1 Syawal merupakan memontum yang sangat di tunggu-tunggu seluruh umat Islam. Hari di mana manusia mengumandangkan takbir, tasbih, dan tahmid yang menunjukkan keagungan hari tersebut. Para perantau dari seluruh plosok negeripun bahkan rela pulang ke kampung halaman guna merayakan hari besar ini bersama keluarga dan sanak saudara. Pada hari itu manusia kembali fitrah (suci) sebagai karunia Allah atas ibadah selama satu bulan berperang melawan hawa nafsu dunia, demikianlah ia disebut Idulfitri.
Namun pada konteks pelaksanaan hari raya 1 Syawal Idulfitri terkhusus Indonesia sebagai identitas negara yang multikultural. Perbedaan tidak hanya tampak dari aspek antar agama tapi juga intra agama. Contohnya di tahun ini, pelaksanaan Idulfitri mendapati perbedaan di beberapa organisasi-organisasi Islam. Beberapa website dan media-media keislaman menyebutkan, pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat menetapkan pelaksanaan Idulfitri pada sabtu (22/4/2023). Sedangkan Muhammadiyah jatuh pada jum’at (21/4/2023).
Laksana kapal dengan penumpang yang beragam, Indonesia saat ini di hadapkan pada gelombang yang besar. Kapal tersebut sangat mungkin pecah ketika persatuan dan kesatuan dari nahkoda, penumpang dan materialnya tidak kokoh. Oleh karena itu segala bentuk perbedaan terkhusus pada pelaksanaan Idulfitri 1 Syawal hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan dan permusuhan.
Makna Idulfitri
Id al-Fithr atau Idulfitri adalah salah satu dari hari raya besar dalam agama Islam pada 1 Syawal. Secara definitif Idulfitri memiliki hubungan makna yang erat dengan tujuan ibadah puasa. Kalimat Idulfitri terdiri dari dua padanan kata ‘id’ dan ‘al-fithr’. Secara bahasa id berasal dari kata aada-ya’uudu yang artinya kembali. Hari raya di sebut ‘id sebab ia merupakan perayaan yang di laksanakan berulang-ulang, pada waktu yang sama, dan dimeriahkan setiap tahunnya.
Sedangkan fitri secara bahasa memiliki dua makna yang berbeda, yakni suci dan berbuka. Dimaknai suci karena bersih dari segala dosa, kejelekan, dan segala bentuk keburukan. Adapun pemaknaan berbuka merujuk kepada hadis Nabi yang berbunyi: Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Makanya di bulan Ramadhan sering terdengan di telinga kita istilah ‘iftar akbar’ yang artinya buka bersama.
Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa Idulfitri bermakna kembalinya seseorang pada keadaan suci (fitrah) dan terhapusnya segala keburukan, dosa, dan kesalahan sehingga ia kembali seperti bayi yang baru di lahirkan (born again).
Berbicara tentang fitrah pada hakikatnya manusia memiliki fitrah yang hanif. Artinya suatu sifat dalam diri yang cenderung memihak pada kebenaran dan kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “kebajikan ialah sesuatu yang membuat hati dan jiwa tenang. Dan dosa adalah sesuatu yang terasa tak karuan dalam hati dan terasa bimbang di dada”.
Idulfitri adalah hari untuk merayakan kembalinya fitrah, setelah hilang atau pergi dan akhirnya di temukan kembali. Hal ini memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa yang berintikan latihan menahan diri dari berbagai godaan dengan tujuan menjadi la’allakum tattaqun (hamba yang bertakwa).
Barangkali itulah alasan mengapa Allah menciptakan bulan ramadhan/puasa, agar kita dapat mensucikan diri dengan kemuliaan dan keberkahannya. Dengan demikian bulan ramadhan tidak hanya disebut sebagai bulan suci, tapi bulan penyucian diri.
Kalimatun Sawa: Konsep Titik Temu Ala al-Qur’an
Pluralitas, keberagaman, dan perbedaan merupakan kenyataan yang tak dapat di pungkiri (QS). Ibarat mata pisau, fungsi pluralitas/perbedaan pada hakikatnya bergantung pada pengelolaannya. Ketika perbedaan potensial menciptakan kekuatan, maka ia menjadi rahmat. Namun sebaliknya, jika perbedaan justeru menyebabkan perpecahan dan permusuhan, maka ia bukan rahmat akan tetapi tidak berlebihan jika menyebutnya laknat.
Kesadaran akan pluralitas dan perbedaan ampuh dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, apresiasi, toleransi, koeksistensi dan kolaborasi. Sebab ia mendorong keingintahuan manusia terhadap lingkungannya dan lingkungan yang lebih besar. Dengan modal keingintahuan inilah manusia menemukan persamaan dan perbedaan identitas antarindividu, antar kelompok, antar negara, antar agama, maupun intra agama itu sendiri.
Konsep konsensus atau titik temu dalam Islam di kenal dengan istilah ‘kalimatun sawa‘ yang secara harfiah bermakna kata yang sama atau kata sepakat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ali Imran: 64:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٦٤
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu; (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”
***
Asbabun Nuzul ayat di atas, senada dijelaskan beberapa Mufassir bahwa ayat tersebut turun ketika posisi Rasulullah di Madinah. Konteks ayat tersebut sebagaimana dijelaskan Quraish Shihab ditujukan kepada; kaum Nasrani Najran dan Yahudi Madinah yang berselisih paham perihal agama Nabi Ibrahim as.
Melihat problematika tersebut, Rasulullah selaku kepala negara turut serta untuk mencari jalan keluar terhadap perselisihan dan perdebatan di antara Yahudi dan kaum Nasrani Najran. Karena itulah turun QS Ali Imran: 64 sebagai perintah kepada Rasulullah; untuk mencari suatu titik temu dan meninggalkan perdebatan yang berpotensi menjadi permusuhan.
Beberapa mufassir nusantara seperti Buya Hamka, Quraish Shihab, dan Hasbi as-Shiddqy sepakat ketika menafsirkan ‘kalimatun sawa’; sebagai sebuah pernyataan yang disepakati Rasul dan kitab-kitab yang telah diturunkan. Istilah ini juga dimaknai sebagai kata sepakat atau konsep kesepakatan di tengah pluralitas dan perbedaan; agar kapal dengan penumpang yang beragam bisa singgah di dermaga kemaslahatan dan kedamaian.
Kontekstualisasi Spirit ‘Kalimatun Sawa’ Sebagai Langkah Solutif
Polemik Idulfitri 1 Syawal di tahun ini berpotensi menjadi sumber perpecahan apabila terjadi kesalahpahaman pada masing-masing golongan. Oleh karena itu penting suatu upaya mencari titik temu yang mampu mempersatukan di tengah perbedaan.
Mengutip penjelasan yang di sampaikan Yaqut Cholil pada konferensi pers penetapan 1 Syawal 1444 H: “Jika ada saudara-saudara kita yang terlebih dahulu memutuskan Idulfitri berbeda dengan pemerintah, harap tetap dihormati. Jangan tonjolkan perbedaan. Mari sama-sama kita mencari kesamaan di antara kita agar seluruh umat Islam bisa saling menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan sekaligus menjalankan perintah agama”.
Meskipun konsep ‘kalimatun sawa’ seringkali digunakan dalam konteks toleransi antar umat beragama. Namun konsep ini juga sangat relevan bahkan harus diimpelementasikan ketika terjadi perbedaan dan pergolakan pada intra ajaran Islam, salah satunya seperti perbedaan penetapan Idulfitri pada tahun ini.
“Aku senang para sahabat Nabi berbeda pendapat. Karena jika tak berbeda pendapat, kita tak punya alternatif yang meringankan”. (Umar bin Abd al-Aziz)
“Agama melarang adanya perpecahan, bukan perbedaan”. (Gus Dur)
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply