Konsep ru’yatullah, melihat Allah Swt. di akhirat, merupakan salah satu hal yang bersifat eskatologis. Di dalam Islam, konsep tersebut adalah hasil penafsiran para ulama’ terkait ayat Al-Qur’an, surah Al-Qiyamah ayat 22–23. Di antara para ulama yang menafsirkan dengan yang demikian itu adalah Al-Hasan dan ‘Ikrimah. Hal ini sebagaimana keterangan Al-Tabari, riwayat dari Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari dan Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq, di dalam karyanya yang berjudul Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyi Al-Qur’an.
Ru’yatullah dalam Tulisan Yasmin Karima
Sementara itu, menurut Yasmin Karima Fadilla Suwandi dalam tulisannya yang berjudul Ru’yatullah dalam Penafsiran Muqatil bin Sulaiman dan At-Thabari di website Tanwir.ID, 3 hari yang lalu, mengungkapkan bahwa:
- Ada perbedaan penafsiran terkait maksud melihat Allah Swt. di akhirat antara kelompok Sunni dan Syiah-Muktazilah.
- Ada kelompok Syiah dan Muktazilah yang menafsirkan bahwa kelak, di akhirat, orang-orang mukmin dapat melihat Allah Swt. secara jelas.
- Menurut penafsiran kelompok Sunni, dalam hal ini adalah Al-Tabari, maksud ayat tersebut bukanlah melihat Allah Swt. secara langsung. Tetapi melihat atau menerima pahala dari Allah Swt. .
Barangkali, Yasmin membaca Al-Tabari dalam keadaan mengantuk berat sehingga menghasilkan tulisan terkait pandangan Al-Tabari yang berseberangan dengan konsepsi Al-Tabari itu sendiri, dan secara umum pada pandangan golongan sunni. Oleh karena itu, tulisan ini disajikan secara khusus untuk mengeritik tulisan Yasmin sekaligus menunjukkan pandangan kelompok Sunni dan Muktazilah secara umum kepada para pembaca.
Di dalam artikel ini, pandangan kelompok Sunni diwakili oleh Al-Tabari dan Al-Ghazali. Sementara kelompok Muktazilah diwakili oleh Al-Zamaksyari.
Melihat Kembali Ru’yatullah Penafsiran Al-Tabari
Dalam karyanya yang berjudul Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyi Al-Qur’an, Ibn Jarir Al-Tabari menjelaskan bahwa makna dari firman Allah Swt. surah Al-Qiyamah ayat 22, pada hari kiamat, orang mukmin bergembira karena dalam kondisi puncak kebahagiaan. Hal ini sebagaimana analogi skematik: wajah seseorang itu berseri-seri, bila hal itu adalah kebaikan, maka yang demikian itu adalah nikmat. Allah Swt. memberikan keceriaan pada wajah seseorang, bila hal itu kebaikan. Maka yang demikian adalah kenikmatan yang terberi.
Selanjutnya, menurut Ibn Jarir makna ayat setelahnya, yakni ayat 23, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada ulama yang menafsirkan bahwa makna nazirah pada ayat tersebut adalah melihat. Sementara sebagian yang lain menafsirkannya dengan penantian.
Al-Tabari menunjukkan sikap atas posisinya setelah panjang-lebar memaparkan landasan argumen dari tiap-tiap ulama yang berbeda pandangan tersebut. Dia mengatakan:
“وأولى القولين في ذلك عندنا بالصواب القول الذي ذكرناه عن الحسن وعكرِمة، من أن معنى ذلك تنظر إلى خالقها”
Sebaik-baiknya posisi, dalam permasalahan itu, menurutku yang benar adalah pendapat yang telah kusebutkan dari posisi Al-Hasan dan ‘Ikrimah, yakni ‘melihat sang pencipta’.
Tidak hanya itu, dia kemudian juga menunjukkan atsar Nabi, dari Ibn ‘Umar,sebagai premis atas penilaian yang di buatnya.
Penafsiran Al-Ghazali
Hujjah al-Islam al-Imam Abu Hamid al-Gazali lahir di Thus, beribu kota Khurasan di Negeri Persia tahun 450 H. Dia adalah salah satu ulama yang sangat produktif dalam kepenulisan. Meskipun Al-Ghazali tidak menulis karya tafsir, setidaknya uraian di dalam kitabnya yang berjudul Ihya ‘Ulum Al-Dini perihal ru’yatullah dapat mewakili gambaran umum golongan kelompok sunni.
Terkait ayat 22–23 dari surah Al-Qiyamah, menurut Al-Gazali, ayat tersebut memverivikasi maksud ayat 103 dari surah Al-An’am. Dia berpendapat bahwa melihat Allah Swt. di akhirat itu adalah hal yang mungkin. Sementara melihat-Nya di dunia adalah tidak. Al-Ghazali juga berargumen, bila Allah Swt. tidak mungkin dilihat, mengapa Nabi Musa memohon untuk melihat-Nya? Sementara hal tersebut adalah mustahil. Oleh sebab itulah, Al-Ghazali memandang bahwa Allah Swt. dapat dilihat di akhirat dan hal itu tidaklah mustahil.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ‘melihat’ adalah bagian dari ketersingkapan dan pengetahuan, meskipun lebih sempurna dan lebih jelas daripada ‘mengetahui’. Bila mengetahui Allah Swt. tanpa mengikatkan pada suatu arah adalah boleh, maka melihat Allah Swt. tanpa yang demikian itu adalah boleh. Sebagaimana Allah Swt. dapat diketahui tanpa penggambaran dan suatu cara, maka dapat pula Allah Swt. dilihat dengan yang demikian itu.
Penafsiran Al-Zamaksyari
Abu al-Qasim Mahmud ibn ‘Umar ibn Muhammad ibn ‘Umar al-Khwarizmi al-Zamakhsyari, seorang imam besar dalam ilmu tafsir, hadis, tata bahasa, bahasa, dan ilmu retorika. Dia menjadi imam pada masanya dan dihormati dalam berbagai bidang keilmuan. Dia lahir pada hari rabu 27 Rajab 467 H. Atau 18 Maret 1075 M, di Zamakhsyari. Salah satu karya tulis Al-Zamakhsyari adalah kitab Al-Kasyaf. Menurut Ali Iyazi, al-Kasyaf adalah satu-satunya kitab tafsir Muktazilah yang masih utuh hingga kini.
Menurut Al-Zamaksyari, dalam Al-Kasyaf, makna objek dalam ayat 22-23 dari surah Al-Qiyamah harus diinterpretasikan pada pemaknaan yang memuat kekhususan. Dalam hal ini, harus disamakan dengan makna umum yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti “saya menunggu Fulan untuk mengetahui apa yang akan dia lakukan pada saya.”
Artinya, berhenti dan menunggu dengan sabar. Sementara bila diartikan sebagai ‘melihat Tuhan’, hal ini adalah perkara yang mustahil. Oleh karena itu, makna dari ru’yatullah adalah penantian atas pahala dari Tuhan.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan
- Menurut pernyataannya sendiri, Al-Tabari bersikap mengunggulkan posisi pandangan ulama yang berpendapat bahwa makna ayat Al-Qiyamah tersebut adalah melihat Tuhan.
- Secara pandangan umum, golongan Sunni menyakini bahwa melihat Tuhan di akhirat adalah hal yang mungkin sebagaimana uraian Al-Ghazali.
- Sebagaimana diwakili oleh Al-Zamaksyari, menurut penanfsiaran kelompok Muktazilah terkait makna ayat al-Qiyamah diartikan sebagai ‘penantian pahala dari tuhan’ dan mustahil diartikan sebagai ‘melihat Tuhan’.
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply