Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hubungan Timbal Balik Antarumat Beragama dalam Al-Qur’an

timbal balik
Sumber: https://aljumuah.com

Hubungan timbal balik merupakan perilaku yang harus dipahami antar umat beragama. Hal ini berarti tindakan sebab akibat yang terjalin di antara manusia. Mudahnya, jika merusak barang yang orang lain miliki maka orang tersebut nantinya merusak barang kita miliki. Sehingga memahami adanya sebab akibat yang terjadi di dunia menjadikan seseorang berpikir sebelum bertindak lebih-lebih menyangkut kepercayaan agama lain.

Dasar Hubungan Timbal Balik Antarumat Beragama

Pemahaman mengenai hubungan timbal balik antar umat beragama telah Al-Qur’an jelaskan ke dalam dua ayat. Pertama, ayat yang menjelaskan tentang larangan tentang menghina sesembahan ajaran agama yang berbeda yang berbunyi,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٠٨ ( الانعام/6: 108)

Artinya: “Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan“. (Al-An’am/6:108)

Dalam ayat tersebut Allah menyampaikan kepada pembacanya “siapa saja yang menghina sesembahan agama lain, maka Allah pula lah yang nantinya dihina”. Hamka menjelaskan dalam tafsirnya bahwa menghina karena perbedaan menunjukkan kebodohan yang dilakukan oleh seseorang. Hal ini merupakan konsekuensi atas tindakan umat Islam yang disampaikan oleh Allah melalui Al-Qur’an.

Penghinaan yang dijelaskan dalam ayat tersebut nantinya akan menimbulkan akibat tertentu. Karena dalam ayat tersebut para mufassir menjelaskan saling menghina akan berakibat kepada permusuhan antar umat beragama. Permusuhan inilah yang nantinya akan merusak harmonisasi antar umat beragama. Sehingga yang menjadi titik tekan dalam ayat ini adalah jangan sampai yang mengaku muslim tapi masih sempat untuk menghina ajaran lain.

Baca Juga  Tingkatan dan Bahaya Perbuatan Syirik

Etika Dialog Timbal Balik

Muslim pula harus memahami bagaimana cara berdialog antar umat beragama. Hal ini yang menjadi hubungan timbal balik kedua antar umat beragama. Berkenaan dengan ini, dijelaskan oleh Al-Qur’an dalam Qs. Al-Ankabut [29]: 46 berikut,

۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٤٦ ( العنكبوت/29: 46)

Artinya: “Janganlah kamu mendebat Ahlulkitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang berbuat zalim di antara mereka. Katakanlah, “Kami beriman pada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu. Hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (Al-‘Ankabut/29:46)

Penjelasan Al-Quran tentang upaya dialog antar umat beragama harus dilakukan dengan cara yang “lebih baik”. Az-zuhaili memberikan penjelasan kata “lebih baik” maksudnya bahwa dialog sebagai upaya dalam pembicaraan dengan menggunakan gaya bahasa yang baik, hikmah, dan nasihat yang baik. Pola seperti ini akan menciptakan suasana yang damai, aman, dan nyaman antar umat beragama. Terciptanya ruang yang damai bagi antar umat beragam merupakan bagian dari ruh ajaran Islam.

Keberagaman yang telah ada merupakan keniscayaan yang telah diciptakan oleh Tuhan. Sehingga manusia tidak memiliki intervensi apa pun di dalamnya. Manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin berusaha agar tidak merusak keberagaman yang telah diciptakan. Usaha yang dilakukan jika berkaca pada kedua ayat di atas adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang memiliki konsekuensinya.

Apabila menghina sesembahan agama lain maka terjadi sebaliknya bahkan bisa lebih dan dapat menciptakan kerusuhan dan permusuhan. Begitu juga dengan dialog antar umat beragama lakukanlah dengan bijak berisikan argumentasi logis yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Dalam pada itu, hubungan timbal balik antar umat beragama ini perlu diperkenalkan dan diajarkan kepada siapa saja yang meyakini Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk.

Baca Juga  Isyarat Al-Quran tentang Tanggung Jawab Sosial Sebagai Ciri Takwa