengan sains, justru Al-Qur’an menunjukkan keselarasan antara keduanya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 30: Malaikat dan Khalifah (1)

Dialog antara Akal dan Wahyu

Thales mengawali pencariannya tentang alam melalui rasio dan observasi, maka Al-Qur’an membicarakannya melalui wahyu dan keimanan. Walaupun keduanya berbeda, namun tidaklah bertentangan. Thales menunjukkan bahwa akal manusia mampu menyiapkan pola keteraturan alam. Sedangkan Al-Qur’an menegaskan pola keteraturan yang ada ini merupakan manifestasi dari kebesaran Tuhan.

Pemikiran Thales menjadi pondasi awal bagi berkembangnya ilmu pengetahuan setelahnya. Perkembangan sains yang kita rasakan saat ini tidak lepas dari jasa Thales. Ilmu pengetahuan berupaya menjelaskan bagaimana kehidupan berlangsung. Sementara agama menjelaskan mengapa kehidupan itu ada. Keduanya bukanlah pertentangan, namun hal yang harus dipadukan. Perpaduan ini melahirkan pemahaman bahwa pengetahuan ilmiah dan wahyu adalah dua jendela menuju kebenaran yang sama.

Maurice Bucaille menyebutkan banyak pernyataan Al-Qur’an tentang air sebagai dasar dan unsur kehidupan.[5]  Air memang menyumbang sekitar 70% dari total massa tubuh manusia dan 99% dari seluruh molekul di dalamnya. Angka ini akan menurun sampai 55% pada masa lansia.[6]

Harmoni Agama dan Sains

Pemikiran Thales dan Al-Qur’an dapat bertemu dalam satu kesadaran: bahwa kehidupan selalu bergantung pada air dalam keberlanjutan. Perbedaan utama dari pemikiran Thales dan Al-Qur’an ialah Thales melihat fenomena ini sebagai prinsip material, sedangkan Al-Qur’an memberikan tanda kebesaran Tuhan.

Melalui air, Al-Qur’an mengajarkan bagaimana keteraturan dan kesimbangan alam (mizan) harus dijaga oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sains membantu dalam memahami mekanisme itu, sementara Al-Qur’an memberikan nilai moral untuk menjaga alam. Dengan demikian, agama dan sains bukanlah medan yang berlawanan, tetapi dua jalan yang harus berjalan secara beriringan.

Jika Thales memberikan manusia cara berpikir rasional tentang alam, maka Al-Qur’an memberikan arah spiritual agar pengetahuan itu tidak kehilangan makna. Seperti ditegaskan Harun Yahya bahwa memahami alam semesta berarti membaca tanda-tanda Sang Pencipta yang terlukis dalam setiap fenomena alam.[7]

Baca Juga  Seni Saling Memaafkan dalam Islam

Meski lahir dari dua sudut pandang berbeda, namun keduanya tapi berujung pada pengakuan yang sama. Semua kehidupan memiliki akar satu dan tunduk pada keteraturan universal. Thales menemukan substansi dasar air, sementara Al-Qur’an menegaskan air sebagai bukti kekuasaan Allah.

Sains memberitahu kita bagaimana kehidupan ini bekerja, sedangkan wahyu memberitahu mengapa kehidupan bermakna. Maka, dalam setiap tetes air yang turun ke muka bumi, sesungguhnya terdapat dialog abadi antara akal dan wahyu, antara Thales dan firman Tuhan.


Daftar Pustaka

[1] Bertrand Russel, History Of Western Philosophy, (London: George Allen & Unwin Ltd, 1946), h. 34.

[2] A. Katsuki, “Water: An Absolute Requirement for Life,” dalam Bioastronomy — The Next Steps, ed. oleh George Marx, Astrophysics and Space Science Library (Dordrecht: Springer Netherlands, 1988), 144: 15–19, https://doi.org/10.1007/978-94-009-2959-3_2.

[3] Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān, ed. Aḥmad al-Bardūnī and Ibrāhīm Aṭfīsh, (Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1384 AH / 1964 CE), Juz. 11, h. 284.

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Jilid 8, h. 445.

[5] Maurice Bucaille, The Bible, The Al-Qur’an and Science, (Pakistan: Islamic Book service, 1998), h. 173.

[6] Claudio Messori, “Deep into the Water: Exploring the Hydro-Electromagnetic and Quantum-Electrodynamic Properties of Interfacial Water in Living Systems,” OALib 06, no. 05 (2019): 1–50, https://doi.org/10.4236/oalib.1105435.

[7] Harun Yahya, The Creation Of The Universe, (Canada: Al-Attuque Publishers, 2000), h. 207.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID