Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Benarkah Malaikat Pernah Menentang Allah Swt?

Salah satu rukun iman dalam agama Islam adalah percaya kepada malaikat-malaikat Allah Swt. Kata malaikat sendiri merupakan bentuk plural atau jamak dari kata tunggal “malak” yang berarti utusan. Secara hakikat, malaikat adalah makhluk berjisim lembut yang mampu berubah wujud ke dalam berbagai bentuk sebagaimana yang pernah disaksikan oleh para rosul (Tafsir Futuhat Ilahiyyat, vol. 1, hlm. 73). 

Dalam diskursus ilmu teologi, dijelaskan bahwa Allah Swt telah memberikan sifat “ishmah” kepada para rosul, nabi, bahkan malaikat. Ishmah secara bahasa bermakna penjagaan. Sedangkan secara istilah “ishmah” merupakan penjagaan Allah Swt kepada seorang mukallaf dari dosa besertaan ketidakmungkinan terjadinya perbuatan dosa tersebut (tuhfatul Murid, hlm. 89).

Akan tetapi, sifat “ishmah” tersebut seakan-akan hilang saat para malaikat memberanikan diri protes terhadap keputusan Allah Swt yang menjadikan nabi Adam as sebagai khalifah di muka bumi. Kisah tersebut terabadikan dalam firman Allah Swt;


وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S al-Baqarah [2]: 30) 

Asbabun Nuzul Ayat 

Menurut riwayat, ayat ini bercerita tentang kehendak Allah Swt menciptakan nabi Adam as sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka menjalankan hukum-hukum Allah Swt di dalamnya. Namun kehendak tersebut dijawab oleh para malaikat, seolah-olah mereka tidak menyetujui dengan ungkapan;” Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”. Sebab sebelum menciptakan nabi Adam as, Allah Swt terlebih dahulu menciptakan para jin di muka bumi. Akan tetapi, justru anugerah itu mereka khianati dengan berbuat kerusakan di dalamnya. Akhirnya, Allah Swt mengutus para malaikat untuk mengasingkan mereka ke pulau-pulau dan gunung-gunung (Tafsir Jalalain, hlm. 6). 

Baca Juga  Mengenal Tiga Tafsir Tematik Populer di Indonesia

Pendapat Para Mufassir 

Dalam memahami jawaban malaikat di atas, Sulaiman bin Umar al-‘Ujaili (w. 1204 H) berpendapat bahwa jawaban tersebut disampaikan dalam rangka mencari kejelasan atas pemahaman yang samar bagi mereka berupa hikmah penciptaan manusia di muka bumi. Bukan berarti bentuk penentangan atas keputusan Allah Swt dan menggunjing (ghibah) keturunan nabi Adam as (Futuhat Ilahiyyat, vol. 1, hlm. 73-74). Sedangkan Ahmad bin Muhammad as-Showi (w. 1241 H) mengatakan bahwa jawaban tersebut bukanlah ungkapan protes kepada Allah Swt dan menghina nabi Adam as. Melainkan dalam rangka meminta jawaban yang dapat menenangkan kekhawatiran mereka atas kehendak Allah Swt tersebut (Tafsir Showi, vol. 1, hlm. 29). 

Hikmah dibalik Dialog Antara Allah Swt dengan Malaikat Terdapat beberapa hikmah yang bisa dipetik dibalik kisah dialog yang terjadi antara Allah Swt dan malaikat perihal penciptaan manusia di muka bumi. Pertama, musyawarah tuhan dengan makhluknya. Kedua, menunjukkkan ketidakmampuan malaikat mengetahui hal-hal ghaib. Ketiga, menunjukkan keistimewaan nabi Adam as kepada malaikat. Keempat, mengajarkan bermusyawarah dan mengagungkan nabi Adam As (Tafsir Showi, vol. 1, hlm. 29). Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jawaban malaikat atas kehendak Allah Swt menciptakan manusia di bumi dalam Q.S al-Baqarah [2]: 30 tersebut bukanlah bentuk penentangan dan pencelaan semata. Akan tetapi, murni mencari kepahaman. Sebab, Allah Swt telah menjamin para malaikat, rosul dan nabi terhindar dari kesalahan yang berdampak dosa. Wallahu a’lam

Editor: Trisna Yudistira