Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Swt yang dikaruniai akal dan hawa nafsu. Allah Swt mengaruniakan keduanya kepada manusia senantiasa hanya untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi larangannya.
Dalam melakukan ibadah manusia senantiasa membutuhkan tenaga untuk menunjang kesuksesan dalam menjalankan ibadah kepada Allah Swt. Seperti contoh makan, minum, pakaian, tempat tinggal, tempat ibadah, dll. Yang semuanya bisa terpenuhi dengan cara berusaha/bekerja. Oleh karena itu allah tidak akan memberikan rizki kepada hambanya yang tidak mau berusaha.
Rasulullah Saw sebagai seorang utusan Allah beliau juga tetap bekerja untuk memenuhi nafkah keluarganya walaupun seandainya beliau berdoa meminta kepada Allah pasti dikabulkan. Namun hal tersebut tidak menjadikan beliau tidak bekerja. Karena Allah menyukai hambanya yang mau bekerja dengan tekun.
Seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda :“Allah selalu mengasihi orang mukmin yang tekun bekerja, memenuhi nafkah keluarganya,dan sebaliknya Allah tidak menyukai orang yang tidak bekerja serta tidak melakukan amal akhirat padahal dia dalam keadaan sehat”.
Menjaga Wibawa dengan Bekerja
Di lain sisi orang yang mau bekerja juga akan terjaga kehormatan dan wibawanya. Serta tidak menyusahkan orang lain. Sebaliknya jika seseorang suka-suka meminta-minta dan tidak mau berusaha maka Allah Swt akan membukakan pintu kemiskinan untuknya dan turunlah kehormatan serta kewibawaannya seperti yang sudah disabdakan oleh Rasulullah:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ حَدَّثَنِي قَاصُّ أَهْلِ فِلَسْطِينَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنْ كُنْتُ لَحَالِفًا عَلَيْهِنَّ لَا يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ فَتَصَدَّقُوا وَلَا يَعْفُو عَبْدٌ عَنْ مَظْلَمَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا و قَالَ أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ بِهَا عِزًّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْتَحُ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya berkata, telah menceritakan kepadaku seorang pendongeng dari palestina, dia berkata, saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiga hal, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, jika memang aku terpaksa untuk bersumpah; Tidak akan berkurang harta karena sedekah maka bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan perbuatan kezaliman karena mengharap ridha Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. – Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim berkata, “Kecuali Allah akan menambah kewibawaannya pada hari kiamat.-Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kepada orang lain kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.”
Ajaran Rasulullah
Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berusaha bekerja walaupun hasilnya sedikit. Selama hasil usaha sendiri dan tidak meminta-minta. Selain itu bekerja merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh para nabi dan salafus shalih dahulu seperti yang difirmankan oleh Allah:
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ. أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“… Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (yakni Daud); (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan”. [Saba’/34:10-11].
Ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa para nabi yang menjadi kekasih Allah pun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan nafkah keluarganya. Seperti Nabi Daud yang bekerja sebagai tukang pandai besi. Selain Nabi Daud juga ada nabi-nabi lain yang bekerja. Seperti Nabi Muhammad sebagai pedagang, Nabi Zakaria sebagai penjual kayu, dan Nabi Ibrahim sebagai pedagang kain.
Maka kita sebagai hamba Allah yang banyak dosa juga harus bekerja untuk menafkahi keluarga. Karena sesungguhnya Allah tidak akan memberi rizki kecuali seseorang tersebut mau bekerja atau berusaha dan disertai dengan doa.
Kisah Sahabat yang Diminta Bekerja Oleh Rasul
Diriwayatkan dari Anas bahwasanya ada seseorang meminta-minta kepada Rasulullah, kemudian Rasul bertanya kepada orang tersebut, ‘’Apakah kamu sudah tidak punya apa-apa di rumahmu?. Kemudian dijawab olehnya ‘’ Tidak ada apapun dirumahku kecuali piring untuk makan-minum dan tikar yang sudah sobek untuk alas tidur dan duduk’’.
Kemudian Rasulullah berkata, ‘’Bawalah kemari barang-barang itu’’. Sahabat tersebut lantas pulang dan mengambil barang-barang yang dia miliki untuk diserahkan kepada Rasulullah. Kemudian Rasul menawarkan barang-barang tersebut untuk dijual kepada para sahabat lain yang berada di situ, setelah berhasil menjualnya Rasulullah memberikan uang hasil penjualan tadi sejumlah dua dirham kepada pemilik barang dan berkata kepadanya,
‘’Gunakan uang ini 1 dirham untuk menafkahi keluargamu 1 dirham lainya untuk membeli kapak dan gunakanlah kapakmu untuk mencari kayu. Setelah itu juallah kayumu dan kembalilah kesini setelah 15 hari’’.
Pulanglah sahabat tersebut dan melaksanakan perintah Rasulullah hingga terhimpun uang 10 dinar yang dia gunakan untuk menafkahi keluarganya. Setelah 15 hari dia kembali mengunjungi Rasulullah. Kepadanya Rasulullah berkata, ‘’Hal ini lebih baik bagimu daripada meminta-minta karena sesungguhnya orang yang meminta-minta kelak di hari kiamat akan timbul titik hitam di wajahnya yang tidak akan bisa hilang kecuali dengan api neraka.
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply