Ulul albab adalah diantara lafaz yang sering disebutkan dalam al-Quran. Secara harfiah, ulul albab terdiri dari kata ulu dan albab. Ulu artinya yang memiliki, albab sebagai jama dari lubbun yang berarti saripati. Saripati sebagai inti dan hakikat segala sesuatu. Maka dari itulah, makna ulul albab sangatlah dalam.
Ulul albab disebutkan di dalam al-Quran sebanyak 16 kali. Terdapat pada 10 surat, 8 ayat makkiyah dan 8 ayat madaniyyah. Kelompok ayat makkiyah terdapat pada surat Yûsuf/12: 111; Ibrahim/14: 52; Shãd/38: 29 dan 43; al-Zumar/39: 18 dan 21; dan Ghãfir/40: 54.
Sedangkan ayat madaniyyah terdapat pada surat alBaqarah/2: 179, 197 dan 269; Ali Imran/3: 7 dan 190; al-Mãidah/5: 100; alRa’d/13: 19 dan al-Thãlaq/65: 10.
Dalam sebuah jurnal yang berjudul, “Ulul Albab dalam Al-Quran” yang ditulis oleh Firdaus, dijelaskan mengenai ulul albab. Berikut rinciannya.
Makna Ulul Albab
Selama ini, yang tergambar dari ulul albab lazimnya didefinisikan sebagai cendekiawan, ulama, maupun intelek. Padahal definisi tersebut belum menyentuh hakikat ulu al-albab. Ulul albab adalah bahasa al-Quran yang memiliki makna yang lebih dalam. Bahkan mencakup seluruh makna yang terkandung dalam ketiga istilah di atas. Sehingga untuk mencari kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang mampu menyerap seluruh kandungan makna tersebut, tidak ditemukan padanannya.
Yang dimaksud ulul albab adalah orang yang memiliki akal; hati; pemahaman dan wawasan yang luas; intelektual yang tinggi; pengetahuan yang mendalam; serta yang memiliki kebijaksanaan. Seluruh sifat itu menyatu dalam kepribadiannya.
Selain itu juga seorang ahli fikir dan dzikir, yang menggambarkan dirinya sebagai kaum intelek yang saleh dan bertakwa. Hanya dialah yang hati dan akalnya dimaksimalkan di jalan Allah dan dikembangkan sebagai wujud ibadah dan bentuk rasa syukur kepada Allah.
Karakteristik
Ulul albab dapat disamakan dengan intelektual yang plus, yakni kecerdasan yang juga diimbangi dengan ketakwaan dan kesalehan. Di dalam dirinya terdapat tanda-tanda yang dijelaskan dalam al-Quran, diantara tanda itu meliputi:
Pertama, berbekal dengan takwa dan iman yang kokoh. Sebab ia adalah seorang manusia prestisius di akhirat dengan menyandang gelar akram (paling mulia) berkat ketakwaannya. Tidak hanya berbekal takwa, tapi juga keimanan yang kokoh karena kuatnya tauhid yang tertanam diperluat dengan amalan doa yang dalam surah Ali Imran digambarkan sebagai figur yang selalu berdoa agar hatinya diteguhkan dalam jalan yang benar dengan mengatakan:
Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana (Ya Tuhan kami, jangan kau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami).
Kedua, mampu membedakan yang baik dan yang buruk lalu mengikuti yang baik. Sebagai konsekuensinya, ulul albab adalah yang memiliki kemampuan dalam membedakan yang baik dan buruk, yang semua itu hanya bisa diperoleh oleh seorang yang berilmu. Lebih dari sekedar berilmu, figur ulul albab juga sebagai yang mampu mengamalkan hal baik yang tidak ketahui. Sebab tidak semua orang berilmu yang tahu baik dan buruk mau mengamalkan hal baik yang diketahuinya.
Ketiga, mampu menganalisis ajaran-ajaran atau teori-teori yang didengarkannya. Hal ini menggambarkan sisi intelektualnya yang bisa berkontribusi berupa sumbangsih ilmu yang didalaminya untuk kemajuan pendidikan dan peradaban Islam. Misalnya seperti kegiatan ulama terdahulu yang selalu menuangkan pemikirannya melalu banyak karya yang menambah khazanah keilmuan sekaligus mengukuhkan ulul albab yang sudah melekat dalam aspek intelektualnya.
Ketiga, sabar, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian hartanya. Dengan kata lain, figurnya juga sebagai yang taat menjalankan ajaran agamanya. Betapa menjadi seorang yang berilmu itu adalah ujian yang berat. Banyak yang tidak lulus dari ujian kesombongan, serta tidak mengamalkan keilmuannya. Namun seorang yang ulu al-albab akan senantiasa komitmen dan taat dengan ajarannya, bersih dari sifat sombomg dan sentiasa mengamalkan ilmunya.
Ulul Albab dalam Konteks Masa Kini
Sabar dan shalat sebagai manifestasi bahwa dirinya totalitas menghamba kepada Allah, tidak menuhankan keilmuannya karena menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya adalah pemberian dari Allah yang sangatlah dangkal jika dibanding ilmu Allah yang luas. Ilmu yang dimilikinya semata-semata dipersembahkan untuk agamanya. Hartanya pun sebagai media beribadah dengan selalu menginfakannya.
Dari penjelasan di atas, ulu al–albab dalam konteks saat ini adalah seorang yang kompeten di bidang iptek dan imtaq. Hal ini mengisyaratkan betapa tidak mudahnya figur ini di masa sekarang. Demam teknologi bagi seorang intelektual plus bukanlah sesuatu yang bisa menjauhkannya dari ketaatan kepada Allah.
Justru sebagai ladang pahala dalam mengakses kemudahan pengetahuan dengan mengkaji ilmu dengan lebih apik dan hati-hati, di samping menjaga diri dari dampak negatif dengan selalu menyibukan diri dengan hal positif serta menautkan hati dan seluruh segi kehidupannya semata-mata untuk beribadah kepada Allah.
Demikian mengenai beberapa tanda ulul albab dalam al-Quran. Bukan sekedar seorang yang intelek dan cendekia, tapi juga seorang yang bijaksana, takwa, dan saleh, menggambarkan kecerdasan yang paripurna dalam pribadi seorang muslim.
Penyunting: Bukhari
Wallah a’lam


























Leave a Reply