Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tren Baru dalam Peringatan Maulid Desa Driyorejo

Shu'aib
Gambar: langkahmanfaat.com

Memperingati maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw pada mulanya untuk membangkitkan semangat umat Islam. Menurut Salahuddin Al-Ayubi, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal cinta umat kepada Nabi Muhammad saw. Dia menghimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati. Kini harus dirayakan secara massal. Bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat islam. 

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari senin 12 Rabiul Awal (Mulud), sudah dihapal luar kepala oleh anak-anak NU. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif. Kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya bulan Rabi’us Tsany. Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, Juga ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan pengajian di rumah, musholla dan di masjid, dihadiri puluhan ribu umat islam. 

Dalam lingkungan masyarakat Indonesia, juga ada beberapa praktik tradisi. Seperti praktik istighasah, tahlil dan dzikir setelah sholat. Tradisi tersebut dilakukan dengan melempar uang koin yang tampak dilakukan di Masjid Sabilut Taqwa. Ini merupakan trend baru dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad saw ketika pembacaan mahalul qiyam.

Tradisi Peringatan Maulid di Desa Driyorejo

Tradisi peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Driyorejo memiliki ciri khas tersendiri. Dalam peringatan Maulid Nabi, khususnya masyarakat desa Driyorejo, ditandai dengan melantunkan maulid diba’i barzanji dan sebaran uang koin di Masjid Sabilut Taqwa.

Baca Juga  Syekh Nawawi Al-Bantani: Mufasir Mendunia Asal Banten

Bagi masyarakat Driyorejo, lempar uang koin adalah diibaratkan seperti sedekah atau ungkapan rasa syukur. Yakni menyebarkan uang untuk diberikan kepada masyarakat dan anak-anak. Untuk mengerjakannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Tapi disiapkan pengurus masjid dan dibantu oleh masyarakat dengan besaran dari sumbangan masyarakat yang sifatnya sukarela dan seikhlasnya.  

Peringatan Maulid Nabi mengandung nilai spiritual karena mengajak umat Islam untuk lebih memperdalam sebuah kajian keislaman. Namun di sisi lain banyak mengandung nilai sosial. Dalam konteks ini yang digunakan dalam masyarakat ialah tren baru dalam peringatan Maulid Nabi, yakni melempar koin ketika pembacaan Mahalul Qiyam di desa Driyorejo yang diselenggarakan di Masjid ataupun Musholla.

Pada saat Mahalul Qiyam Masyarakat mulai bersiap-siap untuk merebut uang koin yang dilemparkan tersebut. Tradisi lempar Koin ini sudah ada sejak beberapa tahun hingga sampai sekarang masih ada. Tradisi ini diadakan oleh warga Driyorejo setelah melaksanakan sholat isya’. Para warga berkumpul di dalam masjid untuk membacakan tahlil, yasin terlebih dahulu. Kemudian sedikit sambutan atau ceramah lalu melantunkan shalawat nabi.

Beberapa orang yang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa serta orang tua pun juga ikut merayakan tradisi tersebut dengan berebut uang koin. Sejumlah warga melemparkan uang koin dan uang kertas ke lantai masjid. Anak-anak kecil dan orang dewasa pun saling berebut uang koin dan ada juga beberapa warga mengasih selembar uang kertas dengan berurutan. Meskipun mereka saling dorong mendorong, tetapi mereka tetap rukun dan saling menghormati satu sama lain. 

Dalil

Menurut Pengurus Masjid Bapak Sumardi, tradisi lempar uang koin ini untuk mengajak warga melaksanakan ibadah di masjid khususnya anak-anak agar lebih giat lagi, tradisi ini juga bentuk sedekah yang dilakukan setiap tahun pada malam peringatan maulid nabi. Adik saya yang masih kelas 3 Sekolah Dasar dia juga ikutan rebutan, dia merasa senang, meski dia masih anak-anak, dan dia pun tidak ada rasa takut berebut dengan temannya.

Baca Juga  Ramadan dan Kesadaran Diri: Jalan Suci Menuju Pengalaman Puncak Spiritual

Tradisi lempar koin ini sudah dilaksanakan turun temurun. Hal ini dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Dan adapun di daerah yang saya temui seperti di daerah taman, sepanjang tradisi tersebut juga masih ada sampai sekarang. Hanya saja sebagian daerah tidak melakukan tradisi tersebut.    

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, antara lain surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Surah Al-Anbiya ayat 107, surah Yunus ayat 58, surah Al-Hajj ayat 32, surah Ali Imran ayat 164, dan surah Ash-Shaff ayat 6.    

Dengan kata lain, tradisi lempar uang koin ini sudah ada pada zaman terdahulu atau nenek moyang. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan maulud yang dilaksanakan di Masjid Sabilut Taqwa. Masyarakat Driyorejo memperingati Maulid Nabi Muhammad saw yang berasal dari warga sekitar. Berbagai kegiatan yaitu: yasin, membaca maulid diba’i, sampai selesai, tradisi ini beda dengan tradisi lainnya. Mereka menganggap ini sebatas hanya sebagai ajang wujud rasa Syukur kepada Allah yang bernilai shadaqah dan ibadah. 

Penyunting: Bukhari