Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mencermati Ayat-Ayat Kauniyah di Dalam Al-Qur’an

kauniyah
Sumber: https://islamicbridge.com

Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki mukjizat terbesar dan menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam. Kandungan dalam Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang akidah, fiqih, tauhid dan hal-hal yang berhubungan dengan hari akhir. Namun, juga membahas ayat kauniyah tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT dalam terciptanya alam semesta ini. Salah satu contoh tanda kebesaran Allah yang utama adalah Sunnatullah atau hukum alam yang mana manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan. Hal tersebut adalah memegang kunci dalam menentukan keselamatan atau kedamaian di dunia.

Tanda-tanda kebesaran Allah adalah sesuatu yang mutlak dalam kehidupan sehari-hari yang banyak dijumpai, baik hal tersebut bersifat tersurat maupun tersirat. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang membahas tentang kebesaran Allah SWT. Dan seandainya dikaji lebih jelas, terperinci, dan lebih serius di zaman sekarang ini. Maka akan dapat menambah tigkat keimanan manusia dalam mengetahui kebenaran Al-Qur’an dari sisi Allah SWT. Sehingga pembahasan kali ini agar kita mengetahui betapa mengejutkannya keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Ayat Kauniyah

Adanya langit, bumi dan segala isinya di alam ini sudah menjadi tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Kita disini dapat bernafas dan menghirup udara segar juga sudah mrupakan tanda kebesaran Allah SWT. Ada banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah lainnya yang tidak kita sadari secara jelas. Dimana kita hanya menikmati saja tanpa merenungkan hal tersebut. Dan salah satu cara agar kita bisa menyadari akan kebesaran Allah itu; ada dengan kita beriman kepada Allah SWT dengan menjadi segala apa yang diciptakan-Nya sampai tidak terjadi kerusakan. Karena tanda-tanda-Nya mengandung makna, pesan, hikmah yang sangat dalam dan bisa jadi misterius.

Baca Juga  Refleksi Kisah Qur'ani: Upaya Berfikir Reflektif

Al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna dan berisi ayat-ayat yang beragam, dari ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Sifat ayat qauliyah berarti Al-Qur’an merupakan perkataan atau firman Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Sedangkan ayat kauniyah adalah ayat yang menuntun manusia untuk merenungkan penciptaan langit dan bumi. Pergantian siang dan malam dan hal lainnya yang membahas tentang fenomena di alam semesta ini.

Dalam merenungi ayat kauniyah ini adalah orang yang berakal; karena orang yang beriman dan berakal menyadari bahwa seluruh alam semesta ini tidak diciptakan secara sia-sia. Dengan adanya ayat kauniyah ini menunjukkan betapa besar kekuasaan dan keagungan yang dimiliki Allah SWT pada alam semesta. Sehingga dapat menghantarkan manusia untuk bertakwakal, tunduk dan memiliki rasa takut kepada Allah SWT.

Penafsiran Ayat

Syekh Ali As-Shabuni dalam kitab Shafwatu Tafasir menjelaskan ketika menafsirkan surat Al-Imran ayat 190 yang berbunyi:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang dikenal.”

Dijelaskan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi yang mana di dalamnya terdapat keindahan dan kebijaksanaan, serta terjadinya pergeseran malam dan siang secara terus menerus. Tanda kebesaran Allah disini terlihat jelas bagi hamba-Nya yang memiliki akal dan mempergunakannya sebaik mungkin. Orang yang memperhatikan tanda-tanda tersebut yang merupakan ayat kauniyah dengan tafakkur, tidak seperti cara memandang hewan ternak yang hanya bisa untuk melihat sesuatu dengan tatapan semu dan kosong.

Imam As-Syaukani pun juga menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 163-164 yang berbunyi:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيم

Baca Juga  Berdemokrasi dalam Pandangan Al-Qur'an

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ 

Artinya: “Dan Tuhanmu kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”

***

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah adalah sang pencipta Yang maha Esa dan semua tanda-tanda yang disebutkan di ayat tersebut semata-mata hanya untuk menegaskan kembali tentang pengtauhidan Allah. Karena hanya Allah lah satu-satunya yang mampu untuk melakukan semua yang disebutkan pada ayat di atas. Mulai dari penciptaan langit dan bumi, pergeseran siang dan malam, dan tak lupa mengenai penciptaan manusia yang berasal dari tanah dan tumbuh bekembang biak. Semua itu hanya dimengerti oleh orang-orang yang berakal dan mau menggunakan akalnya untuk mentadabburi ayat kauniyah yang ada di alam ini.

Selanjutnya juga terdapat lagi dalam surah al-Jatsiyah ayat 3-5, artinya :

“Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin. Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini. Pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.”

Isi dari ayat tersebut menjelaskan tentang pertama, penciptaan langit dan bumi disebutkan lebih dulu dari penciptaan makhluk karena hanya Allah saja yang Maha Mengetahui hakikat langit dan bumi. Kedua, Allah menyebutkan atas penciptaan diri  kita sendiri. Dimana sistem kerja tubuh bekerja secara sempurna atas izin dan kuasa Allah. Meski unsur kejadian manusia terambil dari bumi, tetapi manusia tidak hanya tercipta dari unsur itu saja. Terdapat ruh yang hanya diketahui oleh Allah semata. Sehingga dapat disimpulkan pada ayat ini Allah lebih dahulu menyebutkan orang yang percaya lalu disebutkan bagi orang yang yakin dan terakhir orang yang berakal. Pada penyebutan orang berakal secara khusus memiliki arti penggunaan daya fikir serta kesadaran moral sehingga terpelihara dari kesesatan dan kedurhakaan pada Allah.

Baca Juga  Peranan Logika dalam Ilmu Hadis