Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Q.S Al-Baqarah 165: Kaum Beriman Wajib “Bucin” kepada Allah

Lemah
Sumber: https://www.istockphoto.com/

Cinta dan rindu, dua kata yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apakah ada yang pernah merasakan keduanya? Cinta yang datang secara tiba-tiba, tidak mengenal waktu ataupun masa, tanpa ada yang mampu menolak kedatangannya. Adakah yang mampu menahan dari rasa ini? Rasa yang selalu saja menghantui. Lalu, bagaimana halnya dengan rindu? Selalu lewat setiap perpisahan berlalu, seperti angin yang menyebabkan daun-daun terjatuh. Bagaimana cinta dan rindu bisa menjadikan kaum beriman bucin kepada Allah?

Itulah cinta dan rindu, terkadang cinta itu perlu pembuktian. Apakah cinta itu tulus atau hanya sekedar kata-kata. betapa dunia ini dipenuhi dengan cerita keduanya, antara manusia satu dengan lainnya saling berkaitan dan tak dapat terpisahkan. Akan tetapi, ada yang dapat melampui semua itu. Yaitu cinta hamba kepada Rabb-Nya dan rindu umat kepada Rasul-Nya.

Cinta Hamba Kepada Rabb-Nya

Seorang filsuf Muslim, Imam Al-Ghazali pernah menyebutkan dalam kitabnya yaitu Ihya’ Ulumuddin pada awal bab, yaitu:

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Adapun orang-orang yang beriman, (mereka) sangat cinta kepada Allah,” (Q.S Al-Baqarah: 165)

Dalam hadits juga dijelaskan, Ketika Rasulullah saw pernah ditanya oleh sahabatnya, Abu Razin Al-‘Uqaili “wahai Rasulullah, apakah keimanan itu? Beliau menjawab, “Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih engkau cintai daripada yang lain” (HR. Ahmad).

Disebutkan juga dalam hadits yang masyhur sekali bahwa Nabi Ibrahim as berkata kepada malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya, “Adakah kau melihat Dia yang dicintai hendak mematikan orang yang mencintai?” Allah kemudian mewahyukan kepada Nabi Ibrahim as, “Apakah kau melihat orang yang mencintai benci bertemu dengan kekasihnya?” Nabi Ibrahim berkata, “Wahai malaikat maut, cabutlah nyawaku sekarang juga”.

Baca Juga  Memahami Makna Profetik: Istilah dan Paradigmanya dalam QS. Ali Imran

Bucin Kaum Beriman

Dalam kondisi tesebut tentunya akan ditemukan pada seorang yang dipenuhi rasa cintanya kepada Allah, pasti akan dengan senang hati dan bergegas menyambutnya. Meskipun dalam kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Lalu, dengan adanya rasa cinta yang besar kepada Allah maka Allah juga akan membalas dengan cinta-Nya yang lebih besar juga kepada hamba-Nya. Cinta itulah yang tidak akan bertepuk sebelah tangan.

Cinta Allah kepada seorang hamba tidak bisa dimaknai seperti cinta seorang hamba kepada Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba maka akan dihindarkan darinya gangguan juga perbuatan maksiat dan dibersihkan dari hatinya rasa hubb al-dunya yaitu kecintaan terhadap dunia.

Sedangkan cinta seorang hamba kepada Allah adalah dengan mencondongkan hatinya agar lebih dekat dengan Allah, menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Karena seorang hamba pasti yakin bahwa Allah adalah tempat bergantung. Itulah sebabnya seorang hamba akan mencintai Allah. Apabila seorang hamba telah mampu melakukan itu, maka akan ada rasa bahagia dalam dirinya.

Mencintai adalah Mengagumi

Banyak yang mengatakan bahwa cinta itu berawal dari mengagumi seseorang, entah itu dari kenyamanan didekatnya, atau dari sikapnya yang mungkin berbeda dari banyak orang, dan lain sebagainya. Maka bisa disebut juga bahwa sesuatu yang mendatangkan kenikmatan itulah yang akan dicintai dan didekati oleh seseorang. Karena kecenderungan hati pada sesuatu yang mendatangkan kenyamanan dan kenikmatan.

Sebagai contoh, pembuktian dengan panca indera yaitu nikmatnya indera penglihatan adalah saat melihat pemandangan alam yang indah seperti pegunungan dengan air terjunnya atau lautan dengan terumbu karangnya, atau saat melihat wajah seseorang yang rupawan, dan lain sebagainya.

Jadi, saat sesuatu yang tertangkap oleh panca indera menghadirkan kenyamanan dan kenikmatan pasti akan menumbuhkan rasa cinta terhadap objek tersebut. Tapi itu hanya sebatas panca indera, lalu bagaimana jika menggunakan mata hati? Mata hati merupkan alat yang jitu ketika memilih keakuratan suatu hal. Bahkan lebih tajam dibandingkan dengan panca indera. Dengan mata hati ini lah kita dapat mengetahui apakah cinta ini tulus atau hanya sekedar pupus.

Baca Juga  Edip Yüksel: Membaca Al-Qur’an Lewat Injil dan Akal

Banyak sekali pengertian tentang cinta ini, seorang ulama pernah berkata, “cinta adalah selalu berdzikir”. Itu benar sekali, siapa pun yang sedang jatuh cinta pasti tidak akan melewatkan waktunya untuk mengingat kekasih hatinya. Maka, siapa saja yang mencintai-Nya, tak akan kering bibir dan hatinya untuk terus berdzikir dan mengingat-Nya. Semoga kita dapat menjadi bucin kepada Allah dengan cinta yang sangat.

Penyunting: Ahmed Zaranggi